Tren perkembangan kemajuan ekonomi berbasis teknologi digital yang berkembang pesat akhir-akhir ini terjadi khususnya dalam industri perdagangan, telah mengambil alih system konvensional. Proses transaksi ini dilakukan secara elektronik oleh konsumen maupun antar beberapa perusahaan dengan sistem komputer sebagai peralatan transaksi bisnis. E-Commerce merupakan pertukaran bisnis rutin menggunakan transmisi Electronic Data Interchange (EDI), email, electronic bulletin boards, mesin faksimili, dan Electronic Funds Transfer atas transaksi belanja di Internet shopping.  E-commerce saat ini terus tumbuh dan berkembang di seluruh dunia dan menjadi bagian signifikan dari pertumbuhan ekonomi global.  Firma konsultan bisnis dan manajemen AT Kearny menyatakan nilai penjualan global e-commerce  tahun 2015 mencapai lebih kurang 1 triliun dolar Amerika atau tumbuh sebesar 18% dibandingkan tahun 2014. Namun demikian  nilai penjualan e-commerce di negara – negara ASEAN kurang dari 1% total penjualan sektor industri retail.

Petani dan rendahnya posisi tawar

Maraknya teknologi digital untuk transaksi di bidang perdagangan di atas, sayangnya tidak diikuti dengan percepatan pemanfaatan teknologi yang sama di sisi hulu. Dalam bidang pertanian petani secara umum masih menggunakan system konvensional. Bahkan berbagai transaksi penting petani dilakukan secara tradisional, sehingga tidak jarang petani dirugikan, menjadi obyek para pedagang yang memiliki peralatan dan jaringan yang lebih baik dan luas. Petani “ijon” masih marak didengar di sebagian kalangan petani. Akibatnya, sebagian besar petani masih dalam kondisi melarat, hidup penuh kekurangan, tertinggal dan terpinggirkan. Di sisi lain pembangunan modern terus menerus menggerus lahan pertanian, yang berakibat pada semakin terpojoknya kehidupan petani. Sementara petani tidak memiliki daya untuk bertahan dalam menghadapi ganasnya kemajuan industri dan modernisasi kehidupan perkotaan.

Di sisi lain petani di Indonesia masih mengalami berbagai masalah. Masalah klasik yang sering muncul terutama dalam hal kebutuhan terhadap bibit, budidaya, penanggulangan hama, serta persoalan seputar panen dan pasca panen. Sementara itu pendapatan petani yang pada umumnya rendah disebabkan antara lain faktor kekurangan kebutuhan untuk hidup sehari-hari. Keadaan ini dimanfaatkan oleh pedagang untuk memberi sejumlah dana bagi keperluan hidup petani, akibatnya petani tergantung pedagang dan dengan itu harga produk petani sudah tidak lagi mampu bersaing di pasar bebas, melainkan harus disetor kepada pedagang yang telah memberi dana untuk keperluan hidup.

Petani sering mengalami kesulitan dalam mencari bibit unggul, akibat dari lemahnya ketersediaan, akses serta informasi yang didapat, sehingga produktivitas petani kurang menggembirakan. Masalah lain adalah terkait dengan penanggulangan hama, karena pengetahuan petani tentang teknologi ini masih lemah, pemilihan obat pembasmi hama sering menyebabkan kerugian dibagian lainnya, sehingga petani mengalami potensi gagal panen.

Pemakaian mesin yang kurang tepat dapat menyebabkan kerugian yang besar disaat panen padi karena terbuangnya sisa bulir gabah yang tersisa pada tangkainya saat berlangsungnya proses pemisahan antara biji gabah dengan batang padi. Ini dapat ditanggulangi dengan pemakaian mesin tepat guna sederhana yang sesuai. Penguatan kapasitas Iptek dan Inovasi bagi pelaku pasca panen komoditas pertanian sangat diperlukan dalam peningkatan nilai tambah produk pertanian yang tidak hanya sebatas pada kualitas hasil pertanian tetapi juga dalam persaingan harga yang kompetitif dan kecepatan delivery dalam menjangkau pasar.

