UNAIR NEWS – Berbagai persiapan sudah digelar oleh Universitas Airlangga terkait penyelenggaraan orasi ilmiah penerima nobel bidang ekonomi Prof. Robert F. Engle III. Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNAIR Prof. Dr. Dian Agustia, S.E., M.Si, selaku penanggung jawab acara mengatakan, pihaknya sudah melaksanakan rapat koordinasi dengan pihak International Peace Foundation (IPF). Terakhir, rapat persiapan telah dilakukan Selasa (6/12), di FEB UNAIR.

Prof. Dian mengatakan, pihaknya sudah membuat susunan acara sekaligus penanggung jawab masing-masing detail kegiatan, di antaranya mengatur alur acara, pendistribusian surat undangan, dan sebagainya.

“Masing-masing PIC (person in charge) sudah presentasi secara detail tentang aktivitas di masing-masing tanggung jawabnya,” tutur Prof. Dian.

Rencananya, kuliah umum yang akan berlangsung pada Senin (20/2/2017) akan dihadiri perwakilan Kementerian Keuangan, Gubernur BI, dan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan. Acara dilanjutkan dengan sesi diskusi antara peserta dan narasumber. Jalannya kuliah umum nanti akan dipandu oleh jurnalis senior Desi Anwar.

Kuliah umum akan dihadiri oleh 2000 peserta dari berbagai stakeholder UNAIR, seperti perwakilan perguruan tinggi negeri, swasta, dan pemerintah.

Prof. Engle merupakan ekonom kelas dunia yang menerima nobel di bidang ekonomi pada tahun 2003 silam. Bersama rekan perisetnya, pengajar di Stern School of Business, New York University, Amerika Serikat, itu membuat metode analisis rangkaian waktu ekonomi volatilitas yang bervariasi dengan waktu.

Nantinya, Prof. Engle akan memberikan kuliah umum berjudul The Prospect for Global Financial Stability di gedung Airlangga Convention Center. Dengan adanya dialog perekonomian yang disampaikan oleh Prof. Engle, Rektor UNAIR Prof. Dr. M. Nasih, S.E., M.T., Ak, berharap sivitas akademika bisa memetik sekaligus menambah wawasan baru khususnya di bidang Ilmu Ekonomi.

“Ini menjadi penting karena penerima nobel nanti akan berbicara tentang perekonomian di UNAIR. Kita tahu bahwa perekonomian Indonesia dihadapkan pada instabilitas, konflik, dan ketidakpastian, sehingga hal-hal itu bisa menjadi ancaman bagi Indonesia,” tutur Prof. Nasih.

Kuliah umum penerima nobel itu dilaksanakan dalam rangkaian acara “The 6th ASEAN Event Series “Bridges Dialogue For A Cultural of Peace”. Acara rutin seperti ini sudah dilakukan oleh IPF sejak 2003 lalu. Negara-negara yang pernah menjadi jujugan penyelenggaraan acara ini di antaranya Thailand, Filiphina, Malaysia, Kamboja, Vietnam, dan Singapura. Tahun 2017, Indonesia menjadi tempat pelaksanaan acara, salah satunya bertempat di UNAIR.

Penulis: Defrina Sukma S