Senin (9/10), berlangsung “The 9th Multi-GNSS Asia Conference” di Ballroom Hotel Ayana Mid Plaza, Jakarta. Acara yang bertemakan “Next Generation Multi-GNSS Resilient Solutions for Sustainable Development” ini diselenggarakan oleh LAPAN bekerja sama dengan BELS (Building Europeans Links toward South East Asia), GNSS Asia, JAXA (Japan Space Exploration Agency), dan QZSS (Quasi Zenith Satellite System). Kegiatan ini akan berlangsung selama tiga hari.
 
Dalam sambutannya, Director of Multi-GNSS Asia, Ta Hai Tung menyampaikan, penyelenggaraan tahun ini sangat spesial karena dilaksanakan di Indonesia, salah satu negara dengan populasi terbanyak di dunia. Ia berterima kasih kepada LAPAN atas penyelenggaraaan konferensi yang tidak lepas dari keberhasilan LAPAN sebagai panitia lokal dalam melaksanakan tugasnya di bidang penerbangan dan antariksa. Ia berharap, agar terjalin hubungan kerja sama yang lebih banyak antara Jepang, Indonesia, dan negara-negara lain yang ikut serta dalam konferensi bidang Global Navigation Satellite System (GNSS).
Mewakili Menristekdikti, Staf Ahli Bidang Akademik Kemenristekdikti, Prof. Dr. Paulina Pannen membuka secara resmi konferensi Multi-GNSS Asia ke-9 ini. Ia mengatakan acara ini sangat penting bagi kemajuan bangsa Indonesia. Indonesia dapat membangun relasi dengan profesional bersama lembaga antariksa lainnya dan negara lain.
Ia mencontohkan peristiwa bahaya bencana alam di Gunung Agung (Bali). Teknologi Multi-GNSS dapat membantu mengawasi keadaan gunung berapi tersebut. Pengembangan Multi-GNSS di Indonesia diharapkan lebih baik lagi sehingga dapat diterapkan di bidang-bidang lainnya.
Masalah yang terjadi di Indonesia adalah pertumbuhan teknologi nasional tergolong lambat karena kurangnya komunikasi antara pemangku bisnis (swasta) dengan institusi pemerintah. Ia berharap para peneliti dengan industri dapat berjalan bersama dalam memajukan Indonesia. Salah satunya dalam pengembangan GNSS tersebut, serta kebijakan hilirisasi hasil riset untuk masyarakat.
Sementara Kepala LAPAN, Thomas Djamaluddin, menyatakan pentingnya teknologi satelit bagi Indonesia. Sebagai pengguna satelit telekomunikasi ketiga setelah Amerika dan Kanada, pada tahun 1976 Indonesia telah meluncurkan satelit telekomunikasi, dinamakan Palapa.
Kepala LAPAN menjelaskan penggunaan teknologi penginderaan jauh daam pengawasan lahan serta laut di Indonesia. Ia juga menerangkan kegunaan satelit navigasi yang dapat mendukung pengembangan program berkelanjutan di Indonesia.
Thomas berharap konferensi ini dapat melahirkan generasi GNNS berikutnya yang dapat mendukung pengembangan yang berkelanjutan sebagaimana tema yang diusung.
Kepala BIG, Hasanuddin Abidin, dalam keynote speech menjelaskan beberapa kegunaan GNSS yang digunakan BIG di Indonesia. Peran utamanya adalah pembentukan data serta informasi yang berguna dalam bidang geospasial. Sebagai negara maritim, Indonesia sangatlah besar. “Jika Sabang ditarik sampai Merauke, itu sama dengan jarak antara London, Inggris, sampai ke Baghdad, bahkan Irak. Ujung utara Kalimantan ditarik sampai ke Jawa, sama dengan jarak dari Polandia ke Laut Tengah,” paparnya. Dengan besarnya wilayah Indonesia tersebut, artinya Indonesia perlu pengelolaan informasi geospasial. Informasi tersebut didapatkan dengan penggunaan teknologi yang dimiliki LAPAN seperti pemetaan, pengawasan, dan sebagainya.

https://www.lapan.go.id/index.php/subblog/read/2017/3812/Pentingnya-Satelit-Navigasi-untuk-Pengembangan-Program-Pemerintah-Berkelanjutan