INDONEWS.ID – Berbicara soal Energi, selalu menarik perhatian dan tidak akan pernah berakhir sampai kapanpun, karena energi merupakan tulang punggung penggerak pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan bagi suatu negara.  Tanpa energi dunia tidak akan pernah ada kehidupan. Bahkan pertempuran antar negara sebagian juga disebabkan oleh perebutan penguasaan sumber-sumber energi.  Energi sungguh menarik untuk dibahas dan dianalisis, terutama bila dikaitkan dengan perannya sebagai faktor penentu pertumbuhan ekonomi suatu bangsa. Terkait dengan energi, Dewan Energi Nasional (DEN) yang diberi tugas oleh pemerintah untuk mengawal pembangunan energi di Indonesia, telah membuat berbagai masukan kebijakan termasuk membuat Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) sebagai pedoman umum dalam rangka implementasi Kebijakan Energi Nasional (KEN). Di bidang riset dan pengembangan Iptek Energi, pengembangan kebijakan diarahkan untuk kemandirian teknologi, mendorong peningkatan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) dan penguatan kapasitas Sumberdaya Manusia terampil dan tersertifikasi yang tidak hanya sebatas pada ketersediaan, akses dan keterjangkauan energi tetapi juga bauran energi. Mencuatnya perubahan paradigma di bidang energi dari paradigma energi sebagai komoditas dan tulang punggung sumber penerimaan negara menjadi energi sebagai modal dasar pembangunan, mengubah total kebijakan, strategi dan upaya rencana dan implementasi kebijakan pembangunan bidang  energi di Indonesia, termasuk Kebijakan dan Program Pembangunan Iptek di bidang Energi. Seperti yang telah dikatakan oleh Einstein :

“Informasi bukanlah pengetahuan. Satu-satunya sumber pengetahuan adalah pengalaman.”

Karena itu, mengelola pengembangan dan peningkatan kemandirian energi tidak cukup hanya dengan ilmu pengetahuan yang tinggi, tetapi juga diperlukan pengalaman yang cukup. Pengalaman yang didapat dari lingkungan strategis diyakini menjadi sumber ilmu pengetahuan baru terutama dalam meningkatkan upaya di bidang kemandirian energi berbasis Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Sejumlah pengalaman menarik khususnya terkait dengan Penelitian, Pengembangan dan Pemanfaatan Iptek sangat diperlukan untuk mengatasi berbagai masalah di bidang energi.

Berbagai masalah energi belum terselesaikan hingga saat ini…

Pemanfaatan gas bumi domestik untuk keperluan dalam negeri belum optimal, terutama karena minimnya infrastruktur gas dan lemahnya daya beli masyarakat, sehingga ekspor merupakan pilihan yang menguntungkan dan menjadi komoditas andalan, apalagi harga jual gas ekspor sesuai harga pasar internasional. Penciptaan multiplier effect bagi pembangunan ekonomi, khususnya dalam rangka mendorong pertumbuhan industri dan penyerapan tenaga kerja belum terlihat secara signifikan.

Laporan yang dirilis oleh BP Statistical Review of World Energy, dari total produksi batubara nasional sebesar 393 juta ton pada tahun 2015, hanya 20% yang dipasok ke pasar domestik, sekitar 80% lainnya diekspor ke sejumlah negara, hal inilah yang menjadikan Indonesia sebagai negara eksportir batubara terbesar di dunia. Namun celakanya ekspor batubara diatas tidak ditopang oleh cadangan yang memadai, yaitu hanya sekitar 3,1% dari cadangan batubara dunia. Sungguh memprihatinkan..!!!

Terbatasnya cadangan sumber minyak bumi menyebabkan Indonesia hanya mempunyai cadangan yang lebih kecil dibandingan dengan kebutuhan, sehingga terus-menerus mengalami kemerosotan tajam. Jumlah cadangan minyak saat ini hanya sekitar 0,2% dari cadangan dunia, dan terus mengalami penurunan drastis, dari produksi sebesar 1,6 juta barrel per day (bpd) pada tahun 1995 menjadi hanya 784 ribu bpd pada tahun 2015.

Sementara itu, laju penemuan cadangan dibandingkan dengan tingkat produksi hanya berkisar 55%, berarti akan terjadi penurunan produksi secara terus menerus. Sejumlah faktor yang menjadi biang keladi penurunan produksi energi diantaranya rendahnya kegiatan eksplorasi migas dan rendahnya tingkat keberhasilan eksplorasi, minimnya keterlibatan pemerintah, iklim investasi yang kurang kondusif, termasuk kendala teknis seperti unplanned shutdown, penurunan cadangan secara alami serta belum optimalnya pemanfaatan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR).

