Dari Data Menjadi Aksi, Ketika Kepemimpinan Menghasilkan Dampak

News

08 Oktober 2026 | 23.45 WIB

Dari Data Menjadi Aksi, Ketika Kepemimpinan Menghasilkan Dampak

Depok—-Upaya mendorong mahasiswa menjadi calon pemimpin yang mampu membaca persoalan, dan menghadirkan perubahan, terus diusung Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) dalam rangkaian Indonesia Future Leaders Summit (FLS) 2026, Kamis (8/10). 


Pada sesi bertajuk “Leading with Impact: Ketika Kepemimpinan Menjawab Persoalan Masyarakat”, Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu), Nurkholisoh Ibnu Aman mengajak mahasiswa mengolah data dan bukti menjadi dasar untuk menentukan tindakan yang memberikan dampak bagi masyarakat.


Indonesia telah menunjukkan sejumlah kemajuan yang perlu diakui sekaligus dijaga. Namun, sejumlah persoalan masih perlu mendapat perhatian, tercermin dari tingkat kemiskinan sebesar 8,67%, pengangguran terbuka 4,6%, dan stunting 19,8%. Tingkat pengangguran usia 15-24 tahun, mencapai 17,37%, sedangkan kelompok yang tidak sedang menempuh pendidikan, bekerja, atau mengikuti pelatihan Not in Education, Employment, or Training (NEET) mencapai 19,44%.


Wamenkeu menekankan, pemimpin tidak harus menyelesaikan seluruh persoalan Indonesia sekaligus. Langkah awal yang dapat dilakukan mahasiswa adalah memilih persoalan yang dekat dengan lingkungan mereka, memahami penyebabnya, mengetahui pihak yang terdampak, kemudian menentukan bagian yang dapat dipengaruhi.


“Jadi pertanyaan kita harus lebih panjang. Tantangan yang mana, mengapa, siapa yang terdampak, lalu bagian mana yang bisa kita pengaruhi,” kata Wamen Nurkholisoh.


Menurut Wamenkeu, persoalan yang dihadapi Indonesia bersifat kompleks dan saling berkaitan sehingga tidak dapat diselesaikan oleh satu disiplin ilmu, organisasi, maupun individu. Karena itu, kemampuan pemimpin bukan sekadar memiliki jawaban, melainkan mampu mendefinisikan masalah, melihat keterkaitan antarmasalah, dan mengajak pihak yang relevan untuk bekerja sama.


“Jadi kemampuan seorang pemimpin itu bukan kemampuan menjawab. Ada masalah, saya punya jawabannya. Bukan itu kualitas pemimpin. Kemampuan pemimpin itu adalah definisikan masalah, melihat hubungan antara masalah, lalu kemudian mengajak orang yang relevan bekerja sama dan menyelesaikan masalah,” pungkas  Wamen Nurkholisoh.


Kepemimpinan Membawa Perubahan


Perubahan teknologi, termasuk kecerdasan artifisial (AI) dan otomasi, menjadi salah satu tantangan yang perlu diantisipasi generasi muda. Wamenkeu menyebut sekitar 39% keterampilan atau kompetensi pekerja akan berubah pada 2025-2030, sehingga mahasiswa perlu terus mengembangkan kemampuan agar tetap relevan.


Selain AI dan otomasi, Wamenkeu menyebut perubahan demografi, krisis iklim, dan persaingan global yang semakin intens sebagai gelombang perubahan yang akan dihadapi generasi muda. Kondisi tersebut membutuhkan kemampuan berpikir analitis, tangguh dan adaptif, kemampuan memengaruhi serta mengembangkan talenta, hingga pemahaman mengenai keamanan siber dan keberlanjutan.


“Yang ingin saya tekankan adalah semangatnya, continuous learning. Jadi bagi saya belajar itu tidak pernah selesai. Jabatan bisa berganti, tapi cara kita melalui belajar itulah yang bisa membuat kita survive, membuat kita akan selalu relevan. Saya mungkin nanti diganti lagi pekerjaannya, dan saya tidak takut karena saya bisa belajar,” kata Wamen Nurkholisoh.


Dalam membangun kepemimpinan, Wamenkeu mengibaratkan sepak bola sebagai contoh shared leadership atau kepemimpinan bersama. Kemenangan tidak lahir dari satu pemain sebagai pahlawan, tetapi dari pembagian peran, kepercayaan, dan keberanian setiap anggota mengambil tanggung jawab pada saat dibutuhkan.


“Leadership itu bukan tentang pahlawan ada satu orang, tapi bagaimana setiap orang itu menjadi pahlawan pada perannya masing-masing,” ujar Wamen Nurkholisoh.


Wamenkeu juga mengingatkan bahwa kepemimpinan membutuhkan kepercayaan, empati, dan kolaborasi. Empati perlu disertai kemampuan berpikir kritis agar niat baik tidak keliru dalam membaca persoalan, sementara kemampuan analisis perlu dibangun bersama kepercayaan agar dapat diterjemahkan menjadi tindakan.


Kepemimpinan tidak berhenti ketika sebuah program selesai dilaksanakan. Menurut Wamenkeu, keberhasilan perlu dilihat dari perubahan yang muncul setelah program berjalan, termasuk dengan mengukur manfaat yang dirasakan penerima program dalam jangka waktu tertentu.


Menutup pembekalan, Wamenkeu mengajak mahasiswa mengambil satu persoalan yang dekat dengan lingkungan mereka, mendengarkan masyarakat yang terdampak, membentuk tim, mencari solusi, dan mengukur hasilnya. Langkah tersebut menjadi upaya untuk mengubah data dan pemahaman terhadap persoalan menjadi tindakan yang menghasilkan manfaat.


“Kepemimpinan itu adalah ketika ada orang lain mendapatkan manfaat. Saya ingin teman-teman pulang dari forum ini, pilih satu persoalan, dengarkan orang yang punya masalah terdampak tadi, bentuk tim, coba cari solusi, coba ukur hasilnya apakah ada yang berubah, baru kemudian bolehlah kita agak mengaku sebagai pemimpin,”  amanat Wamen Nurkholisoh untuk mendukung aksi nyata peserta.


Pesan tersebut menjadi bagian dari pembekalan bagi para penggerak organisasi mahasiswa dari berbagai daerah yang mengikuti FLS 2026. Melalui ruang pertemuan dan pembelajaran ini, diharapkan visi “Diktisiantek Berdampak” dapat mendorong mahasiswa untuk menggunakan pengalaman berorganisasi sebagai bekal mengasah kepemimpinan, membangun kolaborasi, dan menghadirkan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat untuk menjunjung Indonesia Emas 2045.


Humas

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi


#DiktisaintekBerdampak

#Pentingsaintek

#Kampusberdampak


/

5

Rate Now