Jakarta – Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi melakukan Rapat Kerja dengan Komisi VII DPR RI pada Selasa, 7 Juni 2016, di Ruang Rapat Komisi VII DPR RI, Gedung Nusantara I. Rapat Kerja ini dipimpin oleh Gus Irawan Pasaribu dan Wakil Pimpinan Mulyadi.

Menurut  laporan dari sekretariat rapat kerja ini dihadiri kurang lebih 15 anggota komisi VII DPR RI dan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir dan para Eselon I, II, dan III dilingkungan Kemristekdikti, serta Kepala LPNK yang dihadiri Kepala BAPETEN (Badan Pengawas Tenaga Nuklir) Jazi Eko Istiyanto, Kepala BATAN (Badan Tenaga Nuklir Nasional) Djarot Sulistio Wisnubroto, Kepala BIG (Badan Informasi Geospasial) Priyadi Kardono, Kepala BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) Unggul Priyanto, Kepala LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) Thomas Djamaluddin, Kepala LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) Iskandar Zulkarnain.

Rapat Kerja diawali dengan perkenalan diri anggota fraksi-fraksi di Komisi VII DPR RI. Kemudian dilanjutkan dengan paparan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi M. Nasir.

Rapat kerja ini membahas antara lain; 1) Penjelasan sistem inovasi nasional dalam rangka memajukan teknologi dan inovasi nasional, 2) Pemetaan peran pemerintah, dunia industri dan BUMN, lembaga Riset dan Teknologi, serta peran lembaga pendidikan tinggi guna suksesnya Sistem Inovasi Nasional, 3) Penjelasan mekanisme koordinasi dan mengatur interaksi antara berbagai faktor diatas dalam mewujudkan sistem inovasi nasional Indonesia yg sukses dan bekerja dengan baik, 4) Penjelasan perkembangan Science Technopark (STP) dan rencana ke depan, 5) Penjelasan tentang peran dan program masing-masing lembaga yg mengacu pada sitem inovasi nasional, 6) Pembahasan RKA KL APBNP TA 2016.

Nasir menjelaskan saat ini Science Technopark yang juga nawacita Presiden Republik Indonesia menjadi salah satu fokus dari Kemristekdikti dalam 3 tahun kedepan serta meningkatkan National Competitiveness untuk dapat bersaing di dunia Internasional yang semakin ketat.

Nasir juga menjelaskan untuk merevitalisasi peralatan yang dimiliki para LPNK sebagai bagian dari Science Technopark agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat luas dan melakukan optimalisasi Technopark yang sudah ada dan penambahan untuk lokasi-lokasi yang potensial untuk dikembangkan. (ard/ristekdikti)

Galeri