Ditjen Dikti Libatkan Mahasiswa Jadi Duta Edukasi Perubahan Perilaku

Jakarta – Sebagai upaya penanganan Covid-19, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kemendikbud melaksanakan program Duta Edukasi Perubahan Perilaku. Program ini melibatkan mahasiswa untuk mengedukasi masyarakat secara langsung mengenai 3M, yaitu memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan dengan sabun. Program ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan, meyakinkan masyarakat untuk menyikapi pengetahuan tersebut dengan baik, dan menerjemahkan pengetahuan menjadi perilaku.

Dalam acara Talkshow Duta Edukasi Perubahan Perilaku, Selasa (13/10), Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Nizam, mengatakan peran Ditjen Dikti dalam penanganan Covid-19 dimulai sejak minggu pertama tepatnya pada tanggal 9 Maret 2020. Setelah Presiden Joko Widodo mengumumkan kasus pertama Covid-19 di Indonesia, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim mengeluarkan surat edaran kepada seluruh kampus dan sekolah untuk melakukan pembelajaran dari rumah dan melakukan perilaku hidup bersih dan sehat.

“Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan merealokasikan anggaran yang ada untuk menyediakan polymerase chain reaction (PCR) dan alat-alat perlindungan diri, guna membantu Rumah Sakit Pendidikan dan Fakultas Kedokteran. Seluruh Fakultas Kedokteran dari Rumah Sakit Pendidikan itu dimobilisasikan untuk menjadi covid test center dimana dalam waktu yang singkat dapat melakukan test untuk 8.000 orang,” tuturnya.

Lebih lanjut Nizam menyampaikan bahwa dalam waktu 3 hari terdapat 15.000 mahasiswa yang mendaftarkan diri untuk menjadi relawan. Berdasarkan hal tersebut maka dibentuklah program Relawan Covid-19 (RECON) bagi mahasiswa yang mempunyai latar belakang di bidang kesehatan. Pada program tersebut diberikan pelatihan bersama dengan WHO, Kementerian Kesehatan, dan berkoordinasi dengan satgas untuk melibatkan relawan dalam melakukan mitigasi covid-19 terutama dalam KIE (Komunikasi, Informasi, dan Edukasi).

“Mahasiswa tidak hanya dapat mengikuti program Relawan Covid-19, tetapi mahasiswa dapat mengambil kuliah kerja nyata dimana para mahasiswa tersebut akan melakukan program KKN Tematik yang mana salah satu misinya adalah mendidik masyarakat tentang bagaimana melindungi dirinya sendiri dan keluarganya dari bahaya Covid-19,” ujarnya.

Selain program RECON dan program KKN Tematik, Ditjen Dikti juga menjalankan program Kampus Mengajar yang diperuntukkan untuk mendampingi siswa-siswi SD, SMP, SMA yang diharuskan belajar dari rumah, tetapi tidak memiliki akses internet. Terdapat sebanyak 2.500 mahasiswa yang mengikuti program tersebut. Saat ini, terdapat program baru yaitu Duta Edukasi Perubahan Perilaku yang lebih berfokus pada perubahan perilaku melalui kampanye hidup bersih dan sehat yang akan dilakukan secara masif di lingkungannya masing-masing.

“Program-program tersebut dapat bersinergi satu sama lain dengan satu tujuan yaitu Indonesia sehat dan memberikan dampak yang besar bagi lingkungan. Sebagai contoh, di Indonesia terdapat 8 juta mahasiswa, jika 1 mahasiswa dapat mengedukasi dan merubah perilaku 5 orang, maka sudah 40 juta orang yang perilakunya berubah. Hal tersebut dapat memberikan perubahan terhadap masyarakat dan menjadikan Indonesia sehat, Indonesia kuat, dan Indonesia maju,” ungkap Nizam.

Pada kesempatan yang sama, Doni Monardo selaku Ketua Satgas Penanganan Covid-19/Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengucapkan terima kasih atas inisiasi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang melibatkan mahasiswa mencapai 1108 mahasiswa dari 72 perguruan tinggi di seluruh Indonesia dalam program duta edukasi perubahan perilaku.

Ia berharap dengan adanya Duta Edukasi Perubahan Perilaku, mahasiswa dan dosen pembimbing dapat mengajak masyarakat untuk melakukan 3M yaitu memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan dengan sabun. Selain itu mereka diharapkan dapat menggunakan komunikasi lintas budaya dan mencari tokoh-tokoh adat yang banyak didengar dan diaplikasikan oleh warga di daerah.

“Masuk sampai ke tingkat RT dan RW, dan makan makanan yang bergizi. Hal tersebut karena perjuangan kita tidak sebanding dengan perjuangan para tenaga kesehatan yang langsung turun dirumah sakit,” pesan Doni.

Sementara itu, Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satgas Covid-19 Sonny Harry B. Harmadi mengatakan untuk memutus mata rantai penularan Covid-19, maka perlu dilakukan dua hal, yaitu perubahan perilaku sebagaimana yang akan dikampanyekan pada program Duta Perubahan Perilaku ini serta penanganan kesehatan.

“Pandemi ini terjadi dan memaksa kita untuk hidup dengan Covid-19, maka harus ada adaptasi yang kuat. Kita ingin masyarakat punya kebiasaan untuk hidup sehat dan hidup bersih. Jadi, perubahan perilaku itu adalah upaya di hulu, mencegah orang supaya tidak tertular menjadi sangat penting. Mencegah supaya tidak tertular tadi harus dilakukan dengan cara mematuhi protokol kesehatan. Kalau kita berhasil mencegah penularan di hulu maka hilir kita tidak akan mengalami beban yang berlebihan,” terangnya.

Pada program ini, para mahasiswa yang terlibat nantinya akan terhubung dengan aplikasi yang berguna untuk melaporkan kegiatan apa saja yang telah dilakukan, berapa banyak masyarakat yang telah diedukasi setiap harinya, respon masyarakat terhadap edukasi yang diberikan, serta pelanggaran terhadap 3M di masyarakat.

“Apresiasi yang tinggi bagi para mahasiswa yang menjadi Duta Edukasi Perubahan Perilaku karena keikutsertaan secara sukarela untuk memberikan manfaat bagi masyarakat. Dan itu merupakan bagian dari cinta tanah air dan bagian dari bela negara,” pungkasnya.
(YH/FH/DH/NH/SH/MFS/VAL/YJ/ITR)

Humas Ditjen Dikti
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan