Menindaklanjuti kerjasama pemerintah Indonesia dengan Swedia dibidang riset, teknologi, dan pendidikan tinggi, Kemenristekdikti mengundang pakar Science Techno Park (STP) dari Lund University – Swedia untuk berbagi pengalaman dalam pembangunan STP di Swedia. Kerjasama yang sudah berlangsung selama 3 tahun terkait pengembangan sistem inovasi ini akan diperpanjang sampai 2019.

“Presiden Jokowi telah memberikan tugas kepada Kementerian Riset, Tekhnologi, dan Pendidikan Tinggi maupun LPNK untuk membangun 100 STP sampai akhir tahun 2019. Hingga saat ini yang dibangun baru 60 STP dan beberapa diantaranya masih sangat awal untuk membuat master plannya,” ujar Patdono Suwignjo, Dirjen Kelembagaan Iptek Kemenristekdikti dalam acara diskusi di ruang rapat lantai 24 Gedung BPPT 2, Rabu (16/03/2016).

Didalam pelaksanaan pembangunan STP, mulai dari perencanaan, kontruksi, operasi hingga evaluasi karena belum memiliki pengalaman yang cukup, maka Kemenristekdikti perlu bantuan dari para ahli salah satunya dari Lund University.

“Bulan lalu saya berkesempatan untuk melihat STP yang dibangun di Swedia. Dengan melihat pengalaman yang dimiliki oleh Lund University maka kerjasama ini sangatlah tepat untuk mendampingi kita dalam merencanakan, membangun, maupun mengoperasikan STP ini,” ujar Patdono.

Patdono menambahkan, meskipun saat ini yang memiliki kerjasama terkait pembangunan dan pengoperasian STP di Indonesia adalah Kemenristekdikti, tetapi tim Lund University akan tetap membantu. Baik STP yang ada di Kementerian Pertanian, Kementerian Perindustrian, Kementerian Perikanan maupun di Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK).

Bagi Lund University, kerjasama ini merupakan hal yang sangat penting. Mereka yakin bahwa pembangunan 100 STP ini dapat terwujud, dan ingin membantu membangun STP yang benar dan sukses. STP yang benar tidak memproduksi barang tetapi memproduksi UKM (Usaha Kecil Menengah) atau PPBT (Pengusaha Pemula Berbasis Teknologi). (ifa/bkkp)

Galeri