Kondisi dunia yang semakin maju dengan berbagai teknologi telah mendorong penghuninya menjadi manusia modern. Pola hidup manusia yang modern memiliki kesadaran yang rendah terhadap pemeliharaan kesehatan dan lingkungannya, contohnya penggunaan berbagai fasilitas yang dapat menimbulkan polusi udara. Sumber polusi dapat berasal dari kendaraan bermotor, industri, asap rokok, mesin fotocopy, pendingin ruangan maupun kebakaran hutan. Tingkat polusi yang tinggi dapat menjadi salah satu pemicu terbentuknya radikal bebas.

 

Adalah Rizki Andriyanti, Nurjanah dan Asadatun Abdullah dari Departemen Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor (IPB) yang melakukan riset terkait ekstraksi senyawa aktif antioksidan dari lintah laut (Discodoris sp.) asal perairan Kepulauan Belitung.

 

Nurjanah menjelaskan, radikal bebas terbentuk secara terus-menerus dalam tubuh manusia, baik melalui pengaruh eksogen maupun endogen. Radikal bebas adalah senyawa kimia yang memiliki satu atau lebih elektron tidak berpasangan di kulit terluar sehingga sangat reaktif dan mampu bereaksi dengan protein, lipid, atau DNA. Reaktivitas radikal bebas ini dapat diredam oleh senyawa antioksidan.

 

“Antioksidan sintetik yang berkembang saat ini dikhawatirkan memberi efek samping yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Potensi antioksidan alami harus dikembangkan untuk memperoleh antioksidan yang lebih aman dikonsumsi. Salah satu sumber daya perairan yang berpotensi sebagai penghasil antioksidan alami adalah lintah laut (Discodoris sp.),” ujarnya.

 

Lebih lanjut ia menambahkan bahwa lintah laut merupakan anggota kelompok filum mollusca yang tidak memiliki cangkang. Masyarakat Bajo di Pulau Buton biasa mengkonsumsi lintah laut sebagai peningkat stamina tubuh (aprodisiak). Hasil riset sebelumnya juga membuktikan bahwa lintah laut dari perairan Pulau Buton mengandung antioksidan dan antikolesterol yang tinggi.

 

Uji fitokimia menunjukkan bahwa komponen bioaktif yang terkandung dalam ekstrak kasar lintah laut dari ketiga pelarut polar (etanol, metanol, dan aquabides) meliputi golongan alkaloid, flavonoid, karbohidrat, dan gula pereduksi. Komponen bioaktif golongan fenol hidrokuinon dan peptida hanya terdapat pada ekstrak aquabides lintah laut.(AT/Zul)