Sabtu (23/1) Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir menghadiri Rapat Terbuka dalam rangka pemberian gelar doktor kehormatan (Doktor Honoris Causa) kepada Chairman Garuda Food Group Sudhamek AWS yang dilaksanakan di Gedung Perpustakaan Notohamidjojo Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga. Acara ini juga dihadiri oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Rizal Ramli, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Franky Sibarani, Menteri Perindustrian Saleh Husin, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi M. Hanif Dhakiri, Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Marwan Jafar, perwakilan dari asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), serta sejumlah rektor perguruan tinggi negeri dan swasta di lingkungan Jawa Tengah.

Gelar doktor kehormatan (Doktor Honoris Causa) adalah gelar kehormatan yang diberikan oleh suatu perguruan tinggi kepada seseorang yang dianggap telah berjasa dan atau berkarya luar biasa bagi ilmu pengetahuan, teknologi, seni, sosial, budaya, dan atau berjasa dalam bidang kemanusiaan dan atau kemasyarakatan.

Rektor Universitas Kristen Satya Wacana John A. Titaley menganugerahkan gelar doktor kehormatan kepada Chairman Garuda Food Group Sudhamek AWS dalam bidang Manajemen atas keberhasilannya menerapkan Spiritually-Based Company (SBC) atau “Perusahaan Berbasis Spiritual” sebagai budaya perusahaan. Sudhamek dianggap berkontribusi dalam bidang ilmu pengetahuan, khususnya studi manajemen serta dunia usaha indonesia karena dapat menjadi role model dalam perindustrian indonesia.

Dalam sambutannya Menristekdikti mengatakan bahwa terdapat peraturan menteri yang bermasalah dimana salah satunya mengenai tahap proses pembelajaran program magister dan doktor. Dalam peraturan menteri tersebut menerangkan bahwa untuk mencapai gelar program magister dan doktor diperlukan minimal 72 sks, hal ini menyebabkan perguruan tinggi kita tidak mampu berkompetisi dengan perguruan tinggi luar negeri dalam menghasilkan lulusan S2 dan S3. Kemenristekdikti melalui Direktorat Jenderal Sumberdaya Iptek dan Dikti dan Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan membuat peraturan menteri baru guna memperbaiki sistem pembelajaran Indonesia dimana untuk mencapai gelar magister hanya dibutuhkan minimal 36 sks dan gelar doktor hanya dibutuhkan minimal 42 sks.

Dalam kesempatan ini, Menteri Nasir juga memperkenalkan Program Pendidikan Magister Menuju Doktor untuk sarjana Unggul (PMDSU). PMDSU merupakan terobosan pendidikan dalam memenuhi pembangunan nasional akan SDM unggul. Program PMDSU mempercepat waktu pendidikan doktoral bagi sarjana unggul yangs semula rata-rata 6 tahun menjadi 4 tahun. Diharapkan PMDSU bisa menjadi program yang tidak hanya menghasilkan lulusan unggul juga dapat menghasilkan temuan-temuan yang memperkuat inovasi dan daya saing bangsa. (dwi/bkkpristekdikti)