Lokakarya Instruktur Pendidikan Profesi Guru di LPTK begitu inspiratif. Peserta terbawa dalam suasana pembelajaran yang aktif, dinamis, dialogis, dan partisipatif. Tak ada jarak antara instruktur dan peserta. Semua melebur menjadi subjek pembelajar. Betapa tidak, pendekatan mutli metode yang diterapkan kaya akan ice breaking dan game edukatif. Kelas pun menjadi riang karena “disulap” menjadi ruang belajar dan bermain.
“Kami sengaja mendesain lokakarya seperti di atas agar peserta dapat saling berinteraksi, berbagi ide, bertukar pandangan, bahkan berdebat untuk mencari solusi dari berbagai permasalahan LPTK,” ungkap Ajar Budi Kuncoro, University and Stakeholder Coordination Senior Manager USAID PRIORITAS, Semarang (16-18/12/2015).

Tidak heran jika Paristiyanti Nurwardani, Direktur Pembelajaran Ditjen Belmawa Kemristekdikti memanfaatkan forum ini untuk ajang diskusi dan bertukar informasi, pengetahuan, serta kebijakan pemerintah. Informasi terkait LPTK, akreditasi, revitalisasi LPTK, kerjasama dan kegiatan pembelajaran di pendidikan tinggi menjadi dialog yang menarik dalam lokakarya itu.

Lokakarya ini dibuka oleh Wakil Rektor IV Universitas Negeri Semarang (Unnes) Prof. Y.L. Sukestiarno. Sebanyak 39 dosen PGSD FKIP Unnes dan Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang hadir dalam kegiatan yang dipandu oleh 9 instruktur. Para instruktur berasal dari Unnes dan UIN Walisongo Semarang yang juga pernah mengikuti program Diklat dalam dan luar negeri.
Selain diskusi interaktif, peserta melakukan beragam aktivitas pembelajaran, meliputi simulasi dalam penggunaan pembelajaran aktif, jurnal refleksi, pengembangan lembar kerja, dan penilaian autentik bagi mahasiswa/siswa, dan portofolio. Semua aktivitas ini dilaksanakan secara dengan baik.
Dengan berkolarabosi dengan USAID PRIORITAS, Kemristekdikti berharap kompetensi para dosen akan meningkat dan mampu menerapkannya dalam pembelajaran bagi mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG). “Dosen LPTK merupakan ujung tombak dalam menyajikan pembelajaran mahasiswa PPG secara berkualitas dan melahirkan guru-guru yang profesional,” ungkap Paristiyanti. (HS/belmawa: editor Fb/L4)