JAKARTA – Berdasarkan Peraturan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia nomor 1 tahun 2016 tentang perubahan atas Peraturan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, nomor 1 tahun 2015 tentang pengangkatan dan pemberhentian Rektor/Ketua/Direktur pada Perguruan Tinggi Negeri, Kemristekdikti menggelar upacara pelantikan dan Serah Terima Jabatan Rektor Perguruan Tinggi Negeri, Direktur Politeknik Negeri, Direktur Akademi Komunitas Negeri, dan Sekretaris Pelaksana Kopertis di Lingkungan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, bertempat di Auditorium gedung D lantai 2 – Senayan, rabu (18/7).

Upacara pelantikan dimulai dengan pembacaan keputusan Menristekdikti, pengambilan sumpah jabatan, dan pembacaan pernyataan pelantikan kepada Rektor dan Direktur Perguruan Tinggi Negeri, antara lain yaitu Prof. Drs. Genefri M.Pd., Ph.D sebagai Rektor Universitas Negeri Padang, Dr. Ir. Priyono Eko Sanyoto, DEA, Ramli, S.E., M.M., Sugeng Ariyono, M.Eng., Ph.D., Ir. Muhammad Milchan, M. T., Ir. Ever Notjr Slat, M.T., Dr. Mahriyuni, M. Hum, dan Ir. Abdul Aziz, M.P sebagai para Direktur di beberapa Politeknik Negeri. Kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan serah terima jabatan serta pemasangan kalung jabatan yang dilakukan oleh Menristekdikti Mohamad Nasir.

Keberhasilan dan kemajuan sebuah Perguruan Tinggi, disamping menjadi impian bagi segenap civitas akademika, keberhasilan dan kemajuan tersebut juga menjadi dambaan masyarakat dan Pemerintah. oleh karena itu Nasir menyampaikan harapannya kepada pejabat yang baru saja dilantik agar dapat membawa perubahan ke arah perbaikan, sehingga Perguruan Tinggi ke depannya bisa bermanfaat bagi masyarakat dan bangsa.

Nasir dalam sambutannya menjelaskan bahwa untuk dapat berkembang di abad ke-21 dan era ekonomi baru yang ditandai dengan persaingan bebas, cepatnya suatu informasi, meningkatnya kompleksitas, bisnis, dan globalisasi, para mahasiswa memerlukan pembelajaran yang lebih dari saat ini, mereka harus dibekali dengan kemampuan berkolaborasi, komunikasi dan memecahkan masalah.

Dua dekade terakhir, Pendidikan Tinggi terus meningkat perubahannya, mulai dari peningkatan jumlah mahasiswa, perubahan demografis, tuntutan pada transparansi, integritas, dan tanggung jawab Perguruan Tinggi. Peningkatan relevansi dan daya saing lulusan Perguruan Tinggi adalah dampak dari teknologi baru serta era ekonomi baru yang akan menjadi tantangan dimana perlu dijawab oleh Perguruan Tinggi.

Pencanangan Wajib Belajar 12 tahun akan berdampak pada meningkatnya jumlah calon mahasiswa di Perguruan Tinggi. Hal ini perlu di antisipasi dengan peningkatan kapasitas daya tampung Perguruan Tinggi.

“Semoga para pimpinan Perguruan Tinggi dapat mencari solusi terbaik dan menerapkan solusi tersebut  agar dapat menghadapi persaingan di masa depan”, harap Menteri Nasir.

Selain itu Nasir juga mengungkapkan bahwa Perguruan Tinggi juga harus memperhatikan tingkat ketersiapan teknologi (Technology Readiness Level) dan inovasi. Teknologi yang tinggi dapat diwujudkan apabila pemilihan jenis dan pengembangan teknologi dilakukan dengan tepat dan berkelanjutan. Kemudian, inovasi akan menghasilkan output baru dan bisa diaplikasikan apabila mendapat dukungan teknologi yang tepat. “Saya harap Perguruan Tinggi mampu melihat dengan jeli dan teliti, teknologi apa yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan lokal, nasional, dan bahkan Internasional”, lanjutnya. Nasir pun menuturkan cita-citanya bahwa kedepannya pengembangan teknologi dan inovasi pada Perguruan Tinggi bisa mengasilkan suatu yang bermanfaat bagi bangsa dan bisa bersaing secara global. (wd/bkkp)

Biro Kerjasama dan Komunikasi Publik
Kemristekdikti

Galeri