Tingkatkan Literasi Media, Ditjen Dikti Jalin Kerjasama dengan Maarif Institute

Jakarta – Dalam upaya meningkatkan literasi media untuk mahasiswa dan dosen, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) menandatangani naskah nota kesepahaman dengan Maarif Institute for Culture and Humanity. Literasi media merupakan kemampuan untuk memahami, menganalisis, dan merekonstruksi citra di media. Maka, mahasiswa dan dosen dianggap menjadi kelompok yang dapat meningkatkan literasi media.

Nota kesepahaman yang dibuat di antara ya memiliki ruang lingkup sebagai berikut: pelatihan literasi media bagi mahasiswa dan dosen, sosialisasi pelatihan literasi media, serta monitoring dan evaluasi pelatihan literasi media. Sebelumnya, kegiatan komunikasi dan kolaborasi sudah kurang lebih 3 bulan dijalankan dan sampailah pada penandatanganan nota kesepahaman. Hal tersebut disampaikan oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Paristiyanti Nurwardani, pada acara Penandatanganan MoU antara Ditjen Dikti dengan Maarif Institute, pada Jumat (23/10).

Nantinya, ujar Paris, diharapkan kerja sama ini dapat betul-betul dilaksanakan dengan perencanaan yang baik, menerapkan win-win solution antara Ditjen Dikti dengan Maarif Institute, melakukan implementasi, monitoring, dan evaluasi untuk keberlanjutan serta perbaikan yang terstruktur agar kegiatan kerja sama di masa yang akan datang jauh lebih baik.

“Kami titipkan kepada Maarif Institute sebanyak 287 ribu dosen dan 8 juta mahasiswa untuk diberikan literasi tentang media dan agar dapat mempercepat transformasi pendidikan tinggi untuk meningkatkan transformasit ekonomi. Sesuai dengan tagline dari Ditjen Dikti yaitu Kampus Merdeka Indonesia Jaya, dimana diharapkan hal tersebut dapat dilakukan bersama-sama,” tuturnya.

Pada kesempatan yang sama, Dei Sudarmo selaku Staf Khusus Mendikbud menyampaikan apresiasi dan rasa bangga yang luar biasa karena terciptanya kerja sama antara Ditjen Dikti dengan Maarif Institute. “Hal ini merupakan milestone kerja sama dan sinergi antara Ditjen Dikti dengan Maarif Institute. Atas pencapaian ini, diharapkan kita dapat bekerja lebih erat lagi,” ungkapnya.

Direktur Program Maarif Institute, Khelmy menyampaikan permasalahan literasi media yang terjadi saat ini diakibatkan oleh kurangnya informasi dan solusi yang tersedia, sehingga tantangan hoaks semakin komplek sementara belum ada panduan kurikulum dan materi yang tersedia pun belum memadai. Selain itu, sebagian besar literasi media disajikan dalam bentuk kelas yang berdampak pada keterbatasan masyarakat untuk mengakses materi-materi tersebut. Hal ini juga diperburuk dengan peningkatan konsumsi konten internet yang negatif, dan tidak diiringi dengan literasi digital atau literasi informasi.

Khelmy menyampaikan melalui kerjasama Program Tular Nalar, Maarif Institute berharap dapat menularkan nalar yang baik dan meningkatkan literasi digital di masyarakat. Program ini ditujukan kepada 26.700 guru, dosen, dan mahasiswa calon guru dalam bentuk daring dan luring selama 1,5 tahun dimana para peserta program diberikan materi pelajaran terkait pemikiran kritis dan literasi media berupa seminar, pelatihan, talkshow radio, video, modul, assessment, serta platform pembelajaran yang dapat diakses secara gratis.

“Program ini yang nantinya akan Maarif Institute kombinasikan dengan Sistem Pembelajaran Daring (SPADA) yang sudah dimiliki oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan akan berjalan di 23 kota. Harapannya, peserta program ini memiliki kompetensi pribadi mengenai literasi digital, bisa merespon situasi dan hoaks, dan terakhir memiliki suatu ketahanan yang luar biasa terhadap dirinya atau bahkan bisa berdampak pada lingkungan sekitarnya atau menjadi agent of change,” tuturnya.

Suyoto Selaku Bendahara Yayasan Ahmad Syafi’i Maarif dalam kesempatan yang sama menyampaikan bahwa terdapat 4 modal yang harus dimiliki dalam berbangsa dan bernegara yaitu fiskal, natural, human capital, dan social capital. Saat ini, dunia digital berhubungan langsung dengan 2 modal yang besar yaitu human capital serta manusia sekaligus. Selain itu, perlu adanya moralitas dalam penggunaan dunia digital di masa sekarang ini. Tanpa adanya dua modal yang kuat yaitu human capital dan manusia, sebuah bangsa tidak akan produktif dalam membangun bangsa dan negara serta melakukan pembangunan berkelanjutan.

“Dunia digital jika dimasukan nilai-nilai keagamaan yang positif dan juga melakukan kolaborasi, kerjasama, dan gotong royong saya yakin kecepatan hoaks atau ujaran kebencian itu akan bisa ditandingi minimal dikurangi, oleh karenanya saya berterima kasih kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Maarif Institute, dan Google atas kerjasama ini,“ pungkasnya.
(YH/DZI/FH/DH/NH/MFS/VAL/YJ/ITR)

Humas Ditjen Dikti
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan