Pertengahan November 2015 lalu ada kabar gembira yang beredar di kalangan alumni Universitas Negeri Semarang (Unnes). Kabar itu beredar secara berantai, melalui pesan singkat, BBM, juga jejaring sosial. Secara umum kabar itu berisi ungkapan kegembiraan alumni dengan diluncurkannya layanan legalisasi ijazah online. Dengan layanan itu, alumni dari berbagai daerah bisa melegalisasi ijazah tanpa harus ke kampus.

Layanan legalisasi ijazah online adalah salah satu terobosan yang dilakukan Unnes pada tahun 2015, tahun yang oleh Rektor Unnes Prof. Fathur Rokhman disebut sebagai tahun inovasi. Tahun 2015 dijadikan Unnes untuk mengembangkan berbagai produk kreatif yang memberi kemaslahatan kepada masyarakat luas.

Pilihan Unnes menetapkan tahun 2015 sebagai tahun inovasi memiliki dasar yang kuat, setidaknya karena dua alasan. Pertama, inovasi adalah bagian tak terpisahkan dalam pelaksanaan tri dharma kegiatan perguruan tinggi. Sebagai perguruan tinggi, Unnes tahu betul bahwa salah satu tugasnya memang menciptakan kebaruan. Dengan inovasi, batas mungkin dan tidak mungkin dinegosiasikan.

Kedua, inovasi sesuai dengan agenda prioritas Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. Sebagaimana diketahui, Kementerian mendorong perguruan tinggi melakukan hilirisasi riset yang membuat penelitian lebih bermanfaat bagi masyarakat.  Inovasi adalah jembatan yang memungkinkan hilirisasi itu berlangsung.

Selain itu, inovasi adalah jawaban karena Unnes menjadi center of excellent, terutama dalam bidang pendidikan. Sebagai salah satu Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) terbaik yang dimiliki bangsa ini, Unnes berperan sebagai produsen gagasan yang memandu pengembangan pendidikan. Unnes juga harus siap menjadi tempat mengadu bagi guru, kepala sekolah, dan pemangku kepentingan bidang pendidikan lain yang ingin memperoleh solusi atas masalah yang dihadapinya.

Niat baik Unnes untuk menjadi center of excellent itu, antara lain diperkuat dengan tradisi meneliti. Terbukti, pada tahun 2015 empat jurnal ilmiah Unnes memperoleh akreditasi A, yaitu jurnal Harmonia: Journal of Arts and Arts Education, Biosaintifika: Journal of Biology and Biology Education, Jurnal Pendidikan IPA, dan Jejak: Journal of Economics and Policy Analysis. Dengan terakreditasinya empat jurnal tersebut Unnes kini telah memiliki delapan jurnal nasional terakreditasi. Sebelumnya, empat jurnal telah terakreditasi yaitu Paramitha, Komunitas, Kemas, dan Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia.

Dari aspek kelembagaan, tradisi inovasi juga diperkuat dengan diperolehnya akreditasi A oleh sejumlah program studi. Akreditasi A adalah pencapaian penting karena dapat digunakan untuk menandai komitmen pengelola perguruan tinggi terhadap kualitas pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.  Pengakuan ini sekaligus menjadi “kartu garansi” kepada masyarakat yang menyekolahkan putra-putrinya bahwa pendidikan yang berlangsung di Unnes dilaksanakan dengan kesungguhan hati.

Menjawab Ekspektasi

Salah satu tantangan yang dihadapi perguruan tinggi adalah ekspektasi publik yang kian hari kian tinggi. Di satu sisi lembaga pendidikan diharap menjadi pusat gagasan untuk menyelesaikan persoalan. Di sisi lain, perguruan tinggi juga diharapkan menjadi katalisator yang menggerakan masyarakat agar berkembang menjadi komunitas yang ideal, komunitas yang terimajinasikan.

Salah satu ekspektasi publik yang ditangkap Unnes adalah tersedianya guru berkualitas untuk mendongkrak kualitas pendidikan nasional. Ekspektasi ini muncul karena telah terbentuk kesadaran kolektif bahwa guru adalah kunci penentu keberhasilan pendidikan. Memang, ini bukan harapan yang baru-baru ini dikemukakan. Jauh sebelumnya, ekspektasi tentang lahirnya guru berkualitas sudah ada, namun tidak sekuat saat ini.

Ekspektasi itu kemudian berusaha dijawab Unnes dengan mengembangan pendidikan guru berasrama. Unnes termasuk  perintis konsep pendidikan guru berasrama. Oleh karena itu, Unnes mendapat kepercayaan dari Asosiasi LPTK se-Indonesia untuk mengembangkan pilot project pendidikan guru berasrama. Dari situlah lahirlah Pendidikan Profesi Guru (PPG) Sarjana Mendidik di Daerah Terluar Terdalam dan Tertinggal (SM3T). Ribuan sarjana pendidikan yang telah setahun mengabdi di berbagai daerah di Indonesia kembali ke kampus untuk mengikuti PPG. Dari proses itu, lahirlah guru dengan sertifikasi profesional.

