Jika kita diijinkan oleh Allah SWT, sebentar lagi kita akan kembali memasuki bulan ramadhan, bulan yang penuh berkah dan ampunan. Beberapa media cetak sudah mulai memberitakan kejadian anthrax. Masih melekat dalam ingatan kita pada setiap saat menjelang hari raya Iedul  Fitri   dan Iedul Qurban berbagai media cetak dan media massa yang marak memberitakan  penjualan  daging glonggongan, ayam yang disuntik air, juga ayam tiren serta  daging daur  ulang.  Kalau kita cermati lebih dalam,  akar permasalahan dari  kasus ini  adalah kemampuan daya beli masyarakat yang masih rendah padahal   masyarakat sangat membutuhkan komoditi tersebut.  Dalam situasi seperti ini,   masyarakat cenderung mencari komoditas  yang sesuai dengan daya belinya.    Kondisi seperti inilah yang dimanfaatkan oleh oknum yang tidak bertanggung  jawab  untuk memperoleh keuntungan besar dalam waktu singkat, tanpa  memperhatikan  bahaya yang ditimbulkan akibat perbuatannya.

Kasus dan isu lain  yang seolah-olah sudah menjadi  ritual rutin menjelang    dua hari besar islam, yaitu Iedul Fitri dan Iedul Adha adalah isu anthrax pada hewan korban.  Hal yang paling menarik   adalah pada kenyataannya  isu ini hampir selalu muncul menjelang kedua hari besar ini,  dimana permintaan akan daging mencapai puncaknya.  Anehnya isu-isu selalu   diikuti  pula oleh munculnya iklan-iklan di berbagai media cetak dan elektronik yang menawarkan hewan qurban yang  bebas  anthrax dan penyakit lainnya yang tentunya dengan harga jual yang  lebih  tinggi. Kalau kita amati lebih jeli, bahwa biasanya isu anthrax ini  kemunculannya selalu  mengikuti  periode waktu menjelang kedua hari besar ini.

Secara ilmiah hal ini tentunya  sangat sulit untuk dijelaskan, mengapa?  Pada  kasus anthax ini, Bacillus  anthracis yang merupakan bakteri gram positif  penyebab terjadinya kasus anthrax  pada hewan  merupakan bakteri yang  tahan  banting.  Bakteri ini dapat dalam    keadaan dorman di luar inangnya (misalnya  di tanah) dapat bertahan  berpuluh  tahun. Hal ini dimungkinkan karena bakteri  ini memiliki lapisan luar yang super  kuat dan bagian dalamnya yang dilindungi  lapisan yang melindungi sporanya.   Dalam kondisi ini spora anthrax tahan  terhadap suhu ekstrim, kekeringan maupun  disinfektan (misalnya alcohol 95%).  Apabila spora ini mendapatkan inang yang  baik (hewan atau manusia), maka  bentuknya akan berubah menjadi batang dan sangat  cepat berkembangbiak melalui  penggandaan diri.    Walaupun bakteri ini memiliki  daya tahan yang cukup kuat,  bakteri ini tidak dapat berkembang biak di luar  inang dengan baik.  Masuknya  spora dari tanah ke ternak biasanya terjadi karena  ternak memakan rumput yang  tumbuh pada tanah yang terkontaminasi spora anthrax.

Penularan dan perkembang biakan anthrax ini dapat dicegah dengan melakukan   vaksinasi rutin pada ternak, serta pemutusan mata rantai siklus  perkembangbiakan  bakteri anthrax. Penularan penyakit ini antar ternak dapat  terjadi melalui kontak langsung maupun  akibat dari terkontaminasinya pakan oleh  bakteri ini.  Penularan dari  ternak ke  manusia biasanya terjadi akibat kontak  langsung atau memakan bagian tubuh ternak  yang terkena anthrax.   Pada kasus  orang terkena anthrax, biasanya pemberian  antibiotik seperti  penicillinciprofloxacin dan doxycycline sedini mungkin akan  dapat  mengatasinya.

Kalaupun ada kasus anthrax terjadi di daerah tertentu,  maka kasus ini dapat   dieliminasi melalui pengisolasian wilayah dan pemusnahan ternak yang ada di   wilayah tersebut sesuai dengan prosedur standar yang telah dimiliki oleh Dinas   Peternakan dan instansi berwenang lainnya.  Anthrax bukanlah penyakit  yang   penularannya dapat terjadi melalui airborne desease.  Ini artinya penularan   penyakit anthrax, misalnya  tidak akan secepat seperti  penularan flu.

