Sidoarjo – Hasil inovasi dalam negeri berkaitan dengan material implan tulang telah mampu dibuat dan segera diproduksi secara massal untuk dapat diterapkan pada dunia kesehatan sebagai upaya kemandirian dan daya saing industri obat serta alat kesehatan dalam negeri.

Sebagai Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK), dalam hal ini, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), melalui Pusat Teknologi Material BPPT berhasil mengembangkan implan tulang Stainless Steel 316 L dari bahan lokal yang pengerjaannya tetap dipercayakan kepada perusahaan lokal, yakni PT Zenith Allmart Precisindo (ZAP).

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir, sangat mendukung dan mengapresiasi dengan adanya  inovasi material implan tulang buatan dalam negeri melalui pendanaan insentif inovasi industri ini.

“Selama ini Indonesia impor implan tulang mencapai 100%, kalau nantinya bisa diproduksi dengan baik, harapan saya, ini bisa mendorong kemandirian alat-alat kesehatan di Indonesia untuk mengurangi impor dan mengurangi beban Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) untuk Negara,” imbuh Menteri Nasir disela kunjungannya di PT. ZAP, Surabaya, Senin (20/2).

Menurut Menteri Nasir, kebutuhan implan tulang di Indonesia sangat tinggi. Hal tersebut terjadi seiring dengan tingginya angka kecelakaan yang mengakibatkan fraktur hingga masalah osteoporosis pada tulang. Namun, biaya yang sangat tinggi untuk implan tulang membuat masyarakat sulit menjangkaunya.

“Mayoritas masyarakat Indonesia lebih percaya berobat ke alternatif dibanding pengobatan medis seperti implan tulang karena mahal. Mudah-mudahan dengan inovasi itu bisa menjadi solusi dengan harganya yang lebih murah,” ujarnya.

Menristekdikti juga mengharapkan, setelah melewati proses sertifikasi produksi dan izin edar sesuai standar kesehatan di Kementerian Kesehatan (Kemenkes), pada pertengahan tahun 2017 ini, implan tulang ini sudah mulai di produksi yang ditargetkan akan mengurangi impor pada bahan baku alat kesehatan mulai dari 70% hingga 80%.

Direktur Pusat Teknologi Material BPPT,  Asep Riswoko mengatakan, implan tulang yang dikembangkan memanfaatkan Ferro-Nickel lokal sebagai bahan baku utama. Ia menyebut, produksi implan tulang SS 316L ini dikembangkan dengan menggandeng mitra lokal menggunakan sumber daya Ferro-Nickel dari Pomala, Sulawesi Tenggara.

CEO PT. ZAP, Allan Cangrawinata, menyebutkan bahwa penelitian implan tulang ini sudah lama dilakukan pada tahun 2015 hingga pada tahun 2017 dengan peneliti dari BPPT untuk membuat prototipe implan tulang yang dinamakan “Zenmed Medical”.

“Kami berterimakasih atas dukungan pemerintah melalui program dana insentif Kemenristekdikti dan teman-teman peneliti dari BPPT, sehingga bisa mewujudkan prototipe implan tulang yang berbasiskan manufaktur, sebagai wujud komitmen kami mulai dari proses riset sampai pada hasil inovasi,” tutur Allan. (ard/tls)

Galeri