(Serpong,07/02/2017) Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Djarot Sulistio Wisnubroto menyampaikan status terkini pembangunan iradiator gamma merah putih kepada para awak media di Gedung 71, Kawasan Nuklir Serpong, Tangerang Selatan, Selasa (07/02). Iradiator merah putih yang dibangun sejak setahun yang lalu merupakan fasilitas nuklir yang memanfaatkan radiasi sinar gamma yang dapat digunakan untuk  pengawetan bahan pangan atau bahan lainnya serta sterilisasi alat kesehatan.

“Dikatakan iradiator gamma merah putih karena sekitar 80 persen komponen dalam pembangunan iradiator buatan Indonesia,” kata Djarot

Pembangunan iradiator gamma merah putih ditargetkan rampung pada bulan Agustus 2017 dan rencananya akan diresmikan pengoperasiannya bersamaan dengan rangkaian peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas). Saat ini sedang dilakukan pekerjaan pemasangan sistem mekanik dan elektrik.

Menurut Djarot, dengan menggunakan fasilitas ini akan menjadi jalan keluar untuk meningkatkan komoditas negeri kita, baik untuk pengawetan makanan maupun untuk sterilisasi alat kesetahan atau lainnya.

Pada kesempatan yang sama, Peneliti BATAN, Nada Marnada mengatakan banyaknya hasil pertanian, peternakan dan perikanan di Indonesia yang melimpah, sedangkan pengelolaan paska panen yang kurang memadai sehingga mengakibatkan sekitar 60-70% produk tersebut cepat rusak atau membusuk. Selain itu infrastruktur transportasi darat dan antar pulau yang belum memadai makin memperburuk kondisi produk paska panen. Hal itulah yang menjadi alasan dibangunnya fasilitas iradiator gamma merah putih.

Sebenarnya, menurut Nada Marnada, BATAN telah mengoperasikan fasilitas iradiator sejak tahun 1968, dan sejak itulah para pengguna dan produk yang diradiasi terus meningkat, bahkan beberapa daerah di Indonesia berminat untuk membangun fasilitas yang sama di daerahnya.

“Saat ini Indonesia hanya mempunyai 1 iradiator dengan skala komersial yang berada di Cibitung dengan konsumen sekitar 200 industri, sedangkan di BATAN dengan skala yang lebih kecil sudah 70 industri yang memanfaatkan fasilitas ini,” ujar Nada Marnada

Dengan rampungnya pembangunan iradiator merah putih ini, maka jumlah Iradiator dengan skala komersial di Indonesia akan bertambah dan sangat berguna bagi banyak kalangan, khususnya wilayah banten dan daerah lain yang sangat memperhatikan teknologi radiasi dibandingkan dengan teknologi konvensional.

“Teknologi radiasi sinar gamma adalah teknologi solusi bukan teknologi alternatif, karena dengan sinar gamma tidak akan menimbulkan residu dan efek jangka panjang,” pungkasnya. (pur)

– See more at: http://www.batan.go.id/index.php/id/kedeputian/pendayagunaan-teknologi-nuklir/rekayasa-fasilitas-nuklir/2986-iradiator-gamma-merah-putih-bakal-rampung-tahun-ini#sthash.4CfN6Oo9.dpuf