UNDIP, Senggi Kabupaten Keerom (19/9) – Tim Ekspedisi Patriot Universitas Diponegoro (TEP UNDIP) Tim 8 mendorong penguatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) bagi siswa sekolah dasar di Distrik Senggi, Kabupaten Keerom, Papua. Langkah ini menjadi bagian dari upaya membangun kebiasaan hidup sehat melalui pendekatan terpadu yang melibatkan pendidikan, kesehatan, keluarga, dan masyarakat dengan tetap menjunjung tinggi budaya lokal.
Kegiatan kolaboratif ini dipimpin oleh Ketua Tim 8, Imaniar Sevtiyani, S.K.M., M.K.M., dengan melibatkan UPTD Puskesmas Senggi, SD SOOM, SD Inpres 1, para guru, wali murid kelas 1–6, serta unsur Orang Asli Papua (OAP). Melalui forum diskusi bersama, para peserta menggali berbagai kebiasaan harian anak, mulai dari perilaku mencuci tangan, aktivitas fisik, hingga pola makan, sekaligus memetakan sejumlah tantangan penerapannya di lingkungan sekolah maupun rumah.
Salah satu fokus utama yang dibahas adalah pembiasaan mencuci tangan. Sejumlah orang tua mengungkapkan bahwa anak-anak sebenarnya telah mulai terbiasa mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, setelah memegang hewan, maupun saat tangan kotor. Namun, kebiasaan positif ini sebagian besar baru terwujud di lingkungan rumah.
Di sisi lain, penerapan pembiasaan di sekolah masih terkendala sarana penunjang. Beberapa fasilitas tempat cuci tangan belum sepenuhnya ramah anak, seperti posisi keran yang terlalu tinggi. Hal tersebut kerap menghambat siswa untuk mencuci tangan sebelum makan saat berada di sekolah. Oleh karena itu, Tim Ekspedisi Patriot UNDIP bersama pihak sekolah dan keluarga berkomitmen melakukan edukasi serta pembiasaan berkelanjutan agar perilaku bersih dapat diterapkan secara konsisten di mana pun anak berada.
Selain PHBS, aktivitas fisik juga menjadi perhatian penting dalam menunjang tumbuh kembang anak. Di sekolah, kegiatan gerak telah diintegrasikan secara kreatif dalam rutinitas harian, seperti yel-yel usai berdoa, ice breaking di sela pembelajaran, hingga senam bersama setiap hari Jumat. Tim Ekspedisi Patriot UNDIP menilai bahwa aktivitas fisik anak tidak harus selalu berbentuk olahraga formal. Gerak tubuh dapat dibangun melalui kegiatan menyenangkan yang dekat dengan keseharian mereka, seperti permainan tradisional, nyanyian, tarian, dan aktivitas kelompok. Pendekatan ini diharapkan membuat aktivitas fisik terasa menyenangkan dan menyatu dalam rutinitas harian siswa.
Tak kalah penting, pembahasan kesehatan anak juga menyasar pola makan di lingkungan keluarga. Dalam sesi diskusi, para wali murid membagikan pengalaman mereka dalam menjaga asupan gizi anak, termasuk membatasi konsumsi gula, garam, dan minyak, serta mengutamakan real food yang kaya protein, sayuran, dan karbohidrat.
Salah satu orang tua murid, Siti Mukmainah, menjelaskan bahwa keluarga berupaya mengolah makanan dengan cara yang lebih sederhana, seperti direbus atau dikukus, serta memprioritaskan makanan yang mengandung protein dan serat. “Kami lebih mengutamakan protein, seperti tahu, tempe, telur, ikan, dan ayam, kemudian sayuran atau serat, serta karbohidrat,” jelasnya. Ia juga menyampaikan bahwa keluarga berupaya memperhatikan komposisi makanan yang dikonsumsi anak dan membatasi makanan ultra-proses seperti sosis, nugget, serta mi instan.
Kegiatan ini menjadi ruang sinergi nyata antara perguruan tinggi, fasilitas kesehatan, sekolah, keluarga, dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan inklusif bagi tumbuh kembang anak. Sinergi ini diharapkan tidak berhenti pada sesi edukasi semata, tetapi berkembang menjadi gerakan bersama yang berkelanjutan di Distrik Senggi, Kabupaten Keerom.
Inisiatif dan aksi nyata Tim Ekspedisi Patriot UNDIP dalam penguatan PHBS, nutrisi, dan lingkungan sehat di Papua ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui peningkatan kesehatan dan kesejahteraan anak, SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penyediaan lingkungan belajar yang mendukung kesehatan siswa, dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi lintas sektor antara akademisi, tenaga kesehatan, sekolah, dan komunitas lokal. (Komunikasi Publik/UNDIP)







