Gema persaingan bebas telah dimulai, hal tersebut merupakan pertanda bahwa bangsa kita telah memasuki titik awal dari sebuah kompetisi. Pertarungan tersebut merupakan pertaruhan untuk mencapai kemenangan dari sebuah persaingan tanpa batas menuju cita cita menjadi bangsa yang sejahtera dan mandiri, atau sebuah kekalahan telak bagi Indonesia sebagai bangsa besar yang memiliki kebudayaan tertua di dunia.

Ketika Indonesia telah memutuskan untuk maju menjadi negara yang berdaya saing, maka modernisasi sepantasnya dilaksanakan dengan mengandalkan kompetensi sumberdaya manusia dalam pengelolaan alam melalui ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek), sehingga akan meningkatkan produktivitas menuju daya saing dan kesejahteraan secara berkelanjutan.

Sudah tidak ada lafal lain yang dapat dipakai atas argumentasi tentang “kemajuan” suatu negara yang sangat bergantung atas penguasaan dan pemanfaatan Ilmu pengetahuan dan teknologi. Hanya dengan iptek  manusia dapat melakukan segala sesuatu yang sebelumnya hanya sebatas angan-angan dan lamunan.

“KETIKA GLOBALISASI SEMAKIN BERPENGARUH TERHADAP SELURUH ASPEK KEHIDUPAN SUATU NEGARA, MAKA SEMAKIN BANYAKLAH NILAI-NILAI BANGSA YANG TERABAIKAN. NILAI-NILAI BUDAYA YANG MULAI TERABAIKAN INI TENTUNYA AKAN MELUNTURKAN NASIONALISME DALAM JIWA MASYARAKAT INDONESIA”

Jika anggapan globalisasi adalah malapetaka bagi negara berkembang karena dinilai menggilas segala kemandirian ekonomi dan kebudayaan, namun bagi negara yang memiliki jati diri dan sikap yang kokoh, globalisasi dianggap sebagai peluang memperoleh Ilmu pengetahuan untuk kegiatan produktif. Berbagai fakta nyatanya telah dibuktikan dengan masih terjadinya “gap” tentang kemampuan difusi dan inovasi di negara berkembang jika dibandingkan dengan negara maju, sehingga sinkronisasi arah pembangunan Iptek bangsa-bangsa di era globalisasi masih mengalami berbagai jenis hambatan. Peningkatan kemampuan dalam mengadopsi hasil hasil inovasi menuntut adanya perubahan budaya dalam rangka peningkatan kemampuan sumber daya manusia sebagai pelaku dalam bidang iptek.

“teknologi itu sendiri juga adalah bagian dari kebudayaan, maka budaya masyarakat haruslah dengan sendirinya dituntut agar dapat menyesuaikan dan berkembang sesuai perkembangan teknologi”

Namun, memperoleh peluang itu tidaklah mudah, suka ataupun tidak, bangsa dan seluruh komponennya harus meningkatkan kemampuan dan iklim kondusif agar terbangun daya adaptasi, asimilasi, kolaborasi, dan inovasi di masyarakat secara masif dan luas. Oleh karena itu, persoalan yang sangat mendasar dan perlu mendapat perhatian serius adalah bagaimana meningkatkan kemampuan  individu dan masyarakat secara masif untuk melakukan inovasi yang terintegrasi kedalam sebuah sistem nasional.

Kreativitas dan Inovasi adalah milik semua orang. Setiap orang memiliki hak untuk maju dan berkembang, sehingga perkembangan teknologi tidak bisa lagi termonopoli oleh  bangsa tertentu saja. Kreativitas dan inovasi, serta sikap dan perilaku produktif seharusnya ditanamkan kepada seluruh masyarakat sejak dini untuk mengembangkan budaya terbuka dan dinamis.

Membangun Budaya Riset

Persoalan penting yang merupakan kunci dari keberhasilan suatu “kemajuan” adalah  Karena “kemajuan” itu merupakan kata yang mampu memainkan peran sebagai pendorong untuk mewujudkan adopsi inovasi di masyarakat. Namun meletakkannya kedalam pilihan pengambilan keputusan tidak saja merupakan tanggung jawab perorangan tetapi juga merupakan bahagian dari keputusan komunitas yang di dalamnya memiliki perbedaan budaya yang beragam.

The Hanover Research dalam jurnalnya menyebutkan bahwa dalam upaya membangun budaya riset di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi pemerintah sepantasnya berpegang pada:

Pertama. Budaya riset membutuhkan baik pemimpin kelembagaan maupun unit unit yang berada dibawahnya untuk  dapat menetapkan sejelas jelasnya tujuan penelitian, yang selanjutnya dapat dikomunikasikan secara efektif (a culture of research requires both institutional and unit based leaders to set clear research goals and communicate them effectively). Tujuan tersebut harus disertai dengan rencana yang didefinisikan dengan baik evaluasi dari keberhasilan penelitian tersebut, serta kompensasi perubahan yang menyertainya. Para administratur dituntut untuk dapat menyesuaikan setiap deskripsi pekerjaan mereka yang selanjutnya disertakan dalam laporan penelitian maupun tata cara pengajarannya.

Kedua. Budaya riset membutuhkan waktu bertahun tahun untuk dapat berkembang dengan baik, ketika sudah terbentuk, membutuhkan pemeliharaan rutin (a culture of research may take years to develop and, once established, requires regular maintenance).  Kebijakan baru yang berkaitan dengan penelitian harus selalu ditegakkan dengan teratur dari waktu ke waktu, sebelum dapat diterima dengan baik oleh masyarakat. Ketika kebijakan tersebut relevan dan diterima, maka para administratur harus siap dengan segala tantangan yang akan di hadapi dari implementasi kebijakan tersebut, seperti memelihara dana penelitian dengan baik, mengembangkan kemitraan dengan lembaga terkait untuk memperluas kesempatan penelitian, serta menghadapi perubahan politik dari kelembagaan.

