Yogyakarta – Masa depan bangsa dan Negara Indonesia ini ada di tangan generasi muda. Generasi muda merupakan agen perubahan yang menjadi penentu perkembangan ataupun kemunduran suatu bangsa dan negara. Penanaman budaya antikorupsi sejak dini sangat penting dilakukan di sektor pendidikan yang diisi oleh generasi muda yang sedang tumbuh dan berkembang.

Hal tersebut dikatakan Sekretaris Jenderal Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), Ainun Na’im saat menjadi pembicara Talkshow Antikorupsi Ekonomi Bebas Korupsi (EBK) ke-8 Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan tema “Mewujudkan Pendidikan Indonesia Yang Bebas Korupsi”, di Auditorium Magister Manajemen UGM, Yogyakarta, Sabtu (4/11).

“Pendidikan antikorupsi wajib dilakukan sejak dini. Seperti mensosialisasikan dan mengkampanyekan antikorupsi di lingkungan kampus, membangun organisasi mahasiswa yang profesional, transparan, dan akuntabel,” ujar Ainun.

Ainun juga menyampaikan, sekecil apapun korupsinya harus tetap diberantas dan itu bisa dimulai sejak dini. Ia juga mengingatkan kepada generasi muda untuk selalu mengedepankan kepentingan publik daripada kepentingan pribadi dengan menjaga dan menghargainya.

“Generasi muda harus tahu mana yang kepentingan pribadi, kepentingan publik, dan kelompok. Seperti contoh ketika mereka terbiasa menyobek buku pelajaran, bisa jadi suatu saat mereka menyobek dokumen penting untuk menghilangkan barang bukti, ini bahaya dan budaya ini harus kita tinggalkan,” imbuh Ainun.

Selain berbicara tentang budaya antikorupsi sejak dini, Ainun juga memapaparkan tentang komitmen Kemenristekdikti untuk bersama mendorong ekonomi yang bebas dari korupsi dan upaya pencegahan bila itu terjadi di lingkungan Kemenristekdikti.

“Kita juga menjalin kerja sama dengan Badan Pemeriksa Keungan Republik Indonesia (BPK RI) maupun Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan skema sistem pengawasan. Kami selalu mengedepankan proses evaluasi, mulai dari perencanaan dan penganggaran, apakah ini layak atau tidak, apa manfaat jangka panjangnya dan apa dampaknya,” paparnya.

Hadir juga sebagai pembicara, Auditor Utama Investigasi Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI) I Nyoman Wara, Public dan Campaign Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Yoyo Dwi Prakoso, Dekan Fakultas Hukum UGM Sigit Riyanto, Sekretaris Inspektur Jenderal Kemenristekdikti Yurial Bachtiar, serta News Anchor dan Jurnalis Rory Asyari sebagai Moderator.

Selain untuk umum, acara ini juga dihadiri oleh peserta Konferensi Mahasiswa Nasional (KMN) Tahun 2017 dan perwakilan siswa-siswi Sekolah Menengah Pertama (SMP), serta Sekolah Menengah Atas (SMA) di wilayah Yogyakarta.

Seperti yang dikatakan Ketua Panitia Talkshow EBK ke-8 Tahun 2017 UGM, Mudo Dwi Imam Utomo, acara ini bertujuan untuk lebih mengajak masyarakat untuk berperan aktif terutama melawan korupsi di sektor pendidikan.

“Budaya antikorupsi sebaiknya dimulai sejak duduk di bangku pendidikan. Bila kita sudah tumbuh akan budaya antikorupsi sejak itu, maka kedepan ketika sudah bekerja di instansi dan pekerjaan apapun, kita dapat menjadi pekerja yang profesional, berintegritas, dan transparan,” ujar Mudo. (Ard)

Galeri