Peneliti di Indonesia masih sangat sedikit. Dengan begitu perlu upaya khusus untuk meningkatkan jumlah peneliti di Tahan Air.

Menristekdikti M. Nasir mengungkapkan, dari keseluruhan dosen di Indonesia, baru 12-14 persen yang sudah melakukan penelitian. Dengan melihat catatan ini, maka ada pekerjaan rumah yang besar yang perlu diselesaikan.

“Bergabungnya riset teknologi dan pendidikan tinggi dengan BPPT dan Batan, maka bisa dilakukan rekayasa terkait jumlah peneliti ini,” ujar Nasir dalam Pembukaan Rapat Kerja (Raker) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Gedung LIPI, Jakarta, Rabu (2/3/2016).

Sementara itu, produksi jurnal ilmiah di Indonesia juga masih minim. Tahun lalu, hanya sekira 4.500-5.500 jurnal yang dihasilkan akademisi dan peneliti Tanah Air. Jumlah tersebut, kata Nasir, masih sangat sedikit bila dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia.

“Karena itulah, demi mendorong banyaknya peneliti melakukan penelitian dan membuat jurnal di skala internasional, Kemenristekdikti memberikan bonus. Terutama bagi peneliti yang berhasil membawa karyanya ke jurnal ilmiahnya dengan impact factor tinggi,” tutur Nasir.

Selain mendorong lahirnya peneliti dan berbagai riset baru di Tanah Air, Nasir juga menyoroti hambatan-hambatan yang kerap dihadapi peneliti. Salah satunya, tanggung jawab melakukan berbagai kerja administratif seperti membuat laporan keuangan.

“Akibatnya peneliti disibukkan dengan aktivitas tersebut dan bukan pada risetnya. Jika hal ini tidak bisa diubah, maka dunia penelitian Indonesia tidak akan maju. Karena itu, kita ubah dasarnya pada keluaran penelitian tersebut,” imbuhnya.

Melalui rapat kerja LIPI ini, Nasir berharap para peneliti dan akademisi Tanah Air bisa menghasilkan suatu dampak yang bisa berguna bagi kemajuan ilmu pengetahuan di Indonesia.

“Mudah-mudahan ilmu pengetahuan Indonesia bisa segera go international,” tutup Nasir. (dwi/bkkpristekdikti)

Galeri