Wicensius Parulian Hasudungan, mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia angkatan 2011, berhasil meraih penghargaan internasional, Top Ten APACPH Poster Award pada ajang konferensi 48th Asia Pacific Academic Consortium of Public Health (APACPH) yang diselenggarakan tanggal 16-19 September 2016 yang lalu di Universitas Teikyo, Jepang.

Penyelenggaraan APACPH bertujuan untuk menampung berbagai gagasan terkait kesehatan masyarakat sebagai upaya mencapai tingkat kesehatan tertinggi bagi mayarakat di negara-negara di kawasan Asia-Pasifik. Tema yang diangkat pada APACPH tahun ini adalah “Create a Healthy Future with Competent Professionals”.

Pemilihan tema didasarkan pada beragamnya tantangan yang saat ini dihadapi oleh dunia kesehatan masyarakat. Sebut saja bencana alam, kemunculan infeksi baru, polusi lingkungan, dan gaya hidup berisiko seperti merokok.

Untuk menangani masalah ini, diperlukan sebuah sistem kesehatan dan komitmen dari para tenaga profesional kesehatan untuk menjaga kestabilan kesehatan masyarakat di dunia, khususnya yang berada di kawasan Asia Pasifik. Tenaga profesional kesehatan yang kompeten diharapkan mampu mengatasi tantangan yang dihadapi.

Dalam penyelenggaraan APACPH 2016, selain berkesempatan mengikuti konferensi, seluruh peserta juga diajak untuk berbagi ilmu dan berkompetisi melalui abstrak penelitian. Wincensius Parulian Hasudungan, atau yang biasa dipanggil Sudung, mengirimkan abstrak penelitiannya yang berjudul “The Analysis of Knowledge, Attitude, and Practice of High Risk Pulmonary TB Community in order to Improve TB Case Detection Rate in Matraman District”.

Abstrak penelitian ini Ia susun bersama Rosyid Mawardi, Dinni Adila, Bernita Kusumanti, dan Eka Lusi Susanti dengan pembimbing dr. Trevino A. Pakasi, MS (Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas FKUI). Abstrak tersebut kemudian diterima untuk dipresentasikan pada sesi presentasi poster ajang APACPH 2016.

Mereka tentu bangga terpilih menjadi salah satu diantara ratusan abstrak yang masuk dari seluruh dunia. Sebagai upaya persiapan sebelum bertolak ke Jepang, Sudung dan kawan-kawan banyak berdiskusi dengan dr. Trevino untuk memperdalam pemahaman mengenai riset mereka. Sebagai penulis pertama, Sudung juga berlatih presentasi sebagai persiapan diri.

Hari yang dinanti tiba. Sudung harus mempresentasikan posternya dan bersaing dengan 490 abstrak lainnya. Dengan tenang, Sudung mempresentasikan abstraknya dihadapan para juri. Tak diduga, pada saat pengumuman, nama Sudung diumumkan sebagai peraih predikat Top Ten APACPH Poster Award atas hasil riset dan pemaparannya.

Latar belakang penelitian Sudung yaitu mengenai diagnosis komunitas angka deteksi Tuberkulosis (TB). Pada tingkat nasional, target deteksi TB nasional mencapai angka 90% pada tahun 2015. Namun di kawasan Matraman, Jakarta Pusat, angka deteksi TB dua tahun terakhir hanya mencapai 48%.

Rendahnya angka deteksi tersebut menarik Sudung dan kawan-kawan untuk mengetahui penyebabnya. Faktor apa yang menyebabkan angka deteksi TB di Matraman menjadi rendah, apakah dari sisi masyarakatnya yang masih enggan memeriksakan diri ataukah dari tenaga kesehatan yang belum maksimal melakukan skrining TB pada masyarakat.

Sudung dan kawan-kawan kemudian turun ke masyarakat. Mereka ingin tahu, faktor mana yang paling memengaruhi rendahnya angka deteksi TB di Matraman. Metode yang mereka lakukan adalah dengan mengunjungi rumah-rumah di kawasan Matraman untuk melakukan wawancara dengan masyarakat.

Wawancara akan lebih mendalam, jika dalam satu rumah ada anggota keluarga yang memang terdeteksi TB positif. Puskesmas, juga diharapkan berperan dalam mendeteksi penderita TB dengan melakukan pemetaan wilayah dengan kemungkinan jumlah penderita TB.

Secara umum, riset ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat terkait penyakit TB. Kesadaran dan pemahaman ini diharapkan dapat menggerakkan inisiatif masyarakat untuk secara sukarela memeriksakan diri mereka ke pusat pelayanan terdekat untuk mendeteksi kemungkinan terinfeksi TB.

Puskesmas, sebagai pusat pelayanan kesehatan primer, diharapkan juga semakin aktif dalam melakukan ‘jemput bola’ deteksi TB. Pembentukan kader puskesmas juga diharapkan dapat membantu mengedukasi masyarakat mengenai TB. Kader-kader ini dapat berasal dari ibu-ibu, mahasiswa atau warga setempat lainnya. Para kader ini nantinya berfungsi untuk mengedukasi masyarakat agar mau memeriksakan diri secara sukarela untuk mendeteksi kemungkinan terinfeksi TB.

Pada wawancara bersama HUMAS FKUI, Sudung berbagi tips kepada rekan-rekan sejawat jika ingin mengikuti konferensi internasional. “Kalau ingin ikut konferensi internasional, yang pasti harus suka dulu sama riset. Kemudian kita cari konferensi yang tema atau topiknya kita suka. Kalau saya kemarin lebih tertarik dengan tema layanan primer sekaligus menjadi persiapan kami untuk menjadi dokter internship,” ujar Sudung sekaligus menutup sesi wawancara.

Sumber : fk.ui.ac.id