JAKARTA – Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Ditjen. Belmawa) turut berpartisipasi dalam acara 26th Education & Training Expo 2017 yang diselenggarakan pada 2-5 Februari 2017 di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, bersamaan dengan diselenggarakannya Forum Rektor Indonesia (FRI) 2017.

Konferensi dan acara pameran pendidikan dan pelatihan tersebut dibuka oleh Presiden Joko Widodo. Menteri Ristekdikti M. Nasir juga turut menyampaikan pidatonya dengan menekankan harapannya  bahwa FRI 2017 dapat memberikan rekomendasi dan masukan bagi pemerintah untuk pembangunan bangsa melalui jalur pendidikan.

Direktorat Jenderal Belmawa turut berpartisipasi mewakili Kemenristekdikti untuk melayani informasi seputar pembelajaran dan kemahasiswaan kepada masyarakat. Pada saat yang bersamaan, Sutrisna Wibawa selaku Sekretaris Ditjen Belmawa secara langsung menyampaikan informasi seputar Pendidikan Vokasi dan Beasiswa Bantuan Pemerintah.

Dalam kesempatan tersebut, Sutrisna menyampaikan bahwa lulusan pendidikan vokasi merupakan tenaga terampil yang akan memenuhi kebutuhan industri. Hubungan kerja sama tersebut perlu dikembangkan dengan cara penyusunan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan industri. Sementara di sisi lainnya, mahasiswa dari universitas merupakan tenaga yang membahas seputar bidang akademik, sehingga fokus lulusan universitas lebih banyak diarahkan untuk melakukan riset. Jika ingin memasuki bidang khusus, mahasiswa lulusan universitas memerlukan pendidikan khusus tingkat lanjut, tidak seperti pendidikan vokasi yang langsung menjadi tenaga terampil.

“Saat ini, Pendidikan Vokasi perlu meningkatkan hubungan kerja sama dengan bidang industri untuk menciptakan link and match,” tegas Sutrisna saat menjelaskan urgensi Pendidikan Vokasi. “Perlu dibangun hubungan kerja sama antara Pendidikan Vokasi dengan industri karena saat ini  antara kebutuhan pasar dan tenaga kerja yang tersedia belum terjalin dengan baik,” lanjutnya.

Di sesi selanjutnya, Sutrisna menyampaikan paparan di hadapan para siswa SMA mengenai bantuan pemerintah. Beasiswa Bidikmisi dan Peningkatan Prestasi Akademik (PPA) menjadi bahan pembahasan pada sesi tersebut. Pemerintah melalui Ditjen. Belmawa menyediakan kuota sebanyak 80.000 untuk beasiswa Bidikmisi pada tahun 2017, dan saat ini masih berlangsung 360.000 mahasiswa Bidikmisi yang mengenyam Pendidikan Tinggi. Untuk Beasiswa PPA, hanya akan diterima setelah calon mahasiswa diterima di Perguruan Tinggi dengan bukti prestasinya. Beasiswa Bidikmisi mencakup S1, D3, bahkan beasiswa profesi tanpa menarik uang sepeserpun kepada para penerima beasiswa. Karena tujuan dari beasiswa Bidikmisi yaitu mendukung anak bangsa yang berprestasi namun memiliki kendala ekonomi untuk melanjutkan pendidikan.

Pada tahun 2016, Beasiswa Bidikmisi bisa dikatakan berhasil. Sebanyak 0.59% mahasiswa Bidikmisi mendapatkan IPK 4.00 dan secara keseluruhan, 80% mahasiswa memiliki IPK di atas 3.00. Maka, beasiswa tersebut terus dilanjutkan dan ditingkatkan pemerintah guna meningkatkan kualitas SDM anak bangsa. Pada saat ini Bidikmisi sudah dibuka pada bulan Januari 2017. Para calon penerima Bidikmisi harus mendaftarkan diri dahulu di laman Bidikmisi sebelum mendaftar SNMPTN. Kemudian para peserta Bidikmisi melakukan seleksi SNMPTN untuk selanjutnya mengikuti seleksi memasuki PTN yang akan dituju.

Pemerintah terus mendorong pemecahan masalah ekonomi melalui pendidikan tinggi dengan meningkatkan kualitas SDM Indonesia melalui kebijakan strategis yang diambil. Sehingga, dengan berpartisipasi dalam acara 26th Education & Training Expo 2017 di JCC Senayan, menjadi ajang sosialisasi kebijakan pemerintah. Kebijakan tersebut diharapkan dapat diketahui oleh seluruh lapisan masyarakat sehingga mampu memenuhi amanat UUD 1945 dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. (HLMY/Belmawa)