Prolog

Indonesia diberkahi oleh sang pemilik hidup dan kehidupan akan kekayaan sumberdaya alam yang luarbiasa. Negeri yang kerap disapa untaian zamrud khatulistiwa ini, juga memiliki keanekaragaman hayati, sosial serta budaya yang mengundang decak kagum seluruh dunia. Negeri yang diperjuangkan melalui pengorbanan serta doa para syuhada pendiri republik, dapat dikatakan memiliki banyak hal yang diimpikan oleh bangsa-bangsa lain di muka bumi ini. Namun terkadang dengan segala ketersediaan yang ada, memungkinkan kita menjadi kehilangan daya imaji untuk berkembang. Sulit untuk tidak dapat dipungkiri, bahwa kenyamanan berpotensi melenakan diri untuk melahirkan ide-ide segar. Walhasil, kita terbiasa menjadi sebatas pengguna produk dan jasa belaka, terjebak menjadi peniru dan pengikut ide belaka, termasuk menjadi terkaget-kaget manakala orang lain menciptakan penemuan baru, yang sekilas sederhana namun kita harus mengakui tidak pernah membayangkan akan terlintas di benak.

Sungguhkah kita hanya menjadi penonton belaka ? Betulkah kita tidak memiliki anak bangsa yang mampu melahirkan ragam karya bahkan mahakarya yang memukau dunia? Sungguhkah ibu pertiwi tak memiliki anak kandungnya  yang memiliki kekayaan ide, fikiran dan gagasan yang mampu menjawab problematika dan dinamika kehidupan manusia ? Tentu saja jawabannya adalah tidak ! Negeri ini memiliki banyak sekali putra-putri terbaiknya yang ntuk yang memiliki intelektualitas dan kreativitas. Bangsa ini tidak pernah mengalami kekurangan akan anak-anaknya yang cerdas dan dapat diandalkan. Republik ini tidak pernah berada dalam situasi kelangkaan pemikir hebat, cendekiawan brilian serta orang-orang yang visioner. Tentu, kita tidak bisa menutup mata bahwa sebaik apa pun benih yang hendak disemaikan takkan pernah tumbuh berkembang dengan baik ketika ditaburkan pada lahan yang tidak subur. Apa artinya dalam konteks ini? Ketika tanpa disertai kebijakan dan politik anggaran, penguatan kelembagaan dan jaringan, revitalisasi kapasitas sumberdaya manusia yang ada, serta  penetapan skala prioritas, maka hal tersebut akan mempengaruhi percepatan tumbuh subur dan berkembangnya lahirnya pemikiran dan karya anak bangsa yang bermanfaat, berdayasaing dan mendunia.

Inovasi dan Kebangsaan

Tentu saja situasi di atas – perjumpaan antara kualitas sumberdaya manusia dan dukungan sistem serta kebijakan – adalah kondisi yang paling ideal dalam mengembangkan potensi intelektualitas yang dimiliki anak bangsa. Namun, menanti situasi ideal tanpa melakukan hal apa pun, sesungguhnya menjadi godaan terbesar sekaligus menunda kesempatan bagi bangsa ini untuk melesat selangkah lebih maju di depan. Menyikapi hal tersebut, maka ada satu hal yang sesungguhnya paling menentukan untuk mewujudkan tradisi mengembangkan dan melahirkan gagasan serta penemuan yang senantiasa berdimensi kebaruan. Ya, kuncinya adalah inovasi. Menjadikan permasalahan sebagai kesempatan untuk mencari jawaban untuk dipecahkan. Menjadikan kesulitan sebagai tantangan untuk mewujudkan solusi yang memudahkan. Menjadikan hambatan sebagai kawan dialog untuk menemukan peluang untuk menyelesaikannya. Inovasi bukanlah sebuah pilihan, melainkan sebuah keharusan kalau mau bertahan bahkan menjadi yang terdepan di era persaingan seperti saat  ini. Tanpa inovasi, kita akan kehilangan momentum untuk meningkatkan kualitas kehidupan yang tentunya berimplikasi pada kesejahteraan manusia.

Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi sebagai representasi negara dalam mewujudkan kemampuan inovasi untuk mendukung daya saing bangsa, sejatinya dapat memainkan peran untuk menyemaikan tradisi inovasi sebagai gaya hidup bangsa. Masyarakat kampus, lembaga litbang,  perusahaan pemula, generasi muda, publik, pembuat regulasi serta semua pihak yang berkepentingan terkait hal tersebut perlu memiliki pemahaman dan cara pandang yang sama akan pentingnya kekuatan inovasi bagi bangsa. Berkenaan dengan hal tersebut, selain aspek penguatan yang sifatnya fasilitasi sistem dan dukungan yang sifatnya teknis atas substansi inovasi, maka hal yang perlu dilakukan adalah mempersiapkan strategi komunikasi publik untuk membumikan atau menginternalisasi konsep inovasi sebagai gaya hidup.  Mengapa hal ini menjadi penting ? Tugas besar ke depan bagi seluruh elemen bangsa adalah bagaimana meniscayakan inovasi sebagai sebuah gaya hidup laksana tarikan nafas dan aliran darah dalam kehidupan dan peran yang dijalankan masing-masing. Bangsa ini akan menjadi besar ketika para akademisi dan ilmuwannya sibuk dan berlomba melahirkan karya riset yang mampu melampaui zamannya, menginspirasi banyak pihak untuk dikembangkan sekaligus menghadirkan karya yang memberi jawaban atas kebutuhan yang diperlukan masyarakat. Bangsa ini akan menjadi besar ketika generasi mudanya memiliki kepekaan dalam menerjemahkan setiap dinamika yang ada di masyarakat untuk kemudian diterjemahkan dalam kreativitas yang solutif. Bangsa ini akan menjadi dikagumi dan dihormati ketika warganegaranya telah kehilangan kata mengeluh dan menyerah dalam kamus hidupnya.

Oleh karenanya, setidaknya ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam mendesain strategi komunikasi tersebut. Pertama, pentingnya memahami aspek psikologis, sosiologis dan kultural masing-masing para inovator sebagai dasar pengelolaan pesan dan kanal. Sebagai contoh, karakter akademisi di kampus tentunya berbeda dengan yang ada di lembaga penelitian, meski sama-sama melakukan kerja riset. Begitupula dengan karakter generasi muda tentunya tidak sama dengan mereka yang sudah paruh baya. Menyamaratakan pola komunikasi akan berdampak pada kegagalan pesan itu untuk sampai apalagi dimaknai sebagai bentuk keberpihakan negara terhadap peran inovasi. Dengan kata lain, dibutuhkan identifikasi secara komprehensif terlebih dahulu sebelum merancang pesan serta memilih kanal informasi yangdigunakan.

Kedua, narasi yang dibangun dalam komunikasi dengan para inovator agar mengedepankan aspek-aspek yang menstimulasi kebaruan alih-alih mendikte apa dan bagaimana yang harus dilakukan. Ide segar dan kreatif itu muncul dari situasi yang memerdekakan dan melampaui cara-cara yang melimitasi. Oleh karenanya, mutu informasi pesan harus dapat memenuhi aspek kognitif sekaligus afektif dari khalayak tersebut. Pesan yang disampaikan seyogyanya merangsang nalar sekaligus imaji untuk berkembang, membangun dialog yang kritis sehingga melahirkan potensi yang konstruktif.

Serta yang ketiga, adalah senantiasa menjadikan nilai-nilai kebanggaan dan kecintaan terhadap tanah air sebagai bagian yang tidak terpisahkan dalam seluruh proses komunikasi yang  ada. Melalui mekanisme yang menghindarkan diri dari pola-pola indoktrinatif, menjadi penting untuk merancang pesan dengan mengintegrasikan hakikat kebangsaan sebagai landasan dalam inovasi berkarya. Hal ini penting, karena menjadi Indonesia adalah dasar dari seluruh ikhtiar untuk mewujudkan kebaruan yang memberikan kemaslahatan.  Ketiga elemen ini tidaklah dipahami sebagai sesuatu yang terpisah satu sama lain, melainkan diimplementasikan dalam satu tarikan nafas oleh pengelola kehumasan di kementerian dalam kerja-kerja manajerial dan teknisnya yang berkenaan dengan hal tersebut. Tidak hanya itu, dibutuhkan pula koordinasi dan harmonisasi dengan semua pihak dalam mewujudkan sinergi komunikasi itu sendiri.

Epilog

Inovasi sebagai gaya hidup sesungguhnya menjadi kendaraan dalam menuju identitas bangsa yang tangguh dan kreatif, bangsa yang tidak pernah melihat setiap hambatan, ancaman, tantangan dan gangguan sebagai tembok besar yang menghalangi setiap langkahnya menuju hidup yang lebih baik dari masa-masa sebelumnya. Menjadikan inovasi sebagai gaya hidup, adalah salah satu jawaban untuk mempersiapkan manusia Indonesia yang siap berdayasaing sekaligus disegani dalam pergaulan antarbangsa. Semangat berinovasi sesungguhnya meniscayakan bangsa kita berkesempatan besar untuk berkontribusi pada dunia dan kemanusiaan melalui karya-karya yang berkualitas dan senantiasa inovatif, kreatif serta menjawab kebutuhan dan tantangan zaman.