UNAIR NEWS – Keunggulan riset bidang kesehatan yang dimiliki Universitas Airlangga mendorong Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia Prof. Mohammad Nasir untuk meninjau hasil-hasil riset para peneliti.

Dalam kunjungan yang digelar pada Jumat (28/4), Nasir meninjau hasil-hasil riset berupa prototipe dan publikasi peneliti UNAIR yang bertempat di Aula Amerta Kantor Manajemen UNAIR, Institute of Tropical Disease (ITD), dan Rumah Sakit UNAIR.

Nasir meninjau satu per satu stan penelitian dan produk UNAIR dengan dipandu oleh pengajar sekaligus staf bidang Kerjasama dan Bisnis, Andi Hamim Zaidan, Ph.D. Produk penelitian yang dipamerkan antara lain inovasi stem cell, biomaterial untuk implan tulang, produk laser untuk terapi penyakit gigi dan mulut, obat virus Flu Burung, serta kapsul rumput laut.

“Ini (kapsul rumput laut) adalah salah satu produk kami yang mendapatkan pendanaan dari Ristekdikti. Kapsul rumput laut ini merupakan produk halal yang dapat digunakan sebagai suplemen,” tutur Zaidan.

“Orang akan menghitung cost. Apakah lebih murah?” respon Nasir.

Pertanyaan Menristekdikti tersebut ditanggapi langsung oleh Wakil Rektor IV yang membidangi Kerjasama Bisnis, Junaidi Khotib, Ph.D. “Kami sudah menghitung dan harganya lebih murah,” jawab Junaidi.

Acara peninjauan itu lantas dilanjutkan dengan sambutan dari Menristekdikti. Dalam sambutannya, Nasir mengapresiasi produk-produk maupun publikasi penelitian yang telah dihasilkan oleh peneliti UNAIR. Menurutnya, peneliti perguruan tinggi harus menjadi gudang inovasi demi perekonomian yang menyejahterakan bangsa.

“Saya mengapresiasi para inventor yang menghasilkan inovasi-inovasinya untuk Indonesia, untuk ekonomi yang lebih baik. Inovasi harus terus menerus dilakukan. Kalau bicara soal pendidikan, maka kita berpikir tentang masa depan,” tutur Nasir.

“Saya cukup bangga dengan inovasi yang dihasilkan peneliti UNAIR seperti stem cell, obat-obatan herbal, dan pendukung terhadap kesehatan seperti implan. Termasuk, kesehatan hewan. Inovasi-inovasi ini, kalau kita kembangkan dengan baik dan konsisten, Indonesia akan lebih maju daripada negara lain,” lanjut Guru Besar bidang Akuntansi ini.

Dalam sambutannya, Nasir juga menyinggung tentang posisi Indonesia dalam peringkat kompetitif global. Pihaknya mengatakan, peringkat inovasi di Indonesia mengalami peningkatan, namun posisi kompetitif global mengalami penurunan.

“Kurangnya tenaga kerja terampil. Lulusan-lulusan perguruan tinggi yang menghasilkan inovasi tidak mengalami penurunan, tetapi pesaing dari negara lain lari lebih cepat,” ungkapnya.

Untuk itu, ia mendorong adanya kemandirian di universitas khususnya bagi yang memiliki status berbadan hukum. Selain itu, ia juga berharap agar universitas bisa memiliki industri perguruan tinggi (teaching industry).

“Saya mendukung apa yang sudah dilakukan Universitas Airlangga karena risetnya sudah mendukung kontribusi ke masyarakat. Sehingga, ke depan, mahasiswa bisa gratis (biaya pendidikan), tapi harus disiapkan regulasi dengan baik,” pungkas Nasir.

Penulis: Defrina Sukma S, Universitas Airlangga.