Jakarta – Pertahanan Negara adalah sumbu utama untuk menangkal hal-hal negatif yang mungkin terjadi dalam menggoncang kedaulatan Negara. Landasan utama untuk menjaga kedaulatan Negara tersebut diantaranya dapat melalui pendidikan. Radikalisme mulai mengancam anak bangsa yang merupakan masa depan Bangsa Indonesia. Pendidikan terutama pendidikan tinggi dapat menangkal radikalisme yang dapat mengganggu keharmonisan, keberagaman, dan kedaulatan Negara. Hal-hal demikian yang banyak dibahas saat berlangsungnya Seminar Kurikulum Pertahanan dan Bela Negara Universitas Pertahanan di Aula Bhinneka Tunggal Ika, Kementerian Pertahanan (29/3).

Rektor Unhan I Wayan Midhio mengatakan, “Unhan berusaha memposisikan eksistensinya sebagai satu-satunya Perguruan Tinggi di Indonesia yang memfokuskan diri pada studi ilmu pertahanan dan bela negara. Berbagai kajian strategis terhadap isu pertahanan dan bela negara telah diupayakan lewat berbagai program pendidikan dengan tujuan menghasilkan kader intelektual bela negara yang tangguh”.

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir dan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu hadir sebagai Keynote Speaker pada seminar yang juga dihadiri oleh para pimpinan Perguruan Tinggi Negeri dan Perguruan Tinggi Swasta tersebut. “Peran Perguruan Tinggi dalam menangkal radikalisme amatlah penting, apalagi jumlahnya yang begitu banyak, ini menjadi penangkal utama radikalisme agar tidak berkembang lebih besar. Oleh karena itu pentingnya konsep pertahanan negara dan bela negara untuk diimplementasikan dalam kurikulum pendidikan tinggi”, ucap Ryamizard. Menhan juga menitikberatkan bahwa kurikulum yang akan diterapkan kepada mahasiswa ditujukan untuk membangun rasa nasionalisme yang tinggi, menumbuhkan kecintaaan lebih kepada Bangsa dan Negara. “Hingga akhirnya, ketika ada paham-paham radikalisme mulai masuk kepada mahasiswa, akan tertangkal dengan sendirinya. Mahasiswa akan menjadi kader unggul dimana tidak hanya cerdas secara akademik, namun juga cinta akan negaranya”, tambahnya.

Menjawab hal tersebut Nasir mengatakan bahwa program Bela Negara ini adalah program yang positif dalam rangka membentuk masyarakat Indonesia yang cinta tanah air dan tangguh dalam menjaga keharmonisan berbangsa dan bernegara. Utamanya adalah para mahasiswa yang akan semakin tangguh dalam menangkal radikalisme yang masuk kedalam sendi-sendi akademik di kampus. “Dengan Bela Negara ini, mahasiswa juga saya harapkan bertambah disiplin, solidaritasnya tinggi dengan lingkungan sekitarnya, serta semakin cinta akan tanah airnya. Kami akan terus mengembangkan budaya Bela Negara ini sebagai bagian dari misi Kemristekdikti dalam menciptakan insan-insan yang cerdas. Kami juga ingin belajar banyak dari Kemhan tentang penerapan budaya tersebut untuk diterapkan pada Kementerian kami. Saya pun meminta kepada para Rektor agar dilakukan terus pendampingan kepada mahasiswa agar bela negara ini menjadi bagian penting dalam kegiatan kemahasiswaan”, tegas Nasir.

Diharapkan melalui seminar yang berlangsung akan semakin memperdalam kajian pertahanan dan bela negara di Perguruan Tinggi untuk menghasilkan kader intelektual bela negara, sehingga terwujud sistem pertahanan negata yang kuat dan tangguh dalam mendukung tercapainya tujuan nasional menuju cita-cita bangsa Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. (dzi/bkkpristekdikti)

Galeri