Kasus anthrax hanya muncul pada kondisi yang optimum. Kalender  islam yang  dibuat berdasarkan peredaran bulan sangatlah unik.  Ini  berarti bahwa jatuhnya  hari raya, baik itu Iedul Fitri maupun Iedul Adha akan  selalu bergeser,  sehingga semua bulan dalam penanggalan masehi akan terkena  hari besar ini.   Jadi kedua hari besar islam ini pada suatu saat dapat jatuh di  musim kemarau,   pancaroba maupun musim hujan.  Jika dihubungkan dengan kasus   anthax di atas,  maka sangat kecil kemungkinan di sepanjang tahun bakteri anthrax  ini dapat  berkembang biak dengan baik di luar inangnya, karena adanya fluktuasi kondisi  iklim.

Bakteri anthrax hanya dapat berkembang pada suhu, kelembaban dan  faktor  eksternal lainnya yang optimal bagi pertumbuhan dan perkembangbiakan  bakteri  tersebut.  Dengan mengamati perubahan suhu, kelembaban yang berfluktuasi  dari  bulan ke bulan sepanjang tahun, maka tidak semua bulan dan musim menjadi   kondisi optimal bagi bakteri anthrax untuk menyempurnakan siklus hidupnya. Jadi  kemunculan  isu anthrax  yang selalu mengikuti   Iedul Qurban ini, lebih   banyak disebabkan oleh masalah supply dan demand hewan  qurban, dibandingkan   dengan  penjelasan ilmiah tentang kemungkinan munculnya kasus anthax ini.   Tidak  menutup kemungkinan adanya pihak pihak yang tidak bertanggungjawab  yang  dengan  sengaja menghembuskan isu ini agar harga jual hewan qurban menjadi lebih  tinggi.

Dampak dari isu anthrax ini tentu sangat merugikan baik bagi orang yang ingin   melakukan qurban (shahibul Qurban), maupun mustahik selaku  salah satu pihak   penerima daging qurban ini.    Biasanya harga hewan qurban yang diklaim bebas   dari anthrax ini harganya jauh lebih tinggi.  Pada sekitar 3 minggu menjelang    Iedul Qurban, harga biasanya terus merangkak dan  setiap tahunnya terus naik    tidak terkendali.   Dari hasil pengamatan ternyata dengan harga yang sama, dari   tahun ke tahun ukuran hewan  qurban semakin kecil, karena harganya yang  semakin   tinggi.  Pernah pada suatu saat, berat karkas domba qurban hanya mencapai   sekitar 5 kg,  padahal hewan qurban tersebut harganya Rp. 900 ribu.  Dengan  harga ini  berarti bahwa   harga per kg dagingnya lebih dari  Rp. 180.000,-.   Harga  ini  lebih dari 2 x lipat dari harga daging domba pada situasi  normal.

Memang,  orang yang berqurban tidak pernah memperhitungkan dan memperhatikan  hal  ini,  karena niat tulusnnya untuk berqurban hanya karena Allah SWT.  Akan  tetapi  alangkah indahnya jika isu anthrax tidak ada dan kenaikan harga hewan  qurban  pada kisaran yang wajar.  Dengan demikian, tentunya akan lebih banyak  orang yang  berqurban dan akan  lebih banyak lagi  mustahik yang akan menerima  hewan qurban.

 

Menghasilkan Hewan qurban yang sehat

Hewan qurban biasanya didatangkan dari kantung-kantung ternak yang jaraknya  cukup jauh dari lokasi dilaksanakan pemotongan hewan qurban.  Biasanya fasilitas  pemeliharaaan di lokasi pemotongan hewan qurban lebih buruk  jika dibandingkan  dengan kondisi  pemeliharaan hewan qurban di tempat  asalnya.  Dengan kondisi  perkandangan dan pakan yang seadanya, biasanya bobot badan hewan qurban di  tempat penampungan akan  menurun secara drastis dalam waktu yang singkat.   Hal  ini disebabkan karena perbedaan manajemen pemeliharaan dan pakan.  Sebaiknya  sebelum hewan qurban didatangkan, panitia qurban menanyakan pakan yang biasa  diberikan  dan sistem pemelitharaan yang biasa dilakukan,  agar paling tidak  di  tempat penampungan kualitas pakan dan manajemen pemeliharaan sementara di tempat  penampungan dapat disesuaikan. Penurunan kondisi yang merupakan gabungan  antara stress yang dialami oleh hewan  qurban selama perjalanan dan kurang baiknya  manajemen pemeliharaan di tempat  penampungan, biasanya diikuti oleh munculnya penyakit penyakit yang pada kondisi yang baik tidak muncul.

