MERAYAKAN KAIN TRADISI DENGAN MENEBAR NILAI INKLUSI: Penerima Beasiswa IISMA Menggelar Kegiatan Sosial di Berbagai Penjuru Dunia

Jakarta, 12 Desember 2022 — Mahasiswa penerima beasiswa Indonesian International Student Mobility Awards (IISMA) tidak hanya menempuh proses pembelajaran di kampus unggulan dunia, mereka juga menjadi duta budaya Indonesia dengan mempromosikan potensi seni budaya nusantara. Program IISMA adalah program unggulan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) Republik Indonesia yang bekerjasama dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) yang ditujukan untuk mahasiswa Indonesia jenjang S1 untuk dapat mengikuti proses pembelajaran di kampus-kampus unggulan dunia selama satu semester. Program ini juga menjadi medium bagi para penerima beasiswa atau awardee untuk mengembangkan kapasitas diri dan berkontribusi bagi negeri. BATIK Challenge merupakan kegiatan non-akademik yang bertujuan sebagai wadah promosi budaya Indonesia. Selain merayakan momentum hari Batik pada bulan Oktober, yaitu pada masa mereka menempuh studi dalam rentang satu semester (Juli-Desember), BATIK juga merupakan kependekan dari Bracing Awareness, Togetherness, Inclusivity, and Kindness – yang sekaligus menjadi semboyan kegiatan ini. Kain Batik telah menjadi ikon budaya Indonesia yang mendunia. Oleh karena itu dengan merayakan Batik, diharapkan para awardee dapat memaksimalkan potensi mereka sebagai duta budaya Indonesia yang menyebarkan promosi seni dan budaya Indonesia ke berbagai penjuru dunia.

Sebagaimana semboyan challenge ini yang menekankan pada nilai kebersamaan dan nilai inklusi, para awardee menggelar beragam kegiatan sosial atau bergabung dengan kegiatan sukarelawan atau layanan masyarakat di tempat mereka belajar. Di Kawasan Eropa, awardees IISMA yang belajar di University of Pecs misalnya, mereka menggelar kegiatan untuk anak-anak di Elemenytar, sebuah penitipan anak usia 4-14 tahun di kota Pecs, Hungaria. Mereka mengajak anak-anak untuk menggambar pola batik dan mewarnainya, memperkenalkan permainan tradisional Indonesia seperti lari kelereng dan juga lomba makan donat sebagai modifikasi dari lomba makan kerupuk. Di akhir acara, mereka juga membagikan cenderamata berupa tempat pensil bermotif Batik untuk anak-anak yang sudah sangat antusias mengikuti kegiatan tersebut. Kegiatan yang mereka gelar ini menunjukkan nilai inklusi yaitu merangkul semua, tak hanya yang seusia, namun generasi yang lebih muda, untuk bisa mengenal budaya Indonesia.

Baca Juga :  Kerja Sama dengan Ristek/BRIN dan AIPKI, Ditjen Dikti Luncurkan Serial Kuliah Webinar Riset Konsorsium Covid-19

Sementara itu, di kawasan Amerika, awardees IISMA di UC Chile menggelar serangkaian kegiatan yang memberikan kontribusi bagi lingkungan, hewan, serta budaya Indonesia. Mereka membersihkan lingkungan kampus, memberi makanan hewan yang hidup di jalanan Santiago, dan menampilkan pagelaran gamelan di Museo del Sonido bersama KBRI Santiago. Rangkaian kegiatan ini bertajuk Memayu Hayuning Sesama, Memayu Hayuning Bawana yang berarti berbagi kebaikan untuk sesama manusia, dan berbagi kebaikan untuk dunia.

Di kawasan Australia, para-awardee IISMA di Monash University membuka stan yang menawarkan beragam kopi asli Indonesia, diantaranya, kopi Aceh, Lampung, Toraja, dan daerah penghasil kopi lainnya. Melalui secangkir kopi, mereka memberikan pengalaman rasa dan aroma, serta membuka perbincangan tentang Indonesia. Mereka juga mengajak pengunjung stan berdonasi untuk Literacy for Life Foundation, sebuah organisasi yang bergerak pada literasi masyarakat indigenous. Tak hanya itu, mereka juga membuka stan foto, dimana mahasiswa kampus Monash University dapat berfoto dan mengkreasikan kain tradisi Indonesia yang tersedia di stan tersebut.

