UNAIR NEWS – Beragam tantangan yang dihadapi masyarakat dunia memunculkan salah satu solusi bernama pendidikan global. Sistem pendidikan yang mengglobal memungkinkan para pelajar untuk menempuh pendidikan di negara lain baik dengan sumber pendanaan yang bervariatif.

Sistem pendidikan global ini akan kian terbuka lebar apabila pejabat antar negara memiliki komitmen untuk mendukung kolaborasi institusi pendidikan di masing-masing negara. Duta Besar Amerika Serikat untuk Republik Indonesia Joseph R. Donovan mengatakan bahwa dirinya berkomitmen untuk meningkatkan hubungan Indonesia-AS di bidang pendidikan.

Di hadapan mahasiswa Universitas Airlangga yang hadir dalam kuliah umum United States of America and Indonesia Partnership, Tackling Global Challenges with Global Education, Rabu (3/3), di Aula Kahuripan 300, Donovan berkomitmen untuk menaikkan angka mobilitas pelajar dari Indonesia ke AS.

Saat ini, ada sebanyak 9.000 pelajar Indonesia dari berbagai jenjang studi yang menempuh pendidikan di Negeri Paman Sam. Pada tahun 2020, ia menargetkan sebanyak 15.000 orang untuk belajar di negara yang pernah dipimpin George Washington itu.

Peningkatan jumlah tersebut diharapkan dapat memberikan dampak positif kepada masyarakat umum, khususnya pelajar. Karena semakin banyak suatu pelajar yang menimba ilmu di daerah atau negara lain, maka semakin banyak pula pelajar yang mendapatkan pengalaman. Mereka juga bisa belajar tentang heterogenitas.

“Menurut saya, orang yang belajar di Amerika Serikat akan mendapatkan pengalaman yang unik. Kalau Anda belajar dengan tekun, maka Anda mendapatkan pembelajaran yang berkualitas. Anda juga bisa belajar tentang kelebihan dan kekurangan Amerika Serikat, dan Anda memiliki kesempatan untuk bercerita kepada masyarakat Indonesia tentang warga Amerika Serikat,” tutur Donovan.

Donovan yang pernah menjabat sebagai penasihat kebijakan luar negeri Pentagon itu mengatakan, pendidikan global juga bisa mengatasi beragam tantangan di dunia, seperti isu toleransi, kesehatan, dan lain-lain. Karena pertukaran ilmu antar pelajar semakin terbuka.

“Kita harus sama-sama menghadapi tantangan dalam menghadapi kelompok garis keras atau ekstremisme. Kita juga hadapi permasalahan global di bidang kesehatan seperti penyakit menular dan lain-lain. Anda (mahasiswa, red) pasti bisa menyebutkan lima atau sepuluh tantangan. Seiring berjalannya waktu Anda mempelajari banyak hal, maka Anda akan mengerti bahwa tantangan ini sebenarnya saling berkaitan,” ungkapnya.