Indopos, 23 Maret 2016

Kementerian Riset, Teknologi (Ristek) dan Pendidikan Tinggi (Dikti) terus mengembangkan varietas bibit unggul padi melalui Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan). Pengembangan benih varietas padi unggul tersebut menggunakan iradiasi teknologi nuklir sehingga menghasilkan bibit unggul yang memiliki sifat unggul dari benih induk. Sifat unggul itu meliputi tahan hama, batang kokoh tidak mudah roboh dengan hasil panen yang melimpah.

“Kami sudah meminta Batan untuk menyebarkan hasil penangkaran bibit dari sumber ke seluruh kabupaten/kota. Kemudian dikembangkan di daerah,” ujar Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir saat kunjungan kerja pada Panen Raya di Cilacap, Jawa Tengah, Selasa (22/3).

Menurut Nasir, angkah tersebut bisa mengatasi masalah kelangkaan bibit padi. Pasalnya, di tiap daerah dapat mengembangkan bibit varietas unggul dengan membuka penangkaran bibit, selanjutnya mendistribusikan kepada petani. Salah satu, menurutnya dapat menjawab kelangkaan bibit padi varietas unggul di kalangan petani. “Saat ini kami memberikan keleluasaan kepada petani untuk memilih jenis padi apa saja, asal memiliki nilai tambah. Dengan tersedianya varietas padi unggul ini agar petani bisa memilih produk yang lebih baik,” katanya.

Nasir menyebutkan, keterbatasan jenis varietas padi unggul yang dapat diproduksi oleh Batan karena terbatasnya jumlah peneliti di Batan. Untuk anggarannya saja, menurut Nasir satu jenis varietas saja mencapai Rp 1 hingga Rp 1,5 miliar. “Kami hanya membantu pada riset pengadaan sumber saja. Karena itu tidak mungkin diteliti oleh petani,” ungkapnya.

Kendati, cukup tinggi biaya untuk riset sumber benih unggul, nantinya petani dapat memanfaatkannya dengan nilai hasil pertanian yang tinggi pula.

Terkait subsidi bibit varietas padi unggul, masih ujar Nasir pihaknya mendorong kepala daerah untuk bisa mengalokasikan anggaran subsidi bibit padi. Diharapkan, petani memperoleh kemudahan dalam memanfaatkan varietas padi hasil teknologi nuklir. “Kebijakan subsidi bibit ada di pemerintah daerah. Kami harapkan subsidi ini gratis. Supaya petani mendapat subsidilangsung dari pemerintah,” ucapnya.

Ia mengasumsikan, subsidi untuk satu hektare sebesar Rp 10-12 juta. Jumlah itu dinilai masih dalam batas kesanggupan Pemda mendanai subsidi hingga 10 hektare atau senilai Rp 120 juta. “Kami akan dorong ke arah sana, supaya petani semakin sejahtera,” katanya.

Sementara itu, Kepala Batan Djarot Sulistio Wisnubroto mengatakan, sejak tahun 2012, bibit padi hasil iradiasi nuklir itu sudah tersebar di 24 Kabupaten/Kota seluruh Indonesia. Djarot Sulistio menyebutkan, kadar radiasi nuklir yang dipakai dalam pengembangan varietas padi sebagai indukan sangat rendah. Sehingga teknologi iradiasi tersebut tergolong aman untuk pangan. Beberapa varietas padi unggulan, menurut Djarot di antaranya: Cimelati, Mugibat dan beberapa varietas unggul lainnya.

“Kami menggunakan sinar Gamma dengan kadar yang sudah diatur oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). Ini juga sudah dilakukan dibeberapa negara seperti Rusia dan aman,” ujar Djarot Sulistio Wisnubroto.

Keunggulan varietas khususnya jenis padi Mugibat, diungkapkan Djarot memiliki beberapa keunggulan. Diantaranya batang yang semakin kokoh dan tahan rebah, tahan hama, serta mampu menghasilkan produktivitas hingga 11 ton per hektare.

Padahal, sebelumnya varietas padi cimelati yang notabene sebagai indukan maksimal dalam sekali panen hanya mampu 8-9 ton perhektare.

Sementara potensi luasan sawah yang ada di Kebumen hampir 40 hektare. “Tantangan ke depan, sering ditemui benih yang bukan asli mugibat. Kita harapkan kerja sama Pemda dan Dinas setempat mengatasi’hal itu,” tutur dia. (nas)