Sejak reformasi dicanangkan di tahun 1998, Politeknik di Indonesia hampir tidak terdengar kiprahnya, bahkan gelegarnya seolah mati tertelan bumi.

Kenapa demikian?

Alasannya sederhana, Politeknik dianggap sebagai Perguruan Tinggi (PT) kelas bawah yang memiliki lulusan tidak bergelar, sehingga lulusan politeknik tidak memiliki kebanggaan layaknya lulusan PT umum yang memiliki sejumlah gelar kesarjanaan seperti Insinyur (Ir), Dokter (dr), Sarjana Hukum (SH), Sarjana Ekonomi (SE) dan sebagainya. Akibatnya sebagian lulusan politeknik berusaha melanjutkan ke PT untuk memperoleh gelar kesarjanaan tertentu. Demikian pula, hingga saat ini Politeknik kurang peminat sehingga jumlah pertumbuhan kelulusannya mengalami hambatan. Pangkalan Data Perguruan Tinggi (2015) mempublikasi, jumlah Politeknik hanya sebanyak 262 institusi dari sejumlah 4300 PT, atau hanya sekitar 6% dari seluruh jumlah PT di Indonesia. Dan dari jumlah itu, 63% dikelola swasta, 17% negeri dan 20% dikelola kedinasan. Data itu menegaskan bahwa minat lulusan sekolah menengah atas masuk politeknis sangat terbatas dibanding masuk perguruan tinggi umum, disisi lain Politeknik yang dikelola swasta menunjukkan dominan. Data yang sama menunjukkan jumlah mahasiswa Politeknik saat ini sebesar 234.495 mahasiswa, jauh dibawah jumlah mahasiswa diperguruan tinggi yang berjumlah sekitar 10 juta mahasiswa.

Politeknik adalah penyelenggara pendidikan tinggi dengan bidang pengetahuan khusus, bertujuan agar lulusannya dapat bekerja secara profesional dalam keahlian tertentu. Politeknik memberikan pengalaman belajar dan latihan yang cukup untuk membentuk kemampuan profesional dan terampil di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan demikian, Politeknik harus dapat memberikan pendidikan dan pengajaran vokasi setingkat Pendidikan Tinggi, program Diploma dan Profesi/Spesialis, serta sebagai Pusat penciptaan, pengembangan dan penyelenggaraan Iptek.

Politeknik kini menjadi penting ketika Presiden RI mengemukakan pendapatnya tentang Politeknik, antara lain Politeknik di indonesia sebaiknya memiliki sistem seperti politeknik yang ada di Jerman, ini berarti menegaskan bahwa lulusan Politeknik harus bisa membuat, merekayasa, mengelola produk iptek, namun juga harus bisa mengembangkan secara kreatif sehingga produk iptek menjadi lebih sempurna. Dengan kata lain bahwa Politeknik tidak boleh hanya melamun,hanya paparan konsep dan produk berupa jurnal tapi juga harus mengasilkan produk inovatif yang efisien, murah, kuat dan aman serta siap masuk ke pasar. Jika itu yang dimaksud, maka sebuah Politeknik tidak cukup hanya berkutat di tingkat kesiapan Teknologi saja, tetapi juga harus bergerak secara cepat mengembangkan pasar, menyiapkan organisasi dan tata-kelola, memperluas jaringan pasar, jaringan inovasi dan klaster industri, mengembangkan kerjasama serta mempu mengelola manajemen resiko. Dan bahkan kemampuan teknopreneurship juga menjadi faktor penting mendongkrak kapasitas Politeknik.

Politeknik di Indonesia saat ini??..

Pada umumnya di negara seperti Canada, Meksiko serta beberapa negara Eropa, termasuk Indonesia, Politeknik sendiri sering disamakan dengan institut teknologi, tetapi bedanya politeknik tidak mengeluarkan lulusan bergelar Sarjana sebagaimana Institut Teknologi yang ada di Indonesia, melainkan Diploma, kebanyakan Politeknik mengeluarkan lulusan yang bergelar Diploma III, yang ditempuh dalam 3 tahun. Disamping jenjang pendidikan, perbedaan antara Politeknik dengan Universitas terjadi pada kurikulumnya, jika Universitas lebih menekankan pada suatu teori, konsep dan perkembangan keilmuan kedepan serta minim praktik langsung lapangan/industri, maka Politeknik hampir 75% Praktik dilapangan dengan menekankan aplikasi keilmuan. Politeknik merupakan salah satu bentuk perguruan tinggi selain akademi, intitusi, sekolah tinggi maupun universitas di Indonesia. Banyak politeknik yang berprestasi mengalahkan Universitas. Mahasiswa Politeknik yang berprestasi dibidang teknologi, diantaranya adalah Politeknik Negeri Bandung yang pernah meraih gelar juara robotik tingkat internasional, mengalahkan Universitas.

