Semarang – Temaram cahaya lampu warna-warni, bunyi gamelan yang khas, suara pekikan nyanyian para sinden, mengiringi lakon Menristekdikti Mohamad Nasir di “Pentas Wayang Specta 60 Guru Besar Universitas Diponegoro” (Undip) dengan judul “Semar Mbangun Kahyangan”, Jumat (3/11) malam. Bertempat di Auditorium Imam Bardjo Undip, Nasir kali ini didapuk memerankan lakon Bathara Brahma, yaitu pimpinannya para dewa.

Pentas wayang orang kali ini terasa unik karena menghadirkan beberapa tokoh yang memainkan peran dalam pertunjukan tersebut. Sebut saja seperti Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang juga ikut meramaikan wayang orang dalam rangka dies natalis Undip ke-60 ini. Uniknya lagi, menurut Rektor Undip Yos Johan Utama, pertunjukan wayang orang ini diperankan oleh 60 Guru Besar Undip dari berbagai bidang ilmu sesuai tahun dies natalis Undip.

“Jarang sekali lho, sekitar 60 Guru Besar itu berkumpul jadi satu dalam acara yang tujuannya untuk memberikan inspirasi lewat jalan cerita wayang, sekaligus melestarikan budaya bangsa, dengan acara seperti ini, mudah-mudahan Undip semakin bermanfaat untuk bangsa dan dunia,” ucapnya.

Gelak tawa dan tepukan tangan meriah penonton terdengar begitu acara dimulai, raut muka serius maupun raut muka santai, tampak dari sekitar 1.000 penonton yang hadir. Ada yang mulai tersenyum sipu hingga tertawa terbahak-bahak, melihat tingkah laku dan gerak-gerik wayang orang di panggung yang kebanyakan terlihat sedikit kaku namun lucu. Karena memang setiap harinya wayang orang tersebut bukan sebagai penampil profesional.

Nasir yang ditemui di sela acara pertunjukan mengatakan bahwa ini merupakan pengalaman yang cukup memberikan kesan yang menyenangkan bagi dirinya, karena selama ini Ia belum pernah melakukan pertunjukan wayang. Dirinya pun merasa sedikit grogi dan sedikit canggung dalam melakukan peran sebagai Bathara Brahma, terlebih harus memakai pakaian wayang yang unik.

“Agak sedikit grogi juga, karena tidak sering latihan dan lebih banyak improvisasi di panggung. Ditonton orang banyak untuk jadi wayang, perasaannya luar biasa. Beda sekali dengan mengajar sebagai dosen di Kampus atau jadi Menteri, ini groginya 2 kali lipat dibanding biasanya, tapi dibawa santai saja supaya lancar dan tidak terlihat groginya,” tutur Nasir sambil tertawa.

Di sisi lain Nasir amat mengapresiasi berlangsungnya acara pentas wayang di Undip, karena menurutnya ini juga merupakan bagian dari melestarikan budaya bangsa dan perlu dipertahankan. Bisa menjadi contoh bagi Kampus lainnya, bahwa dies natalis juga bisa dimanfaatkan sebagai sarana menjaga kearifan lokal dan budaya.

“Apalagi cerita Semar Mbangun Kahyangan ini sarat maknanya dan penuh dengan edukasi moral. Memberikan inspirasi dan pengingat Kita sebagai manusia agar selalu ingat bahwa Kita itu bukan siapa-siapa di dunia ini, dan kita harus siap menerima masukan dari siapapun itu, penuh makna dan simbol kemanusiaan, bagus sekali,” jelas Nasir yang juga merupakan Guru Besar dari Undip.

Semar Mbangun Kahyangan secara garis besar bercerita mengenai kegelisahan sosok yang digambarkan sebagai Sang Pamomong, yaitu Semar, karena menjadi pengasuh ksatria, pangeran, dan para raja. Dia merasa tatanan dunia sudah tidak serasi. Banyak pemimpin yang mengingkari janji. Pemimpin di dunia wayang mencakup raja dan bahkan para dewa di Kayangan Suralaya. Tak puas dengan kepemimpinan Batara Guru di Suralaya, Semar ingin membuat istana yang baru. Penuh dengan simbol, edukatif, dan reflektif. (Dzi)

Galeri