Berkaca dari Stephen Hawking, Wamendiktisaintek Stella Tekankan Asesmen Kebutuhan untuk Mewujudkan Kampus Inklusif Ramah Disabilitas

News

21 Oktober 2026 | 18.45 WIB

Berkaca dari Stephen Hawking, Wamendiktisaintek Stella Tekankan Asesmen Kebutuhan untuk Mewujudkan Kampus Inklusif Ramah Disabilitas

Jakarta—Keterbatasan akses informasi dan fasilitas masih menjadi tantangan bagi mahasiswa penyandang disabilitas. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menekankan pentingnya asesmen kebutuhan untuk mewujudkan pendidikan tinggi inklusif melalui Sarasehan dan Sosialisasi Pembentukan Unit Layanan Disabilitas (ULD) di Perguruan Tinggi, di Universitas Kristen Krida Wacana (UKRIDA), Selasa (20/10).


Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie, menegaskan bahwa aksesibilitas bukan sekadar pemenuhan hak penyandang disabilitas. Aksesibilitas juga membuka peluang kontribusi mereka bagi kemajuan ilmu pengetahuan.


“Kesempatan dan akses bagi penyandang disabilitas bukanlah kebutuhan penyandang disabilitas semata. Dunia juga membutuhkan akses tersebut agar potensi dan pemikiran mereka dapat berkembang,” ujar Wamen Stella.


Wamendiktisaintek mencontohkan ilmuwan Stephen Hawking yang tetap menghasilkan karya ilmiah penting meskipun menghadapi disabilitas. Menurutnya, dukungan aksesibilitas memungkinkan potensi individu berkembang dan memberikan manfaat bagi masyarakat.


“Jika Cambridge University tidak menyediakan fasilitas yang diperlukan Stephen Hawking, dunia bisa kehilangan pemikiran penting tentang alam semesta. Karena itu, aksesibilitas merupakan investasi bagi kemajuan ilmu pengetahuan,” tutur Wamen Stella.


Wamen Stella menilai aksesibilitas pendidikan tinggi juga berkaitan dengan pengembangan sumber daya manusia. Menurutnya, kualitas sumber daya manusia menjadi faktor penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi suatu negara.


“Perkembangan ekonomi hanya bisa dicapai melalui kualitas sumber daya manusia yang tinggi. Investasi terhadap sumber daya manusia menjadi penting bagi kemajuan suatu negara,” ujar Wamen Stella.


Wamen Stella menekankan bahwa perguruan tinggi perlu melakukan asesmen untuk mengidentifikasi hambatan dan kebutuhan mahasiswa penyandang disabilitas. Pemetaan yang terukur akan membantu institusi menentukan prioritas serta dukungan yang diperlukan.


“Permasalahan dan kebutuhan penyandang disabilitas perlu dikuantifikasikan. Jika kebutuhannya dirumuskan secara tepat, akan lebih mudah menentukan dukungan nyata yang diperlukan,” kata Wamen Stella.


Pengalaman mahasiswa tuli dalam kegiatan tersebut memperlihatkan pentingnya akses informasi. Ia berharap informasi kampus tidak hanya disampaikan melalui suara, tetapi juga tulisan dan bentuk komunikasi lainnya.


“Kuliah tidak hanya terkait bagaimana belajar di kelas, menulis, dan mendapatkan nilai. Saya juga ingin mengikuti kegiatan lain di kampus dan mengembangkan diri seperti mahasiswa lainnya,” ujar mahasiswa tersebut.


Kemdiktisaintek mengajak perguruan tinggi, LLDikti, dan KND menindaklanjuti asesmen melalui penguatan ULD, penyediaan fasilitas aksesibel, serta perbaikan layanan akademik. Langkah tersebut diharapkan memastikan setiap mahasiswa memperoleh kesempatan setara untuk belajar, berkarya, dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa .


Humas

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi


#DiktisaintekBerdampak

#Pentingsaintek

#Kampusberdampak


/

5

Rate Now