Untuk menjawab kebutuhan guru yang berkualitas, Unnes juga telah mengembangkan konsep karakter konservasi mahasiswa. Dalam konsep ini termuat sejumlah sikap ideal yang harus dikembangkan oleh mahasiswa Unnes. Dalam karakter konservasi mahasiswa terdapat anjuran bagaimana baiknya mahasiswa bersikap, bertutur kata, dan berbusana, baik saat di kampus maupun di luar kampus. Pembiasaan diri ini diharapkan membentuk mahasiswa menjadi manusia yang memiliki karakter unggul.

Ekspektasi lahirnya guru berkualitas juga dijawab Unnes dengan mengembangkan program revolusi mental. Secara eksplisit, program ini memang dirancang untuk mendukung gerakan nasional revolusi mental yang digagas Presiden Joko Widodo. Namun secara implisit, program ini menunjukkan tekad Unnes untuk menjawab ekspektasi masyarakat akan lahirnya generasi muda yang terpelajar sekaligus berkarakter.

Dalam bentuk yang sederhana, program revolusi mental antara lain diwujudkan dengan melakukan tes narkoba kepada seluruh mahasiswa baru. Bekerja sama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN), program ini dilaksanakan setiap tahun dengan melibatkan sedikitnya 6 ribu mahasiswa baru. Sejauh ini, seluruh mahasiswa baru Unnes dinyatakan negatif narkoba. Data ini menunjukkan bahwa anak-anak muda Indonesia, khususnya yang menempuh pendidikan di Unnes, memiliki optimisme hidup yang tinggi, siap berprestasi.

Tes narkoba yang dilakukan pada masa awal kuliah kemudian ditindaklanjuti dengan melibatkan mahasiswa pada aneka kegiatan yang memperkuat karakternya. Telah tersedia lebih dari 60 organisasi kemahasiswa untuk mendorong mahasiswa mengembangkan potensi dirinya. namun di luar itu, mahasiswa juga terlibat dalam program Kemah Kebangsaan. Kemah ini didesain agar mahasiswa memahami dengan lebih baik bangsa dan negaranya, memahami visi kebangsaannya, juga menggumpal semangat patriotiknya sebagai warga bangsa dan warga negara.

Menjadi Rumah Ilmu
Untuk memenuhi ekspektasi publik itu pula Unnes kembali kepada jati dirinya sebagai rumah ilmu. Secara sederhana, konsep rumah ilmu dapat dimaknai sebagai keinginan Unnes untuk menjadi tempat paling nyaman bagi siapa pun yang ingin mempelajari ilmu pengetahuan. Sebagaimana rumah dalam arti yang sebenarnya, Unnes sebagai rumah ilmu adalah tempat yang hangat, menyenangkan, dan penuh kasih sayang.

Rektor Unnes Prof. Dr. Fathur Rokhman (2015) menyebutkan, universitas yang dipimpinnya mengembangkan empat strategi agar bisa menjadi rumah ilmu. Pertama, Unnes memelihara dialog antardisiplin karena ilmu pengetahuan senantiasa bertalian. Pertalian antardisiplin ini membuka kemungkinan berkembangnya pengetahuan baru, yang bermanfaat bagi masyarakat. Sebagai rumah pengetahuan, jendela dan pintu antar ruang harus dijaga tetap terbuka agar tak terkungkung pada fragmentasi akademik. Kedua, menjaga jalinan aksiologis antara ilmu dengan realitas sosial. Leluhur kita pernah menyampaikan pesan bahwa “ilmu kelakone kanthi laku”. Sesanti ini bisa dipahami bahwa, pengetahuan harus keluar dari kandang ontologis dan epistimologisnya sehingga menemukan konteks sosial yang relevan. Ada kewajiban moral bagi cendekiawan untuk memanfaatkan ilmu pengetahuannya bagi sesuatu di luar dirinya. Ilmu terkuruang pada refleksi di ruang sunyi, tetapi juga hadir pada ruang sosial yang riuh dan gelisah. Ilmu perlu dihadirkan dalam berbagai aktivitas kemanusiaan. Ketiga, kesediaan membuka pikiran. Kampus hanya dapat melegetimiasi dirinya menjadi rumah ilmu jika individu-individunya memiliki pikiran terbuka. Artinya, mau menerima kebenaran versi lain serta membuka ruang dialog terhadapnya. Pikiran terbuka adalah syarat wajib agar dialektika keilmuan tak tersungkur pada klaim dan jargon. Keempat, rumah ilmu juga harus dibangun dengan prinsip partisipasi, bukan kontrol mutlak, dan lebih-lebih dominasi. Prinsip ini amat penting, terutama berkaitan dengan keterbatasan seseorang terhadap dunianya. Untuk memahami sesuatu secara lebih komprehensif diperlukan sumbangan dari tiap-tiap orang yang terlibat di dalamnya. Prinsip partisipatif ini pula yang mestinya dikembangkan dalam kepemimpinan perguruan tinggi. (Setyo/Humas Unnes)