Penyakit yang sering dijumpai adalah ORF yang ditandai  dengan semacam bisul-bisul bernanah dan koreng di sepanjang bibir dan juga pada  kulit.  Penyebab terjadinya ORF adalah virus, sehingga pencegahan yang paling  efektif adalah melalui vaksinasi.  Apabila hewan qurban terkena ORF, maka nafsu  makannya akan turun akibat kesulitan mengunyah dan menelan  pakan dan diikuti  dengan turunnya bobot badan. Penyakit dan kelainan yang umumnya muncul di tempat  penampungan adalah sakit mata dan cacingan.

Salah satu cara untuk mencegah munculnya penyakit ini adalah memastikan bahwa  manajemen pemeliharaan hewan qurban selama dalam penampungan sebelum dipotong  harus sama atau lebih baik dari kondisi pemeliharaan di tempat asalnya.  Dengan  cara ini,  kondisi kesehatan hewan qurban dapat dipertahankan.  Oleh  sebab itu,   panitia pengadaan dan pemotongan hewan qurban haruslah memiliki perencanaan yang baik sebelum mendatangkan hewan qurban, terutama jika hewan korban yang  dikelolanya banyak.  Keberadaan hewan qurban di tempat penampungan sebelum  dipotong biasanya sekitar 3-4 minggu.  Hal ini dimaksudkan agar orang yang ingin  berqurban dapat memilih langsung hewan qurbannya.  Dalam periode yang cukup lama  inilah diperlukan manajemen pemeliharaan yang baik agar hewan qurban dapat  berada dalam kondisi prima pada saat dipotong.

Biasanya sebelum diberangkatkan dari tempat asalnya, hewan qurban sudah  diseleksi dan diperiksa kesahatannya oleh pihak yang berwenang.  Dengan asumsi  ini, maka apabila segera setelah sampai di tempat penampungan, hewan qurban  mendapatkan nutrisi yang mencukupi  dan dipelihara di kandang yang tidak lembab,  maka stress yang dialami hewan qurban selama pengangkutan dapat pulih kembali.   Kalaupun di tempat penampungan terdapat gejala  ternak sakit, maka pisahkanlah  hewan yang sakit tersebut dari kelompok  ternak ternak yang sehat untuk  selanjutnya diberikan pengobatan.

Pengobatan darurat yang sederhana dapat saja dilakukan.  Misalnya pada kasus  ORF, bisul dapat saja dipecah dan diberikan yodium tincture.   Dalam mencegah  kasus cacingan, pastikan dalam memilih hewan qurban di kantung ternak sudah ada  jaminan bahwa  hewan qurban telah diberikan obat cacing sebelumnya. Khusus untuk  anthtax, apabila sewaktu diambil dari kantong ternak hewannya sehat dan telah  diperika oleh pihak yang berwenang dan selama penampungan (sekitar 3 minggu)   hewan qurbannya juga tidak menunjukkan gejala anthrax, maka dapat dipastikan  hewan tersebut bebas dari anthrax, karena masa inkubasi penyakit ini  telah  lewat.

Kesemua upaya ini tentunya  ditujukan untuk menghasilkan daging dan hewan qurban yang sehat  dengan bobot badan yang memadai.  Marilah kita meniatkan bahwa menghasilkan,  menjual, mengelola serta membeli hewan qurban itu semata mata karena Allah SWT,  sehingga niat kita diridhoi oleh Allah SWT, sekaligus akan lebih banyak lagi  para  mustahik yang dapat menerima daging qurban, amien.

 


Prof. Ronny Rachman Noor, Ir, MRur.Sc, PhD
Research and Community Services Institute – Bogor Agricultural University
ronny_noor[at]yahoo.com