Prof. Notonagoro dikenal sebagai filsuf terkemuka yang mengutamakan Pancasila sebagai karakter khusus filsafat Indonesia. Nama besar dan rekam jejaknya kini diabadikan dengan berdirinya gedung baru Fakultas Filsafat UGM yang dinamakan gedung Notonagoro.

“Sudah sejak 30 tahun yang lalu Fakultas Filsafat ingin memiliki gedung bernama Notonagoro, akhirnya hari ini keinginan itu terkabul,” ujar Dekan Fakultas Filsafat Dr. M. Mukhtasar Syamsuddin dalam acara peresmian Gedung Notonagoro, Rabu (20/4).

Prof. Notonagoro yang pada tahun 1949 diangkat sebagai guru besar pada Fakultas Hukum, Ekonomi, Sosial dan Politik UGM ini di kemudian hari menjadi salah satu penggagas dan pendiri Fakultas Filsafat UGM. Sementara itu, di ranah filsafat nasional, sumbangan pemikiran ilmiahnya mengenai tempat dan kedudukan Pancasila di dalam ketatanegaraan Indonesia menjadikannya salah satu filsuf paling penting di dalam sejarah Bangsa Indonesia.

Dalam sambutannya, Mukhtasar menyatakan kekagumannya akan sosok Notonagoro yang meski sangat memahami filsafat Barat, namun ia tetap berpegang pada keutamaan nilai-nilai luhur dari Pancasila, dan tidak menjadikan filsafat Barat sebagai pengajaran yang utama. Karena itu, untuk meneladani semangat yang dimiliki Notonagoro, gedung ini pun dibangun dengan 5 lantai sesuai dengan jumlah sila dalam pancasila, dan masing-masing lantai diberi nama menurut kelima sila tersebut.

Lantai paling atas atau lantai kelima disebut sebagai Lantai Ketuhanan, karena di ini terdapat kelas-kelas yang di dalamnya mahasiswa akan diajarkan mengenai etika dan Ketuhanan. Kemudian, lantai 4 disebut sebagai Lantai Kemanusiaan, yang di dalamnya berisi pusat-pusat pengkajian terkait nilai-nilai kemanusiaan, termasuk Laboratorium Filsafat Nusantara yang menjadi salah satu keunikan fakultas ini. Selanjutnya, lantai ketiga, kedua, dan lantai dasar masing-masing diberi nama Lantai Persatuan, Lantai Kerakyatan, dan Lantai Keadilan.

 “Saya harap dengan berdirinya gedung ini, Fakultas Filsafat betul-betul jadi Fakultas yang strategis untuk mengembangkan nilai-nilai luhur pancasila dalam memberikan pendidikan bagi masyarakat,” tambahnya.

Dalam kesempatan yang sama Rektor UGM, Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, M.Sc., Ph.D, juga menyampaikan penghargaannya terhadap peran penting Notonagoro bagi UGM. “Bagi UGM sendiri, Notonegoro telah berjasa menjadi peletak dasar Pancasila sebagai nilai dasar ke-UGM-an yang tertuang dalam statuta UGM. Notonagoro telah meninggalkan rekam jejak yang tidak boleh lenyap,” ujarnya.

Bagi Dwikorita, salah satu pemikiran Notonagoro yang bernilai penting dalam konteks masa kini adalah tulisannya yang membahas Pancasila secara ilmiah populer, sebagai suatu nilai yang akan tetap bertahan mengikuti perkembangan zaman.

“Beliau adalah salah satu filsuf terkemuka di Indonesia, dan saya yakin juga di dunia. Semoga dengan hadirnya rekam jejak beliau melalui gedung ini, pemikiran beliau mengenai Pancasila bisa semakin dikembangkan dengan cara-cara yang bisa mengikuti perkembangan zaman, dan kita tidak perlu resah dengan perkembangan digital saat ini yang terkadang bisa menjadi arena adu domba,” jelasnya. (Humas UGM/Gloria)