Dibawah ini disajikan contoh 8 (delapan) Politeknik yang memiliki prestasi menonjol di Indonesia mewakili 262 Politeknik lainnya yang tersebar di tanah air, yaitu :

1. Politeknik Manufaktur Negeri Bandung (Polman-Bandung)
Politeknik Manufaktur Negeri Bandung (Polman-Bandung) dahulu bernama Politeknik Mekanik Swiss (PMS-ITB) merupakan Politeknik tertua di Indonesia, berdiri sejak tahun 1976 merupakan hasil kerjasama bilateral antara pemerintah RI dalam hal ini diwakili oleh ITB dan pemerintah Konfederasi Swiss, yang berakhir pada tahun 1995. Pengelolaan Polman-Bandung didukung melalui pendanaan dari APBN, pinjaman ADB dan Bank Dunia serta proyek-proyek DIP, IGI dan TPSDP. Polman saat ini terdapat program D3 dengan program studi antara lain; Teknik Pemeliharaan Mesin, Teknik Pembuatan Perkakas Presisi, Teknik Mekanik Umum, Teknik Perancangan Mekanik Umum, Teknik Pengecoran Logam, Teknik Perancangan Mekanik Umum, Teknik Mesin Dan Manufaktur.

2. Politeknik Negeri Bandung (Polban):

Politeknik Negeri Bandung (Polban) semula bernama Politeknik Institut Teknologi Bandung, namun sejak tahun 1999 tidak lagi di bawah naungan ITB lagi sehingga namanya berubah menjadi Politeknik Negeri Bandung, terletak di Jl Gegerkalong Hilir. Ada tiga program dalam politeknik ini, yakni (1). kelompok Rekayasa yang meliputi Jurusan Teknik Sipil, Teknik Mesin, Konvensi Energi dan lain-lain, (2). Kelompok Tata Niaga meliputi Jurusan Akuntansi, Administrasi Niaga dan (3). Bahasa Inggris, serta D4 L yang meliputi program ektensi yang dikhususkan untuk D3 yang telah memiliki pengalaman kerja.

3. Politeknik Negeri Jakarta (PNJ):
Politeknik Negeri Jakarta, dulu bermula dari Fakultas non gelar teknik Universitas Indonesia (FNGT-UI), yang kemudian menjadi Politeknik Universitas Indonesia.

Sepanjang bulan Mei 2916 ini bidang kerjasama Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) telah melakukan Memorandum of Understanding (MOU) dengan beberapa perusahaan antara lain PT. DSS, PT BNGL dan PT BRP. Program Studi yang ada di Politeknik Negeri Jakarta adalah Teknik sipil, Teknik Elektro, Teknik Mesin, Teknik Informatika dan komputer, Teknik Grafika dan Penerbitan, Akuntansi dan administrasi

4. Politeknik Negeri Medan:
Pada tahun 1979 Universitas Sumatera Utara ditetapkan sebagai salah satu dari 6 Universitas/Institut yang mendapat proyek pembangunan Pendidikan Politeknik Tahap I dari DIKTI, dengan nama Politeknik Universitas Sumatera Utara (Politeknik USU) Medan. Pembangunan Politeknik USU dibiayai oleh Bank Dunia (World Bank). Pada tahun 1997 Politeknik USU Medan secara resmi menjadi Politeknik mandiri dengan nama Politeknik Negeri Medan (Polmed).

5. Politeknik Negeri Samarinda.
Semula Politeknik Negeri Samarinda adalah sebuah perguruan tinggi negeri yang terletak di Kota Samarinda, Kalimantan Timur, Indonesia, bernama Politeknik Universitas Mulawarman. Politeknik Negeri Samarinda memiliki Program Studi Diploma IV dan program studi Diploma III. Untuk diploma IV memiliki konsentrasi : Teknik Sipil Rekayasa jalan dan Jembatan, Akuntansi Manajerial, Pemasaran. Untuk Doploma III : Akuntansi, Administrasi Bisnis, Pariwisata (konsentrasi Perhotelan dan Usaha Perjalanan Wisata), Teknologi Informasi, Teknik Mesin (konsentrasi Mesin Perawatan dan Mesin Produksi), Teknik Alat Berat, Teknik Elektro, Teknik Sipil Bangunan Gedung, Desain Prodi Arsitektur, Teknik Kimia, Nautika, Teknika, Ketatalaksanaan Pelayaran Niaga dan Kepelabuhan (Administrasi Pelabuhan)

6. Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS).
PENS dimulai pada tahun 1985. Saat itu, tim studi awal Japan International Cooperation Agency (JICA) untuk bantuan dan kerjasama teknik yang didorong oleh Tokyo Institute of Technology, datang ke politeknik ini. Setelah melakukan pengamatan dan studi kelayakan di tahun 1986, JICA menyetujui untuk memulai kerjasama teknik di tahun 1987, serta gedung kampus kepada pemerintah Indonesia lengkap dengan berbagai peralatan pendidikan. Penataan ulang Politeknik ini merubah nama, visi dan misi menjadi “Politeknik Elektronika Surabaya (PES)” dan selanjutnya berubah menjadi Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS). Politeknik ini menonjol dibidang elektronika terutama dibidang robotika.

