Peningkatan Kualifikasi dan Kompetensi Dosen Penggerak untuk Mendukung Kampus Merdeka

Jakarta – Untuk mendukung implementasi program Kampus Merdeka, khususnya pelaksanaan 8 (delapan) jenis kegiatan pembelajaran di luar program studi, Direktorat Sumber Daya Ditjen Dikti melakukan peningkatan kualifikasi dan kompetensi dosen. Adapun upaya ini dilakukan kepada dosen yang berperan sebagai pembimbing, mentor, dan fasilitator bagi mahasiswa dalam melaksanakan pembelajaran di luar program studi tersebut. Upaya peningkatan kualifikasi dan kompetensi dosen ini dilakukan melalui kegiatan Sosialisasi Dosen Penggerak Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka, pada Senin (9/11).

Pada pembukaan acara sosialisasi, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Nizam mengawali sambutannya dengan menjelaskan kondisi dunia yang saat ini mengalami perubahan yang sangat cepat dan dinamis sehingga melatarbelakangi lahirnya kebijakan Kampus Merdeka.

“Kita sering mendengar keluhan dari dunia industri, bahwa lulusan perguruan tinggi selalu tidak sesuai dengan kebutuhan yang ada di lapangan dan selalu tertinggal dengan kemajuan yang ada di dunia kerja. Hal tersebut yang mendorong kita untuk mempersiapkan diri dan melakukan disrupsi diri agar dapat melakukan adaptasi dan transformasi yang cepat pada pendidikan tinggi, agar sesuai dengan kebutuhan society 5.0,” ujar Nizam.

Society 5.0 merupakan masyarakat yang hidup berdampingan dengan teknologi, perubahan yang cepat, dan masyarakat yang penuh kreativitas. Bidang perekonomian kedepannya akan semakin ditentukan oleh kreativitas dan inovasi dari sumber daya manusia. Bahkan, Mckinsey memperkirakan dalam 10 tahun ke depan, 23 juta lapangan pekerjaan di Indonesia akan hilang tergantikan oleh Artificial Intelegence, Internet of Things, mesin yang dapat berpikir, dan kemampuan analisis yang semakin dahsyat. Sementara itu, kita masih mendidik para mahasiswa dengan pembelajaran era industri 2.0 atau 3.0.

Adapun mengenai proses pembelajaran di perguruan tinggi, Nizam mengatakan belum banyak perubahan yang terjadi dalam proses pembelajaran, karena dosen masih menjadi satu-satunya sumber ilmu, sedangkan sumber ilmu sudah terbuka dari manapun. Hal tesebut yang mendorong terjadinya disrupsi, karena tiap mahasiswa mempunyai garis tangan dan cita-cita yang berbeda antara satu dengan yang lain.

“Maka dari itu, hal yang dapat dilakukan adalah merubah pendekatan untuk mendapat kompetensi sesuai dengan yang dibutuhkan oleh para mahasiswa, karena tidak sedikit dari mahasiswa yang masih bingung saat lulus nanti akan melamar pekerjaan dimana dan sebagai apa,” ucapnya.

Berdasarkan hal tersebut, Nizam menambahkan bahwa kebijakan Kampus Merdeka hadir untuk membuka ruang-ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan diri dan potensi sesuai dengan apa yang dicita-citakan. Nizam juga menekankan peran dosen akan bergeser menjadi pendamping bagi mahasiswa untuk menjelajah kompetensi, ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal tersebut sangat dibutuhkan agar Indonesia dapat melahirkan sumber daya yang unggul, kreatif, inovatif, dan mempunyai kompetensi yang sesuai dengan dunia kerja.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Sumber Daya Ditjen Dikti, Sofwan Effendi menjelaskan dua tujuan utama dari program Merdeka Belajar Kampus Merdeka, yaitu bagaimana mengakselerasi inovasi di level pendidikan tinggi melalui pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi dan bagaimana menyiapkan mahasiswa yang akan masuk dunia kerja agar sesuai dengan keahlian dimilikinya.

“Sebagaimana yang kita ketahui, memfasilitasi pembelajaran dan dosen penggerak di dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi sudah ditetapkan di Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 3 Tahun 2020,” jelasnya.

Sofwan mengatakan tujuan dari kegiatan sosialisasi dosen penggerak ini agar terjadinya kolaborasi antara dosen dan mahasiswa di dalam menjalankan jenis-jenis kegiatan yang terkait dengan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka. Para dosen yang hadir, nantinya diharapkan dapat mendampingi para mahasiswa dalam melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi khususnya di luar kampus. Kegiatan ini akan dibagi menjadi tiga sesi, yaitu sesi regional barat, sesi regional timur, dan sesi regional tengah.

Setiap regional akan dihadiri oleh kurang lebih 300 dosen penggerak, sehingga diharapkan dapat memanfaatkan informasi yang akan diberikan oleh para narasumber yang dihadirkan untuk pembelajaran Tri Dharma Perguruan Tinggi dalam konteks kebijakan Kampus Merdeka.
(YH/DZI/FH/DH/NH/MFS/VAL/YJ/ITR)

Humas Ditjen Dikti
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan