Institut Pertanian Bogor (IPB) berhasil memboyong kemenangan pada ajang kompetisi essay nasional di The 10th Annual Ling Art Essay Competition (LAEC) 2017 yang diselenggarakan oleh Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang (1/10). Mereka adalah Sururum Marfuah Hash (Departemen Agronomi dan Hortikultura) dan Hafidlotul Fatimah Ahmad (Departemen Ilmu Komputer). Keduanya berhasil menyabet gelar Juara 2 pada ajang bergengsi tersebut.

Sururum dan Fatim berkolaborasi menuangkan ide mereka pada essay berjudul “Fruzle” (Fruit Puzzle): Permainan Edukatif untuk Mewujudkan Generasi Pencinta Buah Lokal dengan Modifikasi Puzzle Game. Penyusunan essay ini dilakukan dibawah bimbingan Prof. Dr. Ir. Nurjanah, MS.

“Ide awal essay ini datang dari unggulnya posisi buah impor di Indonesia dibanding buah lokal. Masyarakat Indonesia masih memandang bahwa buah impor lebih baik daripada buah lokal. Seperti misalnya, Pepaya California yang lebih diminati masyarakat, padahal pepaya tersebut diproduksi juga dalam negeri dengan nama awal Pepaya Kalina”, ungkap Sururum.

Ketersediaan buah impor yang melimpah adalah sebuah ancaman yang akan membunuh potensi buah lokal. Mereka melihat kondisi ini adalah sebuah permainan politik dunia kapitalis dalam mengendalikan pasar dunia. Negara berkembang seperti Indonesia, dijauhkan dari pola kehidupan penduduk, karakter tanah dan iklim daerah setempat. Ini secara tidak langsung memaksa masyarakat untuk mengonsumsi buah impor, terlebih jika harganya lebih murah.

“Maka dari itu, kami merasa perlu adanya perbaikan pola pikir masyarakat agar beralih ke buah lokal Indonesia. Salah satunya yaitu perbaikan dalam bidang pendidikan, agar generasi mendatang menjadi generasi pencinta buah lokal,” tambahnya.

Sururum dan Fatim berfokus pada masyarakat dengan rentang usia 5-10 tahun yang 10 tahun mendatang akan memasuki usia produktif. Mereka menggagas permainan edukatif berupa Fruzle. Fruzle adalah sarana mensosialisasikan buah lokal dengan cara memodifikasi desain permainan puzzle, yang didesain dengan dua bagian fungsional. Pada bagian depan ditampilkan postur pohon dan buah yang dilengkapi dengan deskripsi singkat mengenai kebermanfaatan dari setiap bagian pohonnya. Pada bagian belakang disediakan puzzle informasi mengenai kelebihan buah lokal yang dikemas dalam bentuk animasi kartun.

“Fruzle ini juga bisa menjadi alternatif dalam mengalihkan kecanduan anak terhadap penggunaan gadget yang belum sepantasnya digunakan secara berlebihan oleh anak”, kata Fatim.

Menurut Fatim, Fruzle merupakan salah satu alternatif permainan edukatif yang akan melatih kemampuan kognitif anak dalam mengenali potensi buah lokal. Desainnya yang menarik merupakan cara untuk menarik minat anak dan memberikan ingatan yang kuat dalam membangun pola pikir mandiri, serta membangun kecintaan anak terhadap bidang pertanian.

“Kami berharap adanya kerjasama yang terintegrasi antara lembaga-lembaga pendidikan, baik itu formal maupun non-formal agar dapat mengimplementasikan Fruzle sebagai salah satu permainan edukatif dalam mengenalkan buah lokal”, tutup Sururum. (NIRS/Zul)