Kendala di atas adalah sebagian di antara sejumlah kelemahan yang ada pada sisi petani yang terjadi hingga saat ini. Untuk menurunkan tingkat kelemahan diatas, tidak bisa tidak, sangat memerlukan perhatian dari berbagai kalangan termasuk pemerintah untuk mencari jalan keluar sehingga petani bisa berdaya, maju dan sejahtera. Ingat, bahwa petani adalah ujung tombak penyedia sembilan bahan pokok pangan yang sangat dibutuhkan negeri ini. Jika kelemahan itu bisa ditanggulangi maka kesejahteraan petani akan meningkat dan tentu akan menyempitkan disparitas kaya-miskin di Indonesia dan karena itu indeks “Gini Ratio” akan dapat diturunkan secara signifikan. Tetapi bagaimana caranya menurunkan kelemahan petani diatas?

“Smart Farming”

Sama seperti “e-commerce”, “smart farming” memanfaatkan teknologi informasi dalam melakukan proses pelaksanaan untuk mencapai target yang ditetapkan. Sedangkan bedanya adalah dalam lingkup kegiatan yang dilakukan. “E-commerce” pada umumnya melakukan transaksi jual-beli, tetapi dalam “smart farming” menampilkan informasi tentang peta dan data yang lebih kompleks terutama segala sesuatu yang diperlukan oleh petani dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari sehingga mempermudah, mempercepat, meningkatkan ketepatan sasaran serta mempercepat proses. Misalnya petani sangat memerlukan informasi cuaca setiap saat  karena dalam melakukan pengambilan keputusan terhadap pemilihan bibit, budidaya, penanggulangan hama memerlukan informasi suhu dan cuaca yang akurat.

Dalam hal bibit maka petani juga memerlukan informasi tentang spesifikasi lengkap bibit yang akan ditanam atau ternak yang akan dipelihara. Unsur hara tanah pertanian yang secara spesifik berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya memerlukan pemetaan secara rinci. Jika hal ini bisa dilakukan secara geospasial maka akan mempermudah petani dalam mengupayakan pemilihan jenis tanaman dan pemupukan, sehingga dapat memastikan hasil yang lebih baik dan produktif.

Begitu pula dalam hal cara budidaya, penanggulangan hama, panen dan pasca panen. Pemanfaatan teknologi informasi pada petani akan menjadikan petani lebih berdaya saing, mandiri dan sejahtera. Namun sejumlah fariabel yang harus dipersiapkan segera terutama adalah infrastruktur teknologi informasi yang cukup, tower transmisi informasi berbasis digital perlu dikembangkan di daerah pedalaman, terpencil dan pedalaman dan pantai agar seluruh wilayah pertanian, perikanan serta peternakan tercover teknologi informasi.

Selanjutnya petani perlu diajarkan tentang teknologi digital termasuk system “smart farming” ini melalui aplikasi dalam gadget yang dimiliki sehingga para petani dapat melakukan transaksi secara mandiri sesuai kebutuhan. “E-commerce” perlu diintegrasikan dengan system ini agar akses pasar dan kebutuhan petani seperti pupuk, peralatan pertanian, pakan dan lain-lain dapat diakses dengan mudah.

Jika petani punya peta digital tentang jenis komoditas pertanian, ketersediaan bibit yang sesuai, peta cuaca, peta unsur hara serta system analisis cost-benefit yang terintegrasi dalam sebuah system yang dapat dibaca secara sederhana, maka dengan mudah petani dapat mengambil keputusan cepat terhadap pilihan-pilihan jenis tanaman yang harus dibudidayakan dengan efektif dan efidsien.

Langkah lanjut..

“Digicop” yang saat ini sedang dikembangkan systemnya oleh Institut Teknologi Bandung berupa gadget bersistem android yang secara gratis dibagi kepada konsumen dengan hanya menjadi anggota koperasi dapat dikembangkan secara integratif dengan system ini.

Sebagai putra terbaik dari unsur akademisi, peneliti dan perekayasa dari Perguruan Tinggi, Lembaga litbang serta para pelaku Industri, marilah kita secara bersama-sama, komprehensif terintegrasi mengembangkan dan memanfaatkan hasil riset teknologi digital untuk memberdayakan, meningkatkan daya saing dan kesejahteraan petani melalui system “smart farming” sebagai perwujudan implementasi “Nawacita” yaitu membangun Indonesia dari desa, pinggiran dan pedalaman. Inshaallah dengan cara ini kemiskinan akan bisa ditanggulangi, sekaligus memastikan terwujudnya masyarakat adil dan makmur di rumah kita sendiri, Bumi Pertiwi yang bernama Nusantara.

oleh: Agus Puji Prasetyono

sumber: http://indonews.id/smart-farming-jalan-pintas-memberdayakan-petani/