Merosotnya harga migas dunia diantaranya disebabkan oleh pasokan berlebih akibat lonjakan produksi migas non-konvensional yaitu migas serpih (shale oil/gas) di Amerika Serikat, China dan Argentina berpotensi menimbulkan sejumlah masalah. Ancaman menurunnya harga minyak juga dipengaruhi oleh pasokan gas dunia yang melimpah dari penemuan-penemuan cadangan gas raksasa dunia seperti Rusia, Qatar, Iran, PNG, Australia, dan sebagainya.

Impor minyak mentah dan BBM cenderung meningkat, diantaranya disebabkan terbatasnya kapasitas kilang, sehingga  menyebabkan ketergantungan impor. Selain itu, pipa transmisi gas antar pulau belum sepenuhnya terintegrasi, sehingga gas tidak dapat langsung didistribusikan ke industri dan pembangkit.  Akibat minimnya  infrastruktur energi ini menyebabkan terjadinya kelangkaan BBM dan gas di sejumlah daerah, terutama di wilayah Timur Indonesia.

Belum terintegrasinya transmisi listrik antar pulau menyebabkan terhambatnya akses masyarakat terhadap energi listrik sehingga rasio elektrifikasi nasional masih rendah.  Selain itu, hanya sekitar 21.7 watt per kapita konsumsi listrik di Indonesia menyebabkan negara makmur ini hanya  berada pada urutan ke-6 Asia Tenggara.

Pengembangan Energi Baru dan Terbarukan (EBT) juga mengalami hambatan….

Posisi strategis Indonesia yang berada di garis khatulistiwa, terletak diantara dua samudra dan benua memiliki potensi sumber EBT yang banyak jenisnya, bahkan EBT seperti panas bumi, air, bioenergi, matahari dan angin sangat melimpah di Indonesia. Kawasan hutan dan laut yang sangat luas, disamping berfungsi sebagai paru-paru dan penyangga kehidupan juga memiliki potensi sumber energi  seperti biomassa, energi air dan panas bumi yang sangat besar.

Harga EBT yang masih relatif lebih tinggi dari bahan bakar minyak dan gas serta  batubara, membuat pemanfaatan dan pengembangan EBT belum optimal. Hal ini juga diperparah dengan adanya penurunan harga minyak bumi. Kebutuhan akan biaya pengangkutan dari sumber EBT juga menjadi persoalan yang tidak dapat diabaikan karena lokasi sumber EBT umumnya berada di daerah terpencil, pedalaman, jauh dari pusat-pusat pertumbuhan ekonomi. Di sektor transportasi, penggunaan Bahan Bakar Nabati (BBN) masih mengalami hambatan kemampuan mesin kendaraan dalam menggunakan BBN, sehingga penggunaannya masih dalam persen yang rendah.

Lemahnya Riset, Pengembangan dan Kemandirian Iptek..

Kelemahan di bidang Riset dan pengembangan Iptek dapat dilihat dari terbatasnya penemuan dan pemanfaatan hasil riset energi terutama dalam meningkatkan intensifikasi eksplorasi dan eksploitasi khususnya migas, batubara, dan EBT. Rendahnya inovasi disebabkan antara lain karena lemahnya Sumberdaya termasuk kapasitas SDM (Sumber Daya Manusia), ketersediaan bahan baku industri, infrastruktur,  teknologi, organisasi,  sistem dan jaringan inovasi, regulasi, serta rendahnya anggaran penelitian. Akibatnya, perolehan paten dan penciptaan teknologi baru, kemampuan alih teknologi, termasuk teknologi clearing house, serta mekanisme program mobility peneliti dan perekayasa ke industri masih mangalami hambatan.

Namun, hasil survei yang dilakukan oleh DEN sepanjang tahun 2016 melaporkan bahwa tingkat ketahanan energi kita mencapai 0,69. Ini berarti bahwa kondisi ketahanan energi di Indonesia dalam tingkat yang “aman”, secara khusus menegaskan bahwa dilihat dari aspek ketersediaan, akses dan pasokan energi masih ditingkat kecukupan, tetapi hal ini bukan berarti kemandirian Iptek di bidangn energi juga berada ditingkat kemandirian yang tinggi.

Fakta membuktikan bahwa kemandirian iptek dibidang energi dinilai masih jauh dari harapan, hal ini dapat dilihat dari hampir semua teknologi dibidang energi masih diimpor dari luar negeri, yaitu antara lain teknologi pengeboran, pembangkit, transmisi, utilitas termasuk peralatan pembantu lainnya. Inovasi mandiri yang dilakukan oleh peneliti, perekayasa dan akademisi belum dapat menjadi faktor pengungkit Kemandirian Iptek di bidang Energi.