Di kawasan Inggris dan Irlandia, awardees di University College Cork menggelar kegiatan yang meliputi pameran kain tradisi Indonesia yang dilengkapi dengan keterangan yang informatif. Peserta dalam acara tersebut juga mendapatkan pengalaman langsung menggunakan kain tradisi Indonesia dan bahkan belajar proses membuat Batik dengan workshop ‘men-canthing’. Selain itu mereka mengajak para peserta berdonasi ke lembaga kanker UCC’s Cancer Society.

Di kawasan Asia, awardees di Chulalongkorn University mengikuti kegiatan fashion show kain tradisi Indonesia dan workshop melukis bersama sejumlah seniman lukis asli Indonesia, bekerja sama dengan KBRI Bangkok. Selain itu, mereka juga mendonasikan darah mereka melalui Thai Redcross karena mereka percaya bahwa setetes darah mereka dapat membantu menyelamatkan kehidupan manusia, di manapun mereka berada.

Baca Juga :  Menyongsong Era Merdeka Belajar, LP2M UM Gelar Webinar

Tak hanya di empat kampus di atas, BATIK Challenge ini diikuti oleh 1155 awardees IISMA di 72 perguruan tinggi kelas dunia di 26 negara di Kawasan Eropa, Amerika, Australia, dan Asia secara kolektif di masing-masing host university. Selama kegiatan berlangsung, tentunya para awardee menggunakan Batik serta kain tradisi Indonesia lainnya, untuk memperkenalkan keberagaman budaya Indonesia ke berbagai penjuru dunia. Dengan adanya BATIK Challenge ini, diharapkan IISMA yang merupakan salah satu program kebijakan Merdeka Belajar – Kampus Merdeka (MBKM) yang diluncurkan oleh Mendikbudristek RI, Nadiem Makarim, dapat mencapai tujuannya yaitu mempersiapkan mahasiswa untuk menjadi lulusan yang tangguh, relevan dengan kebutuhan zaman, dan siap menjadi pemimpin dengan menjunjung semangat kebangsaan yang tinggi. Ketua Program IISMA Rachmat Sriwijaya menyampaikan, “Kegiatan BATIK Challenge selain untuk mengenalkan budaya Indonesia di tingkat global juga menjadi ruang aktualisasi bagi para awardee IISMA untuk melatih kemampuan kolaborasi dan juga berkontribusi yang memberikan dampak positif untuk masyarakat di sekitar mereka dan untuk negeri.”
Kegiatan Batik Challenge ini merupakan manifestasi dari pesan Plt. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, riset, dan Teknologi, Nizam, saat melepas para awardee IISMA pada bulan September lalu. “Adik-adik sekalian adalah benar-benar wakil dari Indonesia untuk mengabarkan tentang negara kita ke komunitas internasional, disamping menimba ilmu ke luar negeri, menimba pengalaman dan membangun persahabatan global. Ini kesemaptan yang sangat baik untuk mengenal dunia”, ucap Nizam.

“Ketika tiba di negara tujuan, kalian harus berpencar dalam membangun persahabatan global. Sampaikan kabar seluas-luasnya tentang masakan, lagu daerah, dan foto-foto tentang keindahan alam Indonesia. Kenalkan tentang keramahtamahan masyarakat Indonesia dan sampaikan bahwa Indonesia telah menjadi negara yang maju,” pungkasnya.
(YH/DZI/FH/DH/NH/SH/MSF)

Humas Ditjen Diktiristek
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi

Laman : www.diktiristek.kemdikbud.go.id
FB Fanpage : @ditjen.dikti
Instagram : @ditjen.dikti
Twitter : @ditjendikti
Youtube : Ditjen Diktiristek
E-Magz Google Play : G-Magz
Tiktok : Ditjen Dikti

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
513 Views