Istilah probiotik dan prebiotik sering kita dengar. Terkadang orang awam bingung membedakan dua istilah tersebut. Mari kita simak probiotik adalah mikroorganisme yang bermanfaat bagi kesehatan sistem pencernaan manusia. Tubuh manusia penuh dengan bakteri baik dan buruk, dan probiotik selalu mewakili kelompok bakteri baik dan bermanfaat. Sementara itu, prebiotik adalah bahan makanan yang menginduksi pertumbuhan dan pemeliharaan bakteri usus yang menguntungkan.

Guru Besar Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor, (FMIPA IPB), Prof. Dr. Anja Meryandini menjelaskan apabila ingin menjaga kesehatan usus maka bakteri baik yang ada dalam usus tersebut harus diberi makan. Prebiotik biasanya tidak dapat dimanfaatkan bakteri patogen seperti E. coli penyebab diare dan  Salmonella penyebab tifus. Bila usus diberi prebiotik, maka bakteri baik akan tumbuh pesat.

Kesehatan usus itu prinsipnya bakteri baik menang bersaing terhadap bakteri patogen. Kita bisa menjaga kesehatan  usus kalau bakteri baik ini diberi makan. Makanan bagi bakteri yang baik yaitu prebiotik telah banyak ditemukan di pasaran diantaranya ada Galakto Oligosakarida (GOS), Frukto-Oligosakarida (FOS), Soyaoligosaccharides (SOS) pada susu bayi. Buah-buahan dan sayuran juga merupakan sumber prebiotik.  Prebiotik juga bisa dibuat, seperti yang dimasukkan ke dalam susu tersebut itu. Pembuatan prebiotik dapat menggunakan bakteri. “Cara membuat prebiotik  adalah dengan membuat bakteri mendegradasi atau mencerna serat panjang menjadi serat-serat pendek yang cocok. Misalnya selulosa yang berbentuk empat atau delapan monomer, itu namanya prebiotik. Tapi kalau masih selulosa itu bukan prebiotik itu masih serat,” tutur Prof. Dr. Anja.

Prof. Anja menambahkan, orang dewasa umumnya sudah mengerti pentingnya  makan sayur dan buah, tetapi kadang kondisinya tidak memungkinkan mengkonsumsinya, karena pekerjaan atau dalam perjalanan sehingga tubuh kekurangan serat yang dapat mengakibatkan sembelit. Pihak industri kini menawarkan produk prebiotik dalam kemasan sehingga mudah dibawa dan siap diminum setiap saat. “Sebaiknya pembuatan prebiotik tidak dilakukan dengan menggunakan bahan yang bersaing dengan ketersediaan pangan seperti misalnya singkong yang dapat dibuat kripik,” ujar Prof. Anja. (IRM/ris)