LAPAN dan Universitas Padjadjaran (Unpad) mengimplementasikan jalinan kerja sama yang sudah disepakati sebelumnya dengan menandatangani naskah Perjanjian Kerja Sama (PKS). Senin (06/11), kedua pihak melakukan seremonial penandatanganan PKS di Bale Rumawat, Kampus Unpad, Jl. Dipati Ukur Nomor 35 Bandung, Jawa Barat. Naskah ditandatangani oleh Dekan Fakultas Hukum Unpad, Prof. Dr. An An Chandrawulan dan Kepala Pusat Kajian dan Kebijakan Penerbangan dan Antariksa, Agus Hidayat.

Sebagai implementasinya sekaligus, dilaksanakan kuliah umum yang disampaikan Kepala LAPAN, Prof. Dr. Thomas Djamaluddin. Kepala LAPAN memaparkan tema “Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Penerbangan dan Antariksa”. Kuliah ini dihadiri oleh mahasiswa dan beberapa staf dosen di Fakultas Hukum Unpad.

Chandrawulan mengatakan, kerja sama yang dijalin dengan LAPAN merupakan upaya untuk mengonkretkan komitmen dan kontribusinya kepada negara melalui kegiatan akademik. Hal tersebut bukan alasan lagi, pada kenyataannya banyak permasalahan bangsa di bidang keantariksaan yang harus diselesaikan.

“Saya berharap, kuliah ini menjadi inspirasi dan dorongan dalam kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat,” ujarnya. Sehingga, hasil dari pemikiran bersama, nantinya, bisa mendorong terciptanya inovasi-inovasi yang terus berkembang di bidang kedirgantaraan dan keantariksaan. Sehingga, hal tersebut bermanfaat untuk perkembangan.

Sementara, Kepala LAPAN dalam sambutannya menyampaikan, pengembangan aspek kebijakan dan hukum perlu sekali adanya kerja sama. “Untuk menguasai iptek, kita tidak hanya mempelajari teknisnya saja, namun juga aspek kebijakan dan regulasinya,” jelasnya.

Di dalam Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2013 tentang keantariksaan, dijelaskannya, terdapat batas ruang, yaitu ruang udara dan antariksa. Batasan tersebut yang benar0benar harus dipahami, terutama dari sisi regulasi yang berlaku baik secara nasional maupun internasional.

“Mudah-mudahan dengan kerja sama ini bisa menggali masalah-masalah actual yang saat ini sedang terjadi maupun di masa mendatang. Sebab iptek berkembang dengan pesatnya” harapnya. Dengan kerja sama yang saling memperkuat, akan memberi manfaat baik untuk kepentingan nasional maupun dalam hubungan internasional.

Dalam kuliah umum, Thomas menyampaikan visi dan misi LAPAN melalui slogan “LAPAN Unggul Indonesia Maju, LAPAN Melayani Indonesia Mandiri”. Untuk menjadi pusat unggulan, dijelaskannya, LAPAN menggerakan kompetensi dan melakukan layanan informasi kepada publik. Untuk itu, LAPAN mempunyai lima kegiatan, yaitu sains, penginderaan jauh, penguasaan teknologi, peluncuran, dan komersialisasi.

Menurutnya, pemanfaatan teknologi informasi merupakan bagian yang tak terpisahkan dengan teknologi antariksa. Contohnya saja, telpon seluler yang saat ini memanfaatkan teknologi satelit untuk berkomunikasi. Artinya, tanpa menguasai teknologi satelit, Indonesia akan menjadi negara yang bergantung dengan negara lain.

“Kalau data setelit masih membeli dari negara lain, bagaimana kita memperkuat negara ini menjadi negara yang mandiri di bidang keantariksaan. Padahal dilihat dari sejarah pemanfaatan satelit, Indonesia menjadi negara ketiga setelah Amerika dan Kanada, yaitu peluncuran Satelit Palapa,” paparnya.

Kepala LAPAN kemudian menjelaskan berbagai riset yang dikembangkan di LAPAN. Riset-riset tersebut berpotensi dalam mendukung peningkatan pembangunan nasional. Ia menerangkan mulai dari pengembangan teknologi satelit, pesawat transportasi nasional, pesawat tanpa awak, pengembangan teknologi roket, dan kegiatan riset bidang sains antariksa dan atmosfer lainnya.

Indonesia sangat membutuhkan data satelit penginderaan jauh, mengingat negara ini merupakan negara maritim yang terdiri dari banyak kepulauan. Tentunya kondisi geografis semacam ini sangat memerlukan pemantauan permukaan bumi.

LAPAN mengembangkan teknologi dan data penginderaan jauh untuk dimanfaatkan di berbagai sektor pembangunan. Pemanfaatannya antara lain untuk pemantauan hotspot, informasi Zona Potensi Penangkapan Ikan (ZPPI), pemantauan terumbu karang dan pulau-pulau terluar, serta data lainnya untuk lahan pertanian, perkebunan, kehutanan, dan sebagainya. Untuk mendukungnya, LAPAN memiliki berbagai sistem informasi yang dapat diakses secara realtime, antara lain SADEWA, SANTANU, dan sebagainya.

LAPAN juga mengembangkan sistem pendukung keputusan untuk dinamika atmosfer ekuator serta cuaca antariksa dan observatorium nasional.

Kegiatan-kegiatan tersebut perlu dukungan, terutama dari lingkungan akademisi untuk mendorong pemerintah dalam upaya mendukung peningkatan riset LAPAN. Kerja sama ini menjadi salah satu bentuk upaya mengoptimalisasi kapasitas SDM dalam mendorong karya riset dan inovasi yang bisa bermanfaat dalam penguasaan teknologi dirgantara dan antariksa.

Foto bersama dosen dan mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran dalam kuliah umum oleh Prof. Dr. Thomas Djamaluddin di Bale Rumawat Kampus Unpad, Bandung, Senin (06/11)

sumber: https://www.lapan.go.id/index.php/subblog/read/2017/3895/LAPAN-Unpad-Bangun-Kerja-Sama-Konkret-Kuasai-Antariksa/berita