Angkat Muruah Pendidikan Tinggi Kesenian, Guru Besar ISI Surakarta Tekankan Metode 3R dalam Penciptaan Karya Seni

News

16 Oktober 2026 | 13.45 WIB

Angkat Muruah Pendidikan Tinggi Kesenian, Guru Besar ISI Surakarta Tekankan Metode 3R dalam Penciptaan Karya Seni

Jakarta—Guru Besar Seni Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta sekaligus Maestro Tari ternama, Eko Supriyanto, yang akrab disapa Eko Pece, menekankan pentingnya riset, kebaruan, dan pemikiran kritis dalam penciptaan karya seni. Menurutnya, karya seni yang dihasilkan, harus memiliki landasan pemikiran dan kontribusi pengetahuan yang dapat dijelaskan ke khalayak ramai.


Eko Pece yang baru saja menuntaskan karya koreografinya dalam gelaran seremoni penutupan Final FIFA ASEAN Cup pekan lalu, menjelaskan bahwa proses penciptaan seni perlu diawali dengan penelusuran persoalan dan riset untuk memahami konteks yang melatarbelakangi karya. Pengkarya perlu memeriksa kembali informasi, mengumpulkan data dan fakta, serta menggali kemungkinan perspektif baru agar karya yang dihasilkan tidak hanya bertumpu pada asumsi.


Salah satu pendekatan yang diperkenalkan Eko adalah metode 3R, yaitu revisiting, re-questioning, dan re-interpreting. Pendekatan tersebut mengajak pengkarya untuk mengunjungi kembali tradisi, mempertanyakan pemahaman yang telah terbentuk, dan menafsirkan kembali tradisi agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.


“Saya menemukan 3R itu, revisiting, re-questioning, dan re-interpreting. Jadi, mengunjungi kembali, menanyakan kembali, dan menginterpretasi kembali. 3R inilah yang kemudian menjadikan saya yakin bahwa tradisi kita perlu mendapatkan 3R ini kalau kita yakin dan sepakat bahwa tradisi kita harus tetap,” ungkap Eko Pece, Selasa (13/10).


Menurut Eko, proses mempertanyakan kembali tradisi penting dilakukan untuk menemukan persoalan yang mungkin tidak terlihat pada pemahaman awal. Ia mencontohkan pengembangan kisah Ramayana melalui penelusuran cerita bersama para guru tari, kemudian mengkaji kembali relevansinya dengan kehidupan masa kini sebelum menghasilkan penafsiran baru.


“Seorang akademisi ataupun seorang seniman harus melakukan riset, harus meneliti dahulu, menemukan dahulu masalahnya ada atau tidak. Kalau tidak ada masalah, apakah betul tidak ada masalah? Ketika saya masuk ke dalam konteksnya, masuk ke Taliwang, masuk ke Belu, masuk ke Halmahera Barat, saya menemukan permasalahan. Itulah yang kemudian sebagai seorang akademisi harus saya olah menjadi data dan fakta yang harus saya teliti,” jelas Eko.


Ia juga menegaskan bahwa penguatan riset perlu berjalan beriringan dengan kemampuan pengkarya menjelaskan gagasan dan kebaruan karya. Menurutnya, proses penciptaan tidak cukup berhenti pada hasil pertunjukan, tetapi perlu disertai narasi yang dapat dipahami, didokumentasikan, dan dikembangkan sebagai pengetahuan.


“Sekarang sudah saatnya para pengkarya yang bekerja pada proses penciptaan ini betul-betul harus dikuatkan narasinya, dikuatkan legasinya, bagaimana novelty-nya, apa pastinya. Ini juga harus dengan riset yang panjang. Tidak boleh hanya membuat karya, tidak hanya dirasakan dan dimengerti oleh yang membuat karya ini sendiri, tetapi harus juga dinarasikan sehingga bisa berdampak pada pengetahuan,” ujar Eko.

Eko menjelaskan, tantangan berikutnya adalah memastikan pengetahuan yang muncul dari proses penciptaan dapat dikomunikasikan dan ditelusuri secara akademik. Pengetahuan seni tidak hanya hadir dalam bentuk tulisan, tetapi juga melalui pengalaman tubuh, bunyi, ruang, material, dan hubungan antarmanusia. Karena itu, dokumentasi proses, catatan riset, rekaman pertunjukan, serta tulisan reflektif menjadi bagian penting untuk menjelaskan bagaimana keputusan artistik diambil dan mengapa keputusan tersebut menghasilkan pemahaman tertentu.

“Bagi saya, karya berbasis riset memiliki data, fakta, pengamatan, percobaan, dan refleksi. Semua itu perlu disusun menjadi rekam jejak yang dapat diperiksa: apa pertanyaannya, bagaimana prosesnya, apa temuannya, dan apa kontribusinya terhadap bidang ilmu serta kehidupan masyarakat. Karya yang berbasis pengetahuan harus mampu mempertanggungjawabkan proses maupun gagasannya. ,” ujar Eko.