7. Politeknik Negeri Malang (Polinema):
Politeknik Negeri Malang (Polinema) adalah salah satu institusi pendidikan yang menawarkan berbagai program studi baik dalam bidang rekayasa maupun jasa. Saat ini Polinema memiliki 6 jurusan dan 17 program studi dengan program diploma 3 dan diploma 4. Sistem pendidikan di Polinema fokus pada mempersiapkan lulusan dengan ketrampilan dan kompetensi yang dibutuhkan industri. Sistem pendidikan di Polinema terdiri dari 40% teory dan 60% praktek melalui Kurikulum Berbasis Kompetensi 5+1 untuk mahasiswa diploma 3, dan 7+1 bagi mahasiswa diploma 4, dengan penekanan di bidang soft skill diarahkan untuk mencapai karakter kejujuran, kepemimpinan, kedisiplinan, kerjasama tim, dan kecerdasan dalam bekerja (works smart). Politeknik ini menonjol dibidang

8. Politeknik Negeri Batam:
Pada awalnya Polibatam merupakan Perguruan Tinggi Swasta di bawah Yayasan Pendidikan Batam yang beranggotakan Otorita Batam, Institute Teknologi Bandung, Pemerintah Kota Batam, dan Universitas Riau. Memperoleh penugasan dari Dirjen DIKTI untuk membuka 5 Program Studi baru; D-4 Teknik Mekatronika, D-4 Teknik Multimedia & Jaringan, D-4 Akuntansi Manajerial, D-4 Administrasi Bisnis dan D-3 Teknik Mesin, dan penerapan program Pengakuan Pembelajaran Lampau (PPL) untuk Program Studi Informatika. Politeknik ini memiliki spesialisasi dibidang elektronika terutama pembuatan microchip dan sejenisnya.

Politeknik di atas merupakan contoh dari sejumlah 262 politeknik yang ada di Indonesia, menegaskan bahwa Indonesia mampu membangun dirinya sendiri paling tidak bila ditinjau dari aspek kesiapan sumber daya manusianya.

Apa yang harus dilakukan??..

Percepatan pembangunan di segala bidang dan sektor menuntut sumberdaya manusia yang memiliki skill dan kemampuan tinggi baik ditingkat perencanaan, pelaksanaan dan tata kelola, tidak hanya dalam hal pembangunan infrastruktur tetapi juga ketika infrastruktur tersebut harus beroperasi dan menghasilkan suatu produk industri. Hal ini tentu akan memerlukan tenaga terampil dan handal. Politeknik yang mengutamakan praktek lapangan akan lebih siap terjun dalam dunia industry dan lebih cepat mampu beradaptasi karena ketika di kampus telah diberi sejumlah pelatihan teknis yang memadai. Dari potensi yang sangat kuat dibidang sumberdaya manusia yang diproduk oleh 262 Politeknik di Indonesia, maka pemerintah perlu mempertimbangkan dengan serius terhadap kebijakan pembangunan dengan tenaga kerja dari luar negeri.

Kuncinya adalah peningkatan kolaborasi, koordinasi serta kerjasama sinergis antar kementerian, politeknik serta dunia usaha/Industri yang ada di Indonesia, untuk lebih melihat secara lebih dalam atas potensi sumberdaya manusia yang ada di dalam negeri. Dengan cara ini, masyarakat professional dan terampil Indonesia tidak menjadi penonton pembangunan tetapi menjadi pelaku pembangunan. Jika itu dilakukan maka kemandirian dan kedaulatan dibidang ekonomi akan semakin nyata, masyarakat akan cepat terlepas dari lower dan middle Income Trap yang saat ini sedang menghantui Indonesia.

Insha Allah potensi sumberdaya manusia Indonesia produk Perguruan tinggi, Politeknik dan bahkan SMK, mampu berkontribusi menjadi tenaga profesional dan berkemampuan teknis tinggi dalam rangka mendukung seluruh sector dan bidang pembangunan. Marilah kita bersama membangun negeri agar kita benar-benar menjadi bangsa yang berdaulat dalam politik, mandiri dalam ekonomi dan berkepribadian dalam budaya.

Oleh : Dr. Agus Puji Prasetyono, Staf Ahli Bidang Relevansi dan Produktivitas, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi.