#Siaran Pers Kemenristekdikti
Nomor : 51/SP/HM/BKKP/IV/2017

Jakarta – Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir menerima kunjungan kehormatan dari Duta Besar RI untuk Laos YM Emir Wisnu di Gedung Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti), Selasa (1/8).

Dalam kunjungannya, dikatakan oleh Dubes Emir bahwa hubungan bilateral Indonesia dan Laos telah berjalan selama 60 tahun.

Saat ini, Laos yang mempunyai posisi strategis di tengah daratan Indochina, menyadari hal itu dan mereposisi negaranya dari “Land-Locked State” menjadi “Land-linked State” yang lebih menegaskan posisi strategis Laos di Indochina.

Pada tanggal 27/7/2017, telah diselenggarakan pertemuan ke lima ‘the Indonesia-Laos Joint Commission on Bilateral Cooperation (JCBC)’ di Jakarta yang dipimpin oleh kedua Menteri Luar Negeri Indonesia dan Laos.

img-20170802-wa0006

Menurut Dubes Emir, pendidikan merupakan salah satu topik yang didiskusikan, bahkan sejak tahun 2013, Laos sudah mengemukakan ketertarikannya untuk memformalkan kerjasama dalam bidang pendidikan antar dua Negara.

Selama kurun waktu 2006-2017, SDM Laos telah menerima bantuan pendidikan dari Pemerintah Indonesia melalui program Kemitraan Negara Berkembang (KNB) 54 orang, Darmasiswa 51 orang, Budaya 10 orang dan melalui ASEAN + 3 sebanyak 4 orang.

Hubungan bilateral Indonesia dan Laos menunjukkan hubungan yang harmonis dan sangat baik sejak dari awalnya. Selain pendidikan, Indonesia dan Laos akan meningkatkan kerjasama ekonomi, perdagangan, pariwisata dan bahkan kerjasama ilmu pengetahuan, teknologi dan inovasi, karena kedua Negara bergabung dalam Komite Iptek se Asia Tenggara (ASEAN Committee on Science and Technology – ASEAN COST) yang saat ini diketuai oleh Sekretaris Jenderal Kemenristekdikti Ainun Na’im.

img-20170802-wa0003

Kesempatan untuk melakukan transfer teknologi dari Indonesia ke Laos terbuka dalam kerangka ‘sister city/sister province’ maupun dalam bentuk kerjasama lainnya.

Total perdagangan Indonesia dan Laos mencapai sekitar 10 juta USD tahun lalu. Delegasi Laos minggu lalu, bahkan berkesempatan mengunjungi pabrik Pupuk Kujang di Cikampek, Jawa Barat untuk mendiskusikan kerjasama, karena Laos memiliki kekayaan ‘potassium’ sebagai salah satu elemen dalam pembuatan ‘pupuk sintetis’ untuk produksi pertanian, kehutanan dan perkebunan.

Menristekdikti Mohamad Nasir mengatakan bahwa Kemristekdikti menyambut kerjasama dalam bidang pendidikan tinggi maupun Iptek dan Inovasi antara Indonesia dan Laos, dan menugaskan jajarannya untuk segera mengkaji perjanjian kerjasama antara kedua Negara.

Dalam kerjasama KNB, Menteri Nasir menginformasikan bahwa program ini berada didalam koordinasi Direktur Jenderal Kelembagaan Iptekdikti Patdono Suwignjo, dan mempersilahkan Dubes Emir untuk berkoordinasi lebih lanjut dengannya. Tahun 2017, telah teridentifikasi 4 SDM Laos mendapat kesempatan belajar di Indonesia melalui program KNB.

Kedepannya, Menteri Nasir beserta segenap jajarannya akan menjajaki kemungkinan kerjasama pendidikan tinggi, Iptek dan Inovasi, baik dalam kerangka hubungan bilateral maupun dalam kerangka kerjasama kawasan dalam lingkup ASEAN.

Turut hadir dalam pertemuan adalah Ibu Rina, Sesdirjen Pembelajaran dan Mahasiswa, Nada Marsudi Karo Kerjasama dan Kompublik (KSKP) , Nova Febriyani dan Baginda dari KSKP Kemenristekdikti. Sedangkan dari KBRI Laos adalah Bapak Ifan Panji dan Wisnu Krishna Murti.

img-20170802-wa0001

Biro Kerjasama dan Komunikasi Publik
Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi