Jakarta – Kebijakan Merdeka Belajar: Kampus Merdeka merupakan salah satu katalis terbentuknya ekosistem pentahelix, yaitu sinergi yang menghubungkan perguruan tinggi dengan kebutuhan industri, dunia usaha, masyarakat dan pemerintah. Di dalam ekosistem pentahelix ini, perguruan tinggi memiliki peran sebagai mata air bagi industri, dunia usaha, masyarakat dan pembangunan bangsa. Hal ini disampaikan oleh pelaksana tugas Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Nizam, pada saat menjadi pembicara kunci pada webinar dengan tajuk “Membangun Kolaborasi Triple Helix Transportasi dan Logistik melalui Transformasi Kampus Merdeka” yang diselenggarakan oleh Institut Transportasi dan Logistik Trisakti pada Sabtu (27/6).

Nizam menjelaskan bahwa selama ini tidak ada jembatan penghubung antara kebutuhan dunia kerja dengan perguruan tinggi, masing-masing berjalan sendiri. Perguruan tinggi dengan pelaksanaan tri dharma, sedangkan dunia kerja dengan orientasi ekonomi produktifitasnya. “Di sinilah kebijakan Merdeka Belajar: Kampus Merdeka mengambil peran menciptakan link and match dan menjadi mata rantai penghubung antara perguruan tinggi dengan kebutuhan dunia kerja,” jelas Nizam.

Lebih lanjut Nizam menerangkan bahwa perguruan tinggi pada era revolusi industri 4.0 ini harus mampu mendisrupsi diri dan menyiapkan mahasiswa sebagai pembelajar sepanjang hayat yang responsif dan adaptif terhadap perubahan zaman. Untuk itu kampus perlu membuka kesempatan setiap mahasiswa untuk mengembangkan potensi sesuai peminatan masing-masing mahasiswa melalui pembelajaran berbasis pengalaman atau experience learning.

Hal ini sesuai dengan hakekat tujuan pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara yaitu melahirkan insan yang merdeka dan berbudaya. Insan merdeka merupakan orang-orang yang mampu mandiri dan berdikari, dalam konteks saat ini adalah orang-orang yang memiliki kemampuan bekerja, memanfaatkan teknologi dan keterampilannya untuk tidak bergantung pada orang lain untuk menentukan masa depannya sendiri. Setiap mahasiswa memiliki rencana masa depannya masing-masing. Hal ini tidak bisa diseragamkan dalam kerangka yang sempit melalui kurikulum yang sangat rigid dari ruang kelas dan laboratorium semata.

“Kampus menjadi fasilitator bagi mahasiswa memperluas cakrawala dan ruang belajar sesuai dengan minat serta bakat masing-masing mahasiswa. Spirit inilah yang menjiwai Merdeka Belajar: Kampus Merdeka,” jelas Nizam.

Untuk mewujudkan link and match antara perguruan tinggi dengan dunia kerja, Nizam menyarankan adanya sinergi antara kampus dengan industri pada pelaksanaan proses pembelajaran di perguruan tinggi, misalnya dengan pelibatan industri dalam penyusunan kurikulum pembelajaran sehingga kebutuhan-kebutuhan dunia industri dapat dipenuhi oleh perguruan tinggi. Selama ini perguran tinggi masih ada yang jalan sendiri dalam pelaksanaan pembelajaran maupun riset. Sementara industri dan dunia usaha juga berjalan sendiri menjawab problematika serta kebutuhan kompetensi sumber daya manusia. Nizam katakan jika link and macth tidak dikonstektualkan melalui pendidikan, maka akan terjadi missing link.

Lanjut Nizam, Perguruan tinggi harus berfokus pada pembentukan learning outcome sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Perguruan tinggi harus melibatkan industri dan dunia usaha dalam proses perumusan dan pembentukan learning outcome. “Ketika learning outcome dibentuk secara bersama-sama antara perguruan tinggi dengan dunia kerja dapat dipastikan bahwa lulusan perguruan tinggi jauh akan siap menghadapi dunia kerja maupun menciptakan lapangan kerja secara mandiri, dan tangguh menghadapi masa depan,” papar Nizam.

Pentahelix, maupun triplehelix akan terjadi dengan Kampus Merdeka sebagai katalisnya. Antara dunia kerja dengan Universitas akan tersambung. Teknikal gap yang ada di industri, trend masa depan yang dihadapi oleh industri dan problem-problem industri akan tersambung dengan perguruan tinggi, dimana di tengahnya ada Merdeka Belajar: Kampus Merdeka.

Di akhir paparannya, Nizam mendorong adanya gotong royong antara pelaku pendidikan dengan penerima manfaat pendidikan sebagai kunci membangun generasi unggul yang tersambung antara dunia pendidikan dengan dunia kerja.

Webinar bertajuk “Membangun Kolaborasi Triple Helix Transportasi dan Logistik melalui Transformasi Kampus Merdeka” diselenggarakan dalam rangka peringatan Dies Natalis ke – 50 Institut Transportasi dan Logistik Trisakti. Pada webinar yang dimoderatori oleh Illah Sailah ini, selain menghadirkan pelaksana tugas Dirjen Pendidikan Tinggi sebagai pembicara kunci, juga menghadirkan pembicara antara lain Rektor Institut Pertanian Bogor, Rektor Universitas Trisakti, Ketua Umum Masyarakat Transportasi Nasional, serta pembahas dari Ikatan Alumni Lemhanas yaitu Laksda TNI (Purn) Surya Wiranto dan Laksda TNI (Purn) Ishak Latuconsina.(YH/MSF/DZI/FH/DH/NH)

Humas Ditjen Pendidikan Tinggi
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan