SIARAN PERS
No.  /SP/HM/BKKP/VI/2016

Bogor, 21 Juni 2016

Kebutuhan akan daging lokal kian meningkat, seiring dengan baru ditetapkannya harga daging sapi berkisarantara 85-100 ribu rupiah per kg. Bentuk dukungan dari pemerintah guna mengurangi impor untukmensejahterahkan rakyat adalah melaui swasembada daging sapi lokal. Itu sebabnya dalam rangka menciptakan sinergitas, dibutuhkan seluruh lini triple helix, yakni hadirnya pemerintah sebagai regulator, adanya kerja sama swasta sebagai pelaku industri, serta kontribusi dari para peneliti sebagai mitra untuk berdiskusi, uji coba dan penguatan data. Diharapkan mampu mendukung terciptanya kerja sama yang harmonis.

Dalam program kerja sama yang efektif untuk menuju swasembada sapi dilakukan dengan perpaduan riset antara pihak swasta dan peneliti, seperti yang diterapkan PT. KAR dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Rumpin. Dalam kunjungan ke PT KAR di Desa Rabak, Kecamatan Rumpin, Bogor, Jawa Barat, Presiden RI Joko Widodo bersama dengan Menristekdikti, Mentan dan Menteri BUMN meninjau ke tempat penggemukan sapi atau feedloter milik PT KAR.

Disitu juga Presiden menyaksikan penandatanganan Nota Kesepahaman antara Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi dengan Menteri Pertanian tentang Riset, Pengembangan, dan Implementasi Inovasi bidang Pertanian. PT KAR adalah salah satu tempat pembibitan sapi lokal yang dapat mengembangkan pembibitan sapi lokal unggul yang berkualitas. Dalam proses pengembangan sapi ini, Jokowi menyatakan  harus dilakukan seleksi untuk mendapatkan sapi-sapi yang memiliki performa baik. Sapi-sapi unggul itulah yang dapat dipakai untuk menghasilkan sperma yang akan dibagikan baik ke industri maupun petani.

Sinergitas kerja sama swasta dan LIPI demikian disampaikan oleh Pak Karnadi Winaga, bahwa “Data itu tidak pernah kita ketemu, makanya itu kami dengan peneliti bisa berjalan baik, paling menunjang, karena kami data-data ini kami bisa gunakan oleh LIPI menjadi bahansehingga ini kedepannya akan baik.”

Beliau menambahakan bahwa ketersediaan data yang menyebabkan sapi-sapi lokal sehingga bisa banyak yang inbreeding atau kawin saudara. Dari situ akan tahu keunggulan masing-masing sapi, karena kalau tidak didukung data, maka tidak tahu ini induknya siapa, berasal dari mana, dan akan sulit kedepannya.

Dukungan moral juga diperkuat oleh Mohamad Nasir sebagai Menristekdikti, beliau berpendapat bahwa “Ada satu riset tentang penyiapan sapi, di mana sapi ini diharapkan kalau kita kembangkan betul dan kita aplikasikan itu, lima tahun saya yakin komoditi mengurangi impor 15 sampai 20 persen lima tahun ke depan, tapi ini harus bersama-sama.”

##