Setelah sebelumnya melaksanakan Rapat Koordinasi Penguatan Pengawasan Pemanfaatan Sumber Radiasi Pengion dengan Kantor Wilayah (Kanwil) Bea dan Cukai di Jakarta, Surabaya, dan Makassar, BAPETEN untuk yang ke-4 kalinya menggelar rakor  dengan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Batam, Kepulauan Riau.

BAPETEN menyadari bahwa pengawasan pemanfaatan sumber radiasi pengion khususnya dalam pengawasan ekspor dan impor sumber radiasi pengion (SRP) di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang begitu luas tidak bisa dilakukan sendiri.

Batam dijadikan pilihan dalam penguatan pengawasan pemanfaatan sumber radiasi pengion khususnya ekspor impor sumber radioaktif, mengingat dekat dengan negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia.

Melihat pentingnya hal tersebut, Direktorat Perizinan Fasilitas Radiasi dan Zat Radioaktif (DPFRZR), melakukan koordinasi dengan Kantor Pelayanan Umum (KPU) Bea Cukai Tipe B dan Badan Pengusahaan (BP) Batam, Rabu (27/9/2017). Hadir dalam acara ini Kasubdit Perdagangan BP Batam Barlian Untoro, perwakilan Bea Cukai Batam Yosef Hendriansyah, dan disertai jajarannya masing-masing.

4               2

Direktur Perizinan Fasilitas Radiasi dan Zat Radioaktif Zainal Arifin, saat membuka acara ini menekankan mengenai pentingnya aspek keselamatan radiasi pada petugas Bea Cukai yang bekerja di lapangan. “Merekalah garda terdepan dalam pelaksanaan proses ekspor dan impor SRP di Bea Cukai,” ujarnya.

Selain itu Zainal menambahkan, BAPETEN terus berkomitmen untuk meningkatkan pelayanan perizinan online dalam rangka menyederhanaan atau simplifikasi regulasi perizinan ekspor impor khususnya perizinan sumber radiasi pengion.

Pihak Bea Cukai dan BP Batam mengapresiasi langkah yang dilakukan BAPETEN dan berharap tindak lanjut rakor ini terus dilakukan dengan sharing data dan informasi secara detail, terutama daftar nama importir sumber radiasi pengion sehingga para petugas di lapangan akan lebih aware terhadap importasi dari instansi tersebut.

3               5