BAPETEN bekerja sama dengan IAEA (International Atomic Energy Agency), Senin 6 November 2017 membuka acara “International High Level Meeting on issues and Challanges of Embarking Countries Regarding Establishment of an Effective Regulatory Infrastructure” yang dikuti oleh 16 orang utusan dari negara Banglades, Jordan, Kenya, Malaysia, Nigeria, Polandia, Sudan, Turki, Korea Selatan dan Indonesia.

Sekretaris Utama BAPETEN, Hendriyanto Hadi Tjahyono, yang didapuk memberikan sambutan mewakili Kepala BAPETEN, menyampaikan bahwa salah satu masalah utama yang dihadapi oleh kebanyakan negara yang merencanakan pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir adalah masalah penerimaan dari masyarakat. Pertanyaan yang sering muncul adalah kemampuan terhadap penguasaan teknologinya, lalu ketersediaan bahan bakar nuklir, keterbatasan sumber daya manusia, pengelolaan limbah serta infrastruktur peraturan keselamatan.

“Oleh karena itu, berbagi pengalaman tentang tantangan dari berbagai negara yang berada pada tahap yang sama ini sangatlah penting”, tukas Hendriyanto menjelaskan.

foto 1

Sementera itu pakar IAEA Ugur Bezdeguemeli  mengutarakan bahwa  tujuan dari pertemuan ini adalah untuk mengidentifikasi tantangan dan isu-isu yang dihadapi oleh negara-negara pendatang baru yang memulai program tenaga nuklir dalam membangun kerangka peraturan dan infrastruktur nasional. Juga untuk mengatahui jenis bantuan yang mungkin bisa diberikan  oleh IAEA kepada masing-masing negara terkait dengan pembentukan infrastruktur peraturan secara efektif.

foto 5

Pertemuan ini akan berlangsung selama 5 hari, yaitu pada tanggal 6 s.d 10 November 2017, dan mempunyai agenda utama presentasi dari perwakilan negara peserta, dilanjutkan dengan diskusi. Presentasi dari masing-masing negara diharapkan dapat menjadi dasar untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan terutama yang terkait dengan aspek keselamatan, juga untuk mengetahui tantangan yang dihadapi oleh masign-masing negara serta berbagai pendekatan yang telah dilakukan oleh masing-masing negara tersebut.

foto 2

Agenda pertemuan didasarkan atas Safety Guide IAEA SSG-16 tentang “Establishing the Safety Infrastructure for a Nuclear Power Programme”. Dan secara khusus, akan membahas: “Kerangka hukum”, “Kerangka kerja peraturan”, “Kepemimpinan dan manajemen untuk keselamatan”, “Pengembangan sumber daya manusia”, dan “Organisasi pendukung dan kontraktor eksternal”

sumber: https://www.bapeten.go.id/?p=62273