Yogyakarta- Demi pengembangan pendidikan tinggi agar menjadikan perguruan tinggi yang unggul, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) terbuka menerima inisiasi maupun inovasi dari perguruan tinggi. Seperti Universitas Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta yang menyampaikan keinginannya untuk membuka program studi magister Fisioterapi.

“Saya selalu mengapresiasi pada perguruan tinggi yang mempunyai inisiatif atau berinovasi terhadap pengembangan sumber daya. Jika memang layak, silahkan saja. Secepatnya akan lebih baik,” ungkap Menristekdikti Mohamad Nasir pada acara Milad UNISA ke-26 di Kampus UNISA Yogyakarta, Senin (6/11/2017).

“Dulu saya pikir program studi kesehatan itu lemah sekali dalam pengembangan sumber daya manusianya. Alasannya karena tidak ada S2 nya,” imbuh Nasir.

Untuk itu, pihaknya mempersilahkan UNISA maupun perguruan tinggi lain membuka program magister di bidang kesehatan sepanjang itu layak dan sesuai dengan aturan.

“Tanpa melalui afirmasi semacam ini tidak mungkin perguruan tinggi akan berkembang cepat. Kalau itu on the track, rule of time nya diikuti dengan baik, ini akan menjadi stimulus kemajuan pendidikan tinggi,” pungkas Nasir.

Menristekdikti juga mengungkapkan di bidang kesehatan UNISA nantinya bisa menghasilkan inovasi yang memberikan dampak kepada masyarakat.

“Diharapkan riset-risetnya bisa implementatif. Berdasarkan market driven dan demand driven,” kata Nasir.

UNISA sebagai perguruan tinggi yang baru setahun berdiri sebagai Universitas (dahulu STIKES) itu memang berambisi untuk menjadi pionir magister/S2 Fisioterapi di Indonesia. Pasalnya, belum ada perguruan tinggi yang membuka program studi tersebut.

Diungkapkan Rektor UNISA Warsiti, di usianya yang memasuki tahun kedua UNISA memiliki cita-cita besar untuk menjadi universitas unggul dan pilihan berlandaskan spirit Islam berkemajuan dengan fokus pada kajian dan pengembangan bidang kesehatan.

 

Merger Solusi Penguatan PTS

Pada kesempatan yang sama, Koordinator Kopertis Wilayah V Yogyakarta Bambang Suproyadi mengungkapkan, terkait dengan merger Perguruan Tinggi Swasta (PTS), pihaknya mengatakan merger sudah dilakukan terhadap PTS di Yogyakarta, seperti yang terjadi pada UNISA yang dulunya adalah Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan, Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY) dulunya Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi. Kopertis Wilayah V akan mengusulkan 4 kelompok yang terdiri dari 10 PTS kecil yang sudah diidentifikasi merger atau diakuisisi oleh PTS besar.

Menurut Bambang, merger untuk menjadikan PTS lebih berkualitas aturannya harus diperjelas. “Jika dimerger, misalnya 2 PTS dengan 2 bidang berbeda digabung, maka namanya menjadi PTS apa? Misal kesehatan dan administrasi jika digabung jadi apa?,” tuturnya.

Menanggapi hal tersebut, Nasir mengatakan bahwa merger didorong agar PTS di Indonesia lebih kuat.
“Jika yang satu kesehatan, yang satu administrasi maka didorong ke bidang yang lebih kuat atau dominan. Hal ini agar menjaga keunikan PTS itu sendiri,” ucap Nasir. (SH)