Senin, 20 Februari 2017

Surakarta – Upaya revitalisasi pendidikan tinggi vokasi terus dilakukan pemerintah. Hal tersebut dalam rangka meningkatkan daya serap dan tenaga kerja terampil dari para lulusan sekolah tinggi atau politeknik di dunia kerja (industri).

Tujuannya agar Indonesia dapat bersaing dengan negara-negara maju dalam menciptakan tenaga kerja yang kompetitif dan produktif. Kesiapan tenaga kerja Indonesia menjadi faktor revitalisasi pendidikan tinggi vokasi.

Di kota Surakarta, terdapat Akademi Teknik Mesin Industri (ATMI) yang didirikan sejak tahun 1968 hingga kini terus berkibar  menjadi salah satu lembaga pendidikan vokasi terdepan dan lembaga pendidikan unggul di bidangnya. Hal itu terbukti dengan banyak  lulusannya diterima 100 persen lebih ke dunia usaha dan dunia industri (DUDI).

ATMI mempunyai tiga program studi (prod) yaitu  Teknik Mesin Industri, Teknik Perancangan Mesin dan  Teknik Mekatronika. Animo mahasiswa menempuh pendidikan di lembaga ini sangat tinggi bahkan mahasiswa yang masuk ke ATMI optimis dengan kuliah di ATMI  jaminan mutu diterima bekerja langsung di industri.

img_1502-kcl

Seperti dikemukakan  salah seorang mahasiswa  di bengkel praktek  ATMI bahwa para alumni ATMI sudah banyak bekerja di sejumlah  perusahaan industri .

“Berdasarkan. Informasi yang saya dan kesaksian para alumni ATMI yang telah  bekerja .Hal ini menambah keyakinan saya  kuliah di ATMI pasti diterima bekerja   karena kepercayaan yang besar perusahaan atau industri pada ATMI,” ungkap Doni.

Ia mengaku senang dapat kuliah di ATMI yang mempunyai fasilitas lengkap untuk praktek dan nyaman karena lapangan kerja sudah menunggu jika ia lulus.

Terkait kiprah ATMI sebagai kampus unggulan bidang Vokasi, Romo Agus Sriyono mengungkapkan  belum lama ini, ATMI mendapatkan mandat dari  Kemenristek Dikti melalui Direktorat Jenderal Kelembagaan  untuk  membangun program Diploma 4 atau  D4. Rencananya program ini  dibuka   dua program yaitu Perancangan Mekanik, dan Rekayasa Teknologi Manufaktur dan juga akan membangun D4 Mekatronika serta S2 terapan.

“Kami apresiasi kepercayaan Kemenristekdikti pada kami dan tugas  ini tidak ringan, Harapan kami agar pemerintah dapat terus memberikan apa saja yang diperlukan dalam menjalankan mandat dan kepercayaan ini,” ungkap Romo.

img_1625-kcl

Untuk kesiapan tenaga   dosen atau tenaga pengajar ATMI guna merealisasikan program revitalisasi politeknik, pihaknya mengupayakan menambah  dosen berkat kerjasama yang telah terjalin baik  dengan pihak industry untuk merekrut  karyawan industri  yang berkualitas dan  kompeten.

Saat ini tenaga dosen ATMI   sudah mencukupi  terdapat kurang lebih  100 dosen termasuk infrastruktur yang memadai.

Revitalisasi Pendidikan Vokasi

Romo Agus mengingatkan tentang Revitalisasi Pendidikan Vokasi yang diprogramkan pemerintahan Presiden Jokowi. Dikatakan pentingnya peran dunia industri berkiprah berkontribusi bagi kemajuan pembangunan dalam menggenjot vokasi.

“Untuk revitalisasi pendidikan tinggi vokasi, bidang prakteknya harus dicukupi, instrukturnya harus dilengkapi dan kalau kita mengandalkan dari sekolah atau kampus  yang bersangkutan tidak akan mampu. Maka peran dari dunia  industri di butuhkan yakni, industri terlibat mengedukasi pendidikan vokasi,” tegasnya.

img_1697-kcl

Dengan terlibatanya kalangan industri maka SDM dari sekolah atau kampus itu benar-benar di olah hingga mempunyai kemampuan dan  kompeten sertifikasi, untuk meraih itu maka fasilitasnya harus memumyai bengkel yang  lengkap, ada motivasi produksi, tidak hanya sekadar prakarya.

”Kita komitmen dengan pendidikan vokasi dan industri harus terlibat dengan menyediakan tempat praktek, menyediakan laboratorium. Namun kita perihatin bahwa dewasa ini dunia industri masih kurang terlibat. Bagi mereka memberi tempat magang itu dianggap sebagai biaya dan bukan sebagai investasi,” tutur Agus.

Sejarah ATMI Solo Berdiri

Berdirinya Akademi Teknik Mesin Industri atau  ATMI Solo, Jawa Tengah pada tahun  1968 di  tengah suasana pemberontakan dan pergolakan masa  G30S PKI. Kondisi  kemiskinan pada masa itu sangat meluas dengan  pengangguran yang tinggi.

Guna  mengatasi pengangguran saat itu, ATMI terpanggil untuk turut mengatasi hal tersebut membangun lembaga Pendidikan. Ternyata  kualifikasi  calon pekerja yang di didik saat itu  tidak cocok dengan penerima dunia kerja. Disisi lain, pemerintah mencanangkan industrialisasi, tetapi lupa menyiapkan siapa yang menyediakan tenaga kerja.

“Nah, Politeknik ATMI di bangun dalam kerangka itu  dan dalam set up untuk membantu pemerintah membangun industrialisasi. Karena itulah ATMI berdiri, ” papar Direktur ATMI Solo, yang akrab disapa Romo Agus ini.

img_1511-kcl

Terminal

Romo Agus mengibaratkan  ATMI sebagai terminal, artinya setelah menempuh pendidikan di ATMI para lulusannya  tidak melanjutkan lagi ke jenjang berikutnya namun terserap di dunia kerja dan industri.

“Bagi kami kriteria  utama adalah  mahasiswa begitu  lulus, langsung terserap ke dunia kerja, dan kami bisa membuktikan setiap tahun lulusannya langsung terserap kerja hingga 100 persen plus,” tegasnya.

ATMI  menyiapkan empat ranah yang di butuhkan dunia  industri, dengan mengubah cara mahasiswa dapat mempunyai kemampuan merata yang cukup,  mekanismenya mahasiswa melakukam praktek selama empat  minggu dengan teori selama dua  minggu. (oeb)

img_1559-kcl