Pangkalan Data Perguruan Tinggi (PDPT) menyebutkan sejumlah 4.536 Perguruan Tinggi yang ada di Indonesia memiliki Program Studi bidang Ilmu Teknik sebanyak 4.632 program studi dan Ekonomi 3.344 program studi, memiliki kekuatan tersendiri dalam mendorong kemandirian di bidang teknologi Energi, khususnya dalam aspek tenaga kerja terampil, knowledge based economy on energy sector, prototyping, serta hasil riset yang berguna untuk meningkatkan kapasitas system produksi di bidang teknologi energi.

Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK) seperti BPPT, LIPI, BATAN dan LAPAN memiliki kemampuan melaksanakan riset yang tidak hanya dalam skala laboratorium, tetapi juga berskala industri. Sayangnya pemanfaatannya di industri belum signifikan. Reverse Engineering dan audit teknologi menjadi kekuatan negara dalam mengantisipasi membanjirnya teknologi energi di era MEA.

Tidak hanya itu, Badan Usaha Milik Negara yang bergerak di industri strategis seperti Krakatau Steel, Rekayasa Industri, Pertamina, Perusahaan Gas Negara dan sebagainya tak terpungkiri mempunyai kekuatan spesifik dalam mendorong pembangunan sektor energi berbasis kemandirian Iptek.

Strategi….

Meskipun saat ini Kementerian ESDM sangat serius dalam mengupayakan kecukupan dan pemerataan energi namun karena besarnya kendala yang dihadapi, masih sulit rasanya untuk dapat memenuhi seluruh kebutuhan energi yang diperlukan untuk pembangunan dalam waktu dekat. Terlebih jika kita lihat dari sisi Iptek, mendorong kemandirian Iptek bidang energi tidak semudah membalik tangan, peningkatan secara komprehensif yang terintegrasi perlu dilakukan antara lain :

A). Membangun Asessment System kandungan teknologi energi, yang terdiri dari pengembangan Metodologi Asessment dan pembangunan Asessment System.

B). Memperkuat pelaksanaan alih teknologi energi dalam Turn Key Project, Lisensi, FDI (Foreign Direct Invesment), Joint Production, Off Set, dan BOT (Build Operate Transfer) antara lain melakukan: Identifikasi teknologi harus dikuasai berdasar Demand Pull, Pembuatan Skenario dan Legal Aspect Alih Teknologi  dan Pelaksanaan Alih Teknologi.

C). Melakukan dan mengembangkan audit teknologi energi terutama untuk: mewujudkan Sistem Audit teknologi, membangun Lembaga Audit Teknologi yang tersertifikasi dan mekanisme proses, meningkatkan audit teknologi impor dan membangun sistem serta basis data Proven Technology Industri.

D). Memperkuat lembaga penggerak implementasi hasil litbang bidang energi termasuk didalamnya :  membangun konsorsium untuk penguatan kelembagaan, peningkatan jaringan dan penguatan kapasitas sumber daya, penguatan lembaga intermediasi seperti : Inkubator, Sentra HKI, Pusat Teknologi Transfer, Prototype Center dan membangun Kawasan Ekonomi khusus berbasis kemandirian teknologi energi: Cluster Industry, Local Cluster Innovation, Science and Technology Park (STP) yang terintegrasi dengan industri dan pasar.

E). Mobilisasi peneliti, perekayasa dan tenaga ahli ke Industri dan proyek-proyek energi. Perangkat antara lain perlu menyiapkan: pembuatan peraturan perundangan tentang mobilitas peneliti dan atau perekayasa ke Industri, peningkatan kapasitas SDM dan penguatan Sistem Reverse Brain Drain dan Brain Gain.

F). Meningkatkan perolehan HKI di bidang energi, terutama pembayaran bagi penghasil HKI dan sistem reward bagi penghasil HKI.

Sederet daftar kebutuhan untuk kemandirian Iptek bidang Energi di atas menginformasikan bahwa tidak hanya Teknologi yang diperlukan tetapi juga Sumberdaya Manusia yang Terampil, Kelembagaan yang Kuat serta Jaringan Iptek yang memadai.

Marilah kita saling bahu membahu, meningkatkan sinergi dan kolaborasi dalam meningkatkan riset dan pengembangan Iptek di bidang energi, niscaya kita mampu meningkatkan kemandirian Energi berbasis Iptek di Bumi Nusantara yang kita cintai, Indonesia.

– See more at: http://indonews.id/berita/mengungkit-pembangunan-energi-berbasis-kemandirian-iptek/#sthash.nd1akWTK.dpuf