(Jakarta, 08/10/2017). Kota Bandung mendapat penghargaan sebagai kota metropolitan dengan udara terbersih se-Asia Tenggara. Penghargaan ini diterima langsung Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil, dalam acara The 4th ASEAN Environmentally Cities Award di Brunei Darussalam pada Selasa (12/09). Bersihnya udara di Bandung tidak luput dari peran pemanfaaatan teknologi nuklir. Teknik analisis nuklir (TAN) mampu membantu Pemerintah Kota Bandung dalam menyediakan data analisis kualitas udara di kota kembang tersebut.

Peneliti BATAN, Muhayatun Santoso saat ditemui di Pusat Sains dan Teknologi Nuklir Terapan (PSTNT) Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) Bandung mengatakan, BATAN berperan dalam mengidentifikasi dan mengkarakterisasi partikel udara yang sangat kecil dan halus atau berukuran kurang dari 2,5 mikrometer. Di Asia, khususnya di Indonesia, hanya sedikit tersedia data partikulat udara kasar atau data PM 10. Apalagi, data partikulat udara halus yang berukuran kurang dari 2,5 mikrometer atau PM 2,5 sangat jarang tersedia. Padahal data PM 2,5 sangat dibutuhkan karena dampak kesehatan yang ditimbulkan. Partikulat halus sangat berbahaya karena dapat menembus bagian terdalam dari paru-paru dan jantung.

Hasil analisis ini menjadi salah satu dasar Pemerintah Kota Bandung dalam membuat peraturan kota seperti mengatur sistem limbah rumah tangga, mengedukasi masyarakat mengenai dampak berbahaya pembakaran sampah bagi mereka, dan membuat program yang menunjang terwujudnya kualitas udara yang bersih.

“Data yang diberikan oleh BATAN sangat penting sebagai salah satu dasar kebijakan berbasis iptek. Kami juga membuat program untuk mendukung terwujudnya kualitas udara yang baik seperti Car Free Day, memperbanyak taman – taman kecil kota, memperbaiki transportasi umum, dan memperbaiki standar kendaraan umum dengan mengganti bahan bakar dari minyak ke biofuel, “ ungkap Irmamurti, Kepala Seksi Rehabilitasi Lingkungan, Dinas Lingkungan Hidup Pemkot Bandung.

Meskipun memungkinkan untuk mengukur jumlah bahan partikulat di udara dengan menggunakan teknik konvensional, namun TAN dapat menyediakan data mengenai komposisi partikel sangat halus. TAN antara lain dapat merinci kandungan timah, besi, potassium, sulfur, silikon dan partikulat lainnya. Sebagai gambaran, diameter rambut manusia umumnya berukuran 70 hingga 100 mikrometer. BATAN mampu mengidentifikasi partikel udara kurang dari 2,5 mikrometer, yang artinya sangat kecil.

Bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan dinas setempat, saat ini telah tersedia 17 titik pengukuran sampel di 17 kota yang tersebar merata di setiap pulau di Indonesia. “Data mengenai kualitas udara adalah langkah awal bagi pemerintah untuk mengambil tindakan, dan TAN menyediakan data ini,” ujar Jupiter Sitorous Pane, Kepala PSTNT BATAN, Bandung. (tnt).

 

http://www.batan.go.id/index.php/id/pstnt-id/beriat-pstnt/3750-kontribusi-nuklir-mewujudkan-udara-bersih-di-kota-bandung