Ketiga. Dalam merencanakan budaya harus mencakup pertimbangan bagaimana proaktif untuk selalu melibatkan para pelajar (Plans for a culture of research should include consideration of student involvement). Untuk level universitas adalah bagaimana mahasiswa doktoral dapat menyelesaikan kegiatan penelitiannya, namun utamanya sejak dini anak anak juga ditanamkan nilai karakter yang mampu menumbuhkan kreatifitas sehingga bermanfaat untuk dirinya dan lingkungannya, dengan demikian mereka termotivasi dari dalam diri untuk menerapkan dan terus memelihara nilai tersebut dalam kehidupan sehari-harinya. Brazelton, menemukan sebuah kesimpulan dari hasil penelitian yang dilakukan, bahwa pengalamanan anak pada bulan dan tahun pertama kehidupannya sangat menentukan apakah anak ini akan mampu menghadapi tantangan dalam kehidupannya, dan apakah ia akan memiliki semangat untuk belajar dan berhasil dalam pekerjaannya. Hal ini menunjukkan bahwa pada usia 0-6 tahun merupakan tahapan penting perkembangan dan pertumbuhan manusia. Maka karakter budaya riset dengan sendirinya dapat ditanamkan dan dibentuk dari usia dini. Selaras dengan hal tersebut Byrnes juga menyampaikan sejak masa taman kanak kanak, anak juga sudah mulai diajarkan kemampuan bersosialisasi danproblem solving. Karena kemampuan-kemampuan itu sudah dapat dibentuk sejak usia dini.

Pentingnya Budaya Riset Untuk Peningkatan Produktivitas.

Arti penting dari budaya riset adalah sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Teresa Marchant, yaitu bagaimana sebuah nilai mampu didistribusi dengan baik kepada masyarakat. Hal inilah yang akan mendorong budaya riset menjadi sebuah sistem yang berisi nilai nilai yang akan dipergunakan secara lebih luas dan terkomunikasikan dengan sebaik baiknya.

Andrew Cheetham dari University of Western Sydney (UWS), memberikan catatan lebih lanjut, bahwa budaya riset adalah struktur yang memberikan signifikansi terhadap perilaku penelitian, dan yang memungkinkan kita untuk memahami dan mengevaluasi kegiatan penelitian. Sehingga budaya tersebut tidak hanya akan berefek pada intitusi yang terbatas, tidak hanya sekelompok komunitas maupun unsur unsur lainnya yang melihat pentingnya penelitian bagi bangsa dan rakyatnya. Budaya risetlah yang mampu memberikan lingkungan sebuah dukungan terhadapat manfaat dari produk penelitian tersebut,  baik perencanaannya, produksinya maupun penghargannya.

Budaya riset merupakan proses sejarah dari generasi ke generasi di mana manusia berinteraksi dengan alam dan kehidupan dalam lingkungan strategis, manusia dan lingkungan saling memberi dan menerima aksi baik secara internal (yaitu dalam diri manusia itu sendiri),  maupun eksternal yaitu interaksi antara manusia dengan alam dan lingkungan.

Dalam masyarakat, budaya riset dipengaruhi setidaknya tiga hal penting, yaitu : (a) kemampuan seseorang untuk menerima, menilai, mengelola, serta mengontrol emosi dirinya dan orang lain di sekitarnya,  (b) Jiwa yang membantu seseorang untuk mengembangkan dirinya secara utuh melalui penciptaan serta kemungkinan untuk menerapkan nilai-nilai positif  dan (c) intelektualitas yang memungkinkan seseorang mengelola sejumlah kemampuan, seperti kemampuan menalar, merencanakan, memecahkan masalah, berpikir abstrak, memahami gagasan, menggunakan bahasa, dan belajar. Karena itu budaya riset secara umum memiliki makna sebagai suatu desain sistem kehidupan yang terwujud secara panjang, yang dapat menjadi pedoman hidup terbuka dan bersama bagi seluruh anggota masyarakat. Budaya merupakan sebuah cara berfikir, merasa dan mempercaya terhadap suatu proses perubahan perilaku yang berjalan cukup panjang. Oleh karena itu kebudayaan yang terbuka atas perubahan merupakan variabel input yang penting bagi sebuah proses pembangunan dalam era globalisasi, yang memberikan makna terhadap manusia sebagai individu maupun kelompok.

Hal penting lainnya adalah ketika agama, etika dan moral membentuk nilai tambah (added value) yang menjadi bagian tidak terpisah dari kebudayaan. Tatanan nilai yang kokoh dan sesuai dengan kondisi spesifik diperlukan untuk mengendalikan arus globalisasi, terutama dalam mendorong industrialisasi dan pembangunan ekonomi. Bagi bangsa Indonesia tatanan nilai pembangunan bangsa berpedoman pada cita-cita luhur sebagaimana tertuang dalam falsafah Pancasila dan Pembukaan UUD 1945, itulah yang harus dipegang teguh sebagai pedoman dalam menentukan arah pembangunan agar cita-cita luhur bangsa tidak terdistorsi, dan terpengaruh budaya luar sebagai akibat dari arus globalisasi.

Meskipun gema globalisasi melanda semua komponen dan sendi kehidupan bangsa, tetapi pengaruh dominan globalisasi tersebut sebenarnya terletak pada bagaimana Negara membangun fondasi ekonomi berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.

oleh: Agus Puji Prasetyono, Staf Ahli  Menteri Bidang Relevansi dan Produktivitas, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Republik Indonesia