KOLABORASI MELALUI KEDAIREKA UNTUK KEMANDIRIAN INDUSTRI OTOMOTIF DI INDONESIA

Jakarta– “Hadirnya platform Kedaireka didorong atas dasar keprihatinan terhadap banyaknya reka cipta perguruan tinggi yang belum dapat terhilirisasi ke industri, serta sebaliknya industri yang lebih nyaman dengan beragam reka cipta yang datang dari luar negeri,” ucap Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendikbud RI, Nizam, saat sebagai Keynote Speaker pada Webinar Industri Otomotif yang diselenggarakan oleh Tim Kerja Akselerasi Reka Cipta Ditjen Dikti, Jumat (13/11).

Webinar “Menangkap Peluang Kerja Sama Industri Otomotif di Indonesia dihadiri lebih dari 150 peserta yang berasal
dari kalangan akademisi, peneliti, serta mahasiswa. Pada kesempatan tersebut turut hadir Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Paristiyanti Nurwardani, dan para narasumber yakni Direktur Teknik MAB Bambang Tri Soepandji, Direktur PT. Kreasi Mandiri Wintor Indonesia Reiza Treistanto, Direktur PT. Stechoq Robotika Indonesia Malik Khidir, dan moderator Mahir Bayasut dari Tim Kerja Akselerasi Reka Cipta Ditjen Dikti.

Nizam menyampaikan bahwa industri otomotif memiliki mata rantai yang sangat baik pada aspek produksi maupun pengembangan Research and Development (RnD). Ke depan, pemerintah perlu mendorong pengembangan Electric Vehicle (EV) atau biasa dikenal dengan kendaraan listrik. Peluang terhadap pengembangan reka cipta dibidang teknologi seperti demikan, harus direspon dengan cepat sebelum diambil oleh pihak-pihak lain khususnya industri luar negeri. Melalui kolaborasi RnD antara perguruan tinggi dan industri, maka kita dapat mengefisiensi biaya dan mampu mengoptimalkan peran serta SDM unggul perguruan tinggi baik dosen maupun mahasiswa.

“Dukungan pemerintah sangatlah penting, mengingat kemajuan perekonomian bangsa saat ini dan kedepannya sangat bergantung pada reka cipta,” ucapnya.

Paris menambahkan bahwa industri otomotif telah menyumbang 60 persen dari total PDB nasional berdasarkan data Kementerian Perindustrian RI. Walaupun sejak pandemi Covid-19 ini, industri otomotif menjadi salah satu sektor yang terkena dampak penurunan pada kuartal pertama tahun 2020. Namun, ia meyakini jika industri otomotif dapat bangkit kembali apalagi jika bersama-sama menjalin kolaborasi dengan perguruan tinggi dalam proses RnD. Dengan adanya dukungan pendanaan pemerintah melalui tiga skema pendanaan seperti insentif tambahan untuk mencapai 8 IKU, matching fund, serta competitive fund, maka industri dapat mengefisiensi biaya dengan ketentuan dukungan pembiayaan kemitraan satu banding satu (1:1).

“Misalnya saja biaya RnD salah satu industri otomotif sebesar 10 miliar, maka jika berkolaborasi bersama perguruan tinggi, akan diberi kesempatan pendanaan kemitraan sebesar 5 miliar rupiah sebagaimana ketentuan matching fund pada platform kedaireka,” ujarnya.

Sementara itu, Bambang Tri Soepanji menjelaskan bahwa industri otomotif MAB (Mobil Anak Bangsa) adalah bagian dari industri prinsipal yang dikembangkan secara mandiri oleh anak-anak terbaik bangsa ini. Pengembangan industri MAB menyasar pada kendaraan listrik, yang mana RnD telah dilakukan sejak tahun 2016. Adapun beberapa hal yang mempengaruhi industri otomotif pemula saat ini di antaranya adalah karakter pasar otomotif baik nasional maupun internasional, era revolusi industri 4.0, serta sumber daya dan dukungan keuangan.

“Pemilihan segmentasi pada kendaraan listrik juga bertujuan sebagai upaya untuk mengurasi emisi bahan bakar serta mampu menekan impor bahan bakar minyak,” jelas Bambang.

Sedangkan Reiza Treistanto memaparkan bahwa PT.KMWI merupakan bagian dari Astra Internasional yang memiliki lini bisnis pada perancangan dan manufaktur Alat Angkut Panen Perkebunan (Wintor) dan Alat Mekanis Multiguna Pedesaan (AMMDes). Sejak berdiri pada tahun 2018, PT.KMWI berkomitmen melalui misinya untuk berkontribusi membantu meningkatkan kualitas hidup masyarakat pedesaan dengan produk otomotif yang diciptakan. Sebagai contoh AMMDes telah banyak digunakan diberbagai pelosok pedesaan dan dijadikan sebagai kendaraan multiguna seperti ambulance desa, penjernih air, penyemprot disinfektan, dan sebagainya.

“Melalui kolaborasi kedaireka, harapannya dapat terfasilitasi pengembangan produk reka cipta baik dari dunia industri maupun perguruan tinggi,” ungkapnya.

Senada dengan Reiza, inovator Malik Khidr menjelaskan juga tantangan serta peluang industri manufacturing dan engineering di Indonesia yang sangat besar dan patut untuk dioptimalkan. Stechoq merupakan sebuah perusahaan yang berbasis robotics dan industrial IoT.

“Sejarah berdirinya industri yang saya kembangkan ini berawal dari peminatan beberapa mahasiswa Universitas Gadjah Mada dalam mengembangkan reka cipta dibidang robotics serta mengikuti berbagai kompetisi nasional maupun internasional,” ungkap Malik.

“Beberapa produk pengembangan reka cipta yang telah dihasilkan diantaranya adalah Mini TPS, Ventilator ICU, Smart Product, serta alat-alat praktikum lainnya,” jelasnya.

Di akhir acara, Nizam menyampaikan apresiasi kepada industri dan para inventor yang telah menunjukkan kesungguhannya dalam mewujudkan kedaulatan teknologi dan reka cipta di Indonesia. “Mari memulai langkah kecil bersama-sama dari sekarang, agar kita mampu membawa Indonesia yang lebih maju,” pungkasnya.

Humas dan Tim Akselerasi Reka Cipta Ditjen Dikti
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan