Presiden Joko Widodo telah bertekad akan membangun sejumlah Science Techno Park (STP) di daerah dengan sarana dan prasarana berteknologi terkini. Ini merupakan cita-cita besar yang harus didukung penuh oleh berbagai stake holder dan masyarakat, khususnya pemerintah daerah setempat.

Keberhasilan suatu STP minimal harus memainkan tiga peran utama, yaitu melaksanakan penelitian dan pengembangan, menumbuhkan dan mengembangkan perusahaan pemula berbasis teknologi (spin-off), serta menumbuhkan cluster industri atau menarik industri ke dalam kawasan, sehingga terjadi ekosistem inovasi benar-benar bisa terwujud dengan aktor utama quadruple helix, yaitu: academic, business, government, and community! (menurut Lukito Hasta Pratopo, Direktur Kawasan Sains dan Teknologi dan Lembaga Penunjang Lainnya-Kemrinstekdikti)

Lebih lanjut, keberhasilan pembangunan STP ini harus diikuti adanya implementasi, kesinambungan. kontinuitas, konsistensi, dan komitmen dalam pelaksanaan program hilirisasi iptek lintas sektoral sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan sekaligus perekonomian daerah. Semua hal tersebut bukanlah mustahil untuk diterapkan di Indonesia tergantung dari tingkat sinergitas seluruh aktor yang terlibat di dalamnya.

Solo Techno Park

Solo Techno Park (Solo TP) merupakan salah satu contoh STP di Indonesia yang dianggap cukup berkembang dengan baik, dimana semua itu tentu tidak lepas dari komitmen Pemkot Surakarta dalam pengembangan fungsi STP yang pelan tapi pasti.

Di awali dari ide Walikota Surakarta pada tahun 2006, hanya ingin membuat sebuah lembaga pendidikan dan pelatihan (diklat) di bidang mekanik untuk pemuda dan guru-guru sekolah menengah kejuruan (SMK) dalam meningkatkan kompetensi di bidang mekanik.

Kemudian Tahun 2012, melakukan kerja sama dengan Politeknik Akademi Teknik Mesin Industri (ATMI) Surakarta, dan German Institute (IGI) membentuk Surakarta Competency and Technology Center (SCTC). Kerjasama ini terus berkembang menjadi pusat pelatihan mekanik bermutu tinggi dan berhasil memberikan kontribusi dalam melatih generasi muda yang belum bekerja, mengupayakan tempat kerja, serta mewujudkan terbentuknya jaringan kerjasama antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan industri yang saling melengkapi.

Solo TP yang diinisiasi oleh Pemkot Surakarta ini sudah mempunyai unsur kelembagaan yang jelas dalam pembagian tugas dan tujuannya, dimana ada kelembagaan yang mempunyai tugas makro dan tugas mikro. Untuk tugas makro dilaksanakan oleh Badan Perencanaan Dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Surakarta, meliputi konsep pembangunan kawasan, pelaksanaan pembangunan kawasan/infrastruktur, penyediaan sarana prasarana, pengelolaan Unit Pelaksana Teknis Badan (UPTB) Solo TP.

Sedangkan tugas mikro dilaksanakan oleh UPTB. Solo TP sebagai Lembaga Teknis Daerah yang melaksanakan sebagian tugas satuan kerja pemerintah daerah (SKPD) induk serta melaksanakan tugas pelayanan teknis operasional bidang pelayanan iptek pada masyarakat.

Sejak 31 Desember 2009, sistem kelola Solo TP telah menjadi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD). yaitu bentuk pengelolaan yang sifat bisnisnya adalah sosial ekonomi karena lebih menekankan pada pelayanan sosial tetapi tetap berorientasi ekonomi.

Adanya pola ini ada keleluasaan untuk menerapkan praktik-praktek bisnis yang sehat untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagai pengecualian dari ketentuan pengelolaan keuangan daerah pada umumnya.

Persiapan yang diupayakan dan berbagai program dilaksanakan secara konsisten, diharapkan dapat mempercepat tercapainya visi dan misi yang sudah dicanangkan, yaitu: “Terwujudnya Solo Techno Park sebagai kawasan terpadu berbasis Iptek, yang mampu menjadi motor penggerak pertumbuhan industri dan peningkatan daya saing daerah serta peningkatan pertumbuhan ekonomi daerah”.

Faktor penting untuk mencapai visi dan misi di atas, sejak April 2015 telah menjadi mitra Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi dalam pembangunan dan pengembangan Solo TP (pembangunan kapasitas SDM. pembangunan gedung dan pengembangan peralatan). Pembangunan kapasitas SDM (capacity building) telah empat kali dilakukan, termasuk pengiriman pengelola Solo TP ke Swedia. Telah dibangun ruang-ruang untuk tenant termasuk pengadaan beberapa mesin penunjang yang beroperasinya kawasan sains dan teknologi yang fokus pada bidang manufaktur skala ideal.

Alat-alat moderen dan canggih sudah berjalan dengan baik di Solo Techno Park, sehingga proses produksi dapat lebih efektif dan efisien. Untuk itu. peralatan yang canggih ini dapat dimanfaatkan oleh berbagai stakeholder dalam mengembangkan inovasi produksinya. Masalah yang harus disiapkan adalah masalah pemeliharaan alat tersebut. Disarankan, adanya aset tersebut secepatnya dapat dipindah tangankan ke Pemerintah Daerah, dimana dana perawatan selanjutnya sudah dapat dianggarkan dalam APBD.

Harapan pemerintah dari pembangunan Solo TP ini adalah akan muncul para pengusaha pemula berbasis inovasi yang mampu menarik tenaga kerja dan meningkatkan daya saing daerah sehingga terjadi “generating” ekonomi di Kota Solo dan sekitarnya, Semoga!