Jakarta – Belmawa. Di Indonesia, masih ditemui beberapa hambatan dalam meningkatkan daya saing bangsa. Salah satunya adalah keterbatasan generasi muda untuk mendapatkan keterampilan kerja, baik dari segi ekonomi maupun keterbatasan fisik. Untuk itu, Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) bekerjasama dengan USAID untuk menyiapkan sejumlah program dalam upaya meningkatkan akses bagi kaum muda usia antara 18-34 tahun yang kurang mampu, baik dari segi ekonomi, kaum perempuan, maupun penyandang disabilitas, agar lebih siap bekerja. Program Kunci merupakan salah satu program yang dibentuk demi mewujudkan cita-cita tersebut.

“Program Kunci ini merupakan program kewirausahaan berfokus kepada anak muda berumur 18-34 tahun, yang berasal dari masyarakat dengan ekonomi yang kurang dan difabel atau berkebutuhan khusus,” ujar Mimy sebagai wakil USAID saat menjelaskan mengenai Program Kunci kepada Belmawa, Kamis lalu (31/8).

USAID (United Stated Agency for International Development) adalah sebuah perusahaan yang bertanggung jawab atas bantuan dalam bidang ekonomi, pembangunan dan kemanusaiaan untuk negara-negara lain di dunia dalam mendukung tujuan-tujuan kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Di Indonesia, USAID sudah sering melakukan kerja sama dalam peningkatan ekonomi, pembangunan, maupun kemanusiaan.

Salah satu program gagasan USAID adalah Program Kunci, yang disinergikan dengan Belmawa. Melalui Program Kunci, kaum muda yang kurang mampu dari segi ekonomi serta penyandang disabilitas akan diberi akses untuk mengikuti pelatihan keterampilan yang berkualitas agar dapat memiliki kesempatan kerja. Melalui program tersebut, diharapkan akan memacu peningkatan kualitas program ketenagakerjaan, penerapan ketenagakerjaan yang inovatif, serta peningkatan kepemilikan dan sinergi antar pemangku kepentingan dalam pelaksanaan program ketenagakerjaan.

Setidaknya terdapat tujuh cakupan dalam Program Kunci, di antaranya adalah:

  1. Peningkatan keterampilan dan kewirausahaan
  2. Penguatan balai atau pusat pelatihan
  3. Penggunaan alat dan metode pelatihan dalam jaringan (online) dan mobile
  4. Advokasi kebijakan
  5. Penggunaan media
  6. Literasi keuangan
  7. Bantuan teknis untuk penguatan program ketenagakerjaan

Program Kunci diharapkan menjadi akses yang menjadi jembatan bagi kaum muda untuk menyambung mimpi di dunia kerja. Melalui program tersebut, mereka juga akan memperoleh pelatihan untuk meningkatkan keterampilan dan kepemimpinan untuk berwirausaha, yaitu melalui pengembangan soft-skill, manajemen bisnis, pendampingan dan pelatihan keuangan, serta kesempatan untuk berjejaring dengan sektor swasta. Salah satu caranya adalah dengan memperkuat perkuliahan kewirausahaan untuk membekali mahasiswa agar menjadi lebih baik dalam mengatur keuangan.

“Saya kira hal ini sangat baik sekali, apalagi program ini bisa bersinergi. Saat ini yang menjadi satu permasalahan adalah bagaimana entrepreneurshipbukan hanya lagi mengenai teori saja, tetapi juga soft-skill,” jelas Kepala Sub Direktorat Pembelajaran Khusus Belmawa, Ridwan Roy Tutupoho, saaat menghadiri rapat implementasi Program Kunci di Senayan Kamis lalu.

Program ini juga diharapkan mampu berkontribusi dalam peningkatan kualitas keterampilan, pengurangan tingkat kemiskinan, serta kontribusi bagi pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif di Indonesia, yaitu melalui perluasan akses dalam peningkatan kualitas tenaga kerja generasi muda Indonesia. (HS-DRT/Editor/HKLI)