Di Pondok Pesantren Wirausaha Sunan Kalijaga, Yogyakarta, seorang santri bukan hanya dipersiapkan untuk menjadi seorang kyai, tetapi juga untuk menjadi seorang peternak profesional. Di tempat ini para santri juga belajar bagaimana memelihara domba sebagai bekal mereka untuk hidup di masyarakat ketika mereka telah lulus dari pesantren. Namun, para pengajar di pondok pesantren ini adalah para kyai yang hanya memiliki bekal ilmu agama, sehingga mereka pun tidak memiliki pemahaman yang cukup dalam bidang peternakan.

Hal inilah yang kemudian menarik perhatian lima mahasiswa dari Jurusan Ilmu dan Industri Peternakan, Fakultas Peternakan UGM, untuk memberikan “Beasiswa Domba” kepada para santri di pondok pesantren ini. “Beasiswa Domba” merupakan sebuah program pemberian bantuan domba beserta keterampilan dalam beternak domba kepada para santri, untuk mempersiapkan mereka menjadi peternak profesional. Keterampilan yang mereka peroleh melalui program ini di antaranya teknik pembuatan pakan fermentasi untuk meningkatkan produktivitas ternak domba, serta pembuatan pupuk kompos dari kotoran ternak.

Kelima mahasiswa yang menginisiasi program ini adalah Dede Arifin, Aditya Nugroho, Pradita Kasmara Dany, Mutia Indaningsih, dan Ari Widya Pangesti. Mereka mengembangkan ide dan gagasan ini melalui Program Kreatifitas Mahasiswa di  bidang Pengabdian kepada Masyarakat. (PKM-M).

“Kami ingin mengaplikasikan ilmu yang kami dapatkan dari Fakultas Peternakan UGM dengan membantu santri menjadi peternak yang tangguh dan profesional di masa depan” papar Dede Arifin, Kamis (14/4).

Ide awal dari program “Besiswa Domba” berasal dari adanya kebutuhan santri akan keterampilan yang mumpuni dalam beternak domba, juga kebutuhan akan biaya pendidikan santri selama berada di pondok pesantren. Dengan adanya “Beasiswa Domba”, para santri dapat meningkatkan keterampilan beternak domba, salah satunya dengan membuat sendiri pakan fermentasi untuk meningkatkan produktivitas domba yang mereka pelihara. Selain itu, limbah peternakan berupa kotoran ternak dapat mereka olah menjadi pupuk kompos yang kemudian dapat dikemas dan dijual menjadi sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup, serta untuk membiayai pendidikan mereka.

 “Tujuan akhir dari program ini adalah kemandirian santri dan meningkatkan kompetensi santri dalam beternak, sehingga setelah lulus dari pesantren nanti mereka mampu memiliki peternakan sendiri dan menjadi Generasi Peternak Nusantara” ujar Dede menambahkan.

Untuk memastikan keberlanjutan dari program ini, para mahasiswa juga turut melibatkan para pengurus pondok pesantren untuk mengikuti pelatihan yang diberikan. Dengan demikian, setelah program ini selesai, para pengurus pondok pesantren dapat meneruskan program serupa kepada para santri baru yang masuk ke pondok pesantren ini di kemudian hari. (Humas UGM/Gloria)