Ia menambahkan, pengetahuan yang dihasilkan melalui penciptaan seni dapat memberikan manfaat bagi mahasiswa, perkembangan ilmu seni, komunitas, dan masyarakat. Karena itu, dokumentasi dan pengakuan terhadap karya juga menjadi bagian penting dalam pengembangan karier akademik seniman.


Eko mencontohkan karya IbuIbu Belu, yang berangkat dari riset mengenai perempuan, tenun, busana, dan persoalan perbatasan Indonesia dengan Timor-Leste. Melalui proses riset yang berlangsung sekitar satu setengah tahun, ia menemukan narasi mengenai kehidupan masyarakat perbatasan yang dapat dibicarakan dalam konteks lebih luas.


“Karya ini mengawali risetnya tentang perempuan-perempuan yang ada di Belu, Nusa Tenggara Timur. Bukan semata-mata tentang tarian tradisi yang ada di Belu, tetapi bagaimana penguatan tentang tenun, tentang busana, dan bagaimana kemudian saya menemukan narasi tentang perbatasan antara Indonesia dan Timor-Leste. Narasi ini menjadi penting karena karya tidak hanya mengutamakan estetikanya saja, tetapi juga bagaimana bisa memberikan kontribusi penting dalam kemanusiaan,” tuturnya.


Contoh lainnya adalah karya yang mengangkat persoalan kerusakan terumbu karang di Halmahera Barat. Dalam pengembangannya, Eko melakukan riset dan berkolaborasi dengan peneliti di bidang oseanografi untuk memperdalam konteks lingkungan yang menjadi dasar penciptaan. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa seni dapat berhubungan dengan berbagai bidang pengetahuan di luar praktik artistik.

Pandangan tersebut, menurut Eko, juga berkaitan dengan cara Indonesia menyiapkan masa depannya melalui pendidikan dan riset lintas disiplin. Ia menilai penguatan sains dan teknologi perlu berjalan beriringan dengan kemampuan seni untuk memahami pengalaman manusia dan membayangkan kemungkinan baru.

“STEM sangat penting dan mendesak bagi masa depan Indonesia. Karena itu, kita juga perlu memperkuat STEAM, yang mempertemukan Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics. Seni membawa kemampuan berimajinasi, membaca pengalaman manusia, mengembangkan kepekaan, dan mempertanyakan arah penggunaan teknologi. Peran itu perlu hadir sejak kita merumuskan persoalan dan merancang penelitian,” kata Eko.

Ia menambahkan, kewibawaan Indonesia dapat tumbuh melalui perjumpaan kemampuan ilmiah dan kedalaman kebudayaannya. Kemajuan, lanjutnya, perlu dirasakan melalui kualitas kehidupan, penghormatan terhadap perbedaan, dan hubungan yang lebih bertanggung jawab dengan lingkungan. Seni memiliki sumbangan penting untuk membayangkan sekaligus mengusahakan kehidupan seperti itu.

Eko turut menekankan pentingnya melibatkan mahasiswa, alumni, dosen, dan masyarakat dalam proses penciptaan. Keterlibatan berbagai pihak membuka kesempatan untuk melakukan riset bersama, mendokumentasikan pengetahuan lokal, dan meneruskan praktik budaya kepada generasi berikutnya.


Dalam pengembangan karier akademik, Eko mendorong para dosen dan seniman untuk memperkuat dokumentasi, kebaruan, serta pengakuan atas karya yang dihasilkan. Ia juga mengingatkan bahwa karya perlu memiliki narasi yang jelas agar dapat dikaji dan diteruskan oleh mahasiswa maupun peneliti dari bidang lain.


“Yang pasti harus bisa menarasikan karyanya, harus terdokumentasikan semua karyanya, secara rekognisi juga harus dikuatkan dan dicapai itu semua. Bahkan kalau perlu, hak cipta juga harus dikukuhkan. Novelty juga harus dikuatkan sehingga temuannya bisa diteliti dan diteruskan oleh mahasiswa, kolega dosen yang lain, atau bahkan dari bidang yang lain,” pesan Eko.


Melalui pemikiran tersebut, Eko mengajak akademisi, seniman, mahasiswa hingga masyarakat untuk memperkuat hubungan antara penciptaan, penelitian, dan dokumentasi. Sejalan dengan semangat Diktisaintek Berdampak, pengembangan seni di perguruan tinggi diharapkan mampu menghasilkan karya yang tidak hanya bernilai estetika, tetapi juga memperluas pengetahuan dan memberi manfaat bagi masyarakat.


Humas

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi


#DiktisaintekBerdampak

#Pentingsaintek

#Kampusberdampak


